Catatan, Cerpenku

Kau, berjanjilah untuk bisa

Kau, apa yang salah padamu ?

Apa kau kurang berusaha ?

Kau,  kau ingin seperti mereka ?

Membuatmu  dihargai

Membuatmu disegani atas prestasimu

Kau, mengapa kau tak bisa ?

Sebegitu bodohnyakah dirimu ?

Jika saja kau bisa memilih

Tentu kau akan memilih seperti mereka

Namun  sadarlah, ini bukan hanya sekedar pilihan

Kau ingin ? Maka berusahalah

Berjanjilah kepadaku, pada dirimu

Kau memang tak seperti mereka, tak sehebat mereka

Berjanjilah, kau akan membuatmu bangga

Dengan kelebihanmu

Bukankah Tuhan memberikan kelebihan padamu?

Gunakan itu sebagai senjatamu

Untuk membuktikan diri

Bahwa kau bisa..

Tulisan itu, aku tak sengaja melihatnya, di halaman sebuah buku yang tergeletak di atas meja. Aku membacanya dengan teliti, meresapi satu demi satu kata dan mencoba menerka makna dalam puisi yang tak biasa itu. Aku sibuk membacanya, ketika tiba-tiba satu tangan menepuk pundakku.
“ Hai Ntan, ke kantin yuk..”, ajak temanku yang membuatku kaget. Seketika itu tanganku bergerak cepat menutup buku yang sejak tadi aku baca.

“Oh iya, ayo”, balasku. Aku pun langsung mengikuti temanku, berjalan menuju kantin.

Untuk beberapa lama, aku masih memikirkan tulisan itu. Aku jelas tau, siapa pemilik buku itu. Namun, aku masih belum bisa mengerti kenapa dia menuliskan itu. Dia temanku, teman sebangkuku. Aku mulai mengenalnya sejak satu tahun lalu, ketika  kami mengikuti MOPDB di SMA. Aku semakin mengenalnya ketika kami disatukan dalam kelas yang sama di kelas X-10. Saat itu dia satu-satunya orang yang paling aku kenal, begitu juga aku baginya. Itulah yang membuat kami memutuskan untuk menjadi teman baik. Walaaupun saat itu kami tidak duduk sebangku, namun aku lebih akrab dengannya dibandingkan siapapun.

Sudah sebulan sejak MOPDB berlalu, kami mulai mengikuti pelajaran seperti kebanyakan anak sekolah. Minggu-minggu pertama tidak ada masalah dalam kegiatan belajar di kelas. Namun itu tidak berjalan lama beberapa minggu selanjutnya kami harus mulai mengasah otak karena pelajaran mulai membutuhkan pemahaman yang baik. Bahkan beberapa guruku sudah mengadakan ulangan harian. Nilainya pun beragam, beberapa diantara kami mendapatkan nilai yang memuaskan, namun tak jarang diantara kami yang mendapatkan nilai kurang baik. Aku sangat bersyukur saat itu bisa bersama dengan beberapa temanku mendapatkan nilai yang memuaskan itu. Sedangkan temanku, mungkin dia kurang beruntung karena nilainya masih perlu diperbaiki. Dia memang sering mendapatkan nilai kurang.

Setelah itu, beberapa ulangan harian mulai sering datang dalam kehidupan kami. Dari hasil ulangan harian itulah pengelompokan mulai terjadi. Mungkin hal ini biasa terjadi dalam kehidupan anak sekolahan. Kelompok anak-anak yang dianggap pintar dan sedang. Beberapa anak mulai menjadi pusat perhatian di kelas, tak hanya oleh anak-anak lain di kelas juga oleh beberapa guru. Hal ini walaupun tidak disengaja terkadang bisa menimbulkan kondisi menjadi kurang enak. Tak jarang guru lebih memilih memperhatikan anak-anak yang pintar dibandingkan anak-anak yang sedang. Padahal anak-anak yang sedang itulah yang sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih. Sedangkan anak-anak yang pintar, sebenarnya mereka bisa mandiri. Namun sayangnya jarang diantara guru kami yang berpikir seperti itu.

Aku masih saja memikirkan tentang tulisan yang aku baca tadi bahkan ketika aku dan teman-temanku sudah berada di kantin. Ketika temanku larut dalam candaan, aku memilih untuk diam. Aku mulai memikirkan dimana Lisa berada. Banyak pertanyaan yang ada dalam pikiranku, mulai dari apakah Lisa marah aku membaca bukunya itu? Lalu apa yang dia lakukan jika tau aku telah membaca catatan pentingnya? Aku benar-benar merasa bersalah kepadanya. Memang, sejak kami kelas XI , kami mulai jauh. Kami masih sekelas, sama seperti saat kelas X namun dia tak lagi menjadi teman akrabku. Dia memilih bermain dengan teman-teman yang lain. Baginya aku dan dia berbeda. Dia lebih sering bersama teman-teman yang menurutnya merupakan anak-anak yang berotak sedang. Sedangkan aku bersama anak-anak yang lebih beruntung daripada mereka, itu yang pernah dia katakan kepadaku. Inilah salah satu hal yang membuatku begitu tidak menyukai pengelompokan yang tidak berdasar itu.

Aku dan teman-temanku kembali setelah kami menghabiskan makan siang kami. Aku duduk di kursiku sendirian.

“Sendirian aja Ntan, aku duduk sini yah?”, sapa Lisa.

“Oh iya Lis, duduk aja.”, aku setengah kaget setengah tidak percaya. Setelah beberapa lama berada dalam kelas yang sama hanya beberapa kali dia menyapaku. Termasuk saat ini. Entah ini kali keberapa aku juga tidak menghitungnya yang pasti aku senang sahabatku kembali. Lisa mulai mengajakku mengobrol membicarakan hal-hal yang menarik tentunya. Dia memang tau apa yang aku suka dan yang tidak. Namun tawaku sedikit terhenti ketika Lisa memberikan rentetan pertanyaan yang membuatku diam seketika.

“Emm, kamu pernah ga ngrasain jadi orang yang agak susah ngerti perlajaran?”

“Kamu beruntung ga pernah ngrasainnya Ntan. Aku juga beruntung loh. Mungkin ga saat ini, ga di tempat ini, karena mungkin keberuntunganku emang ga ada di sini. Tapi di masa depan aku pasti dapetin keberuntungan itu. Aku pasti bisa.”

“Hehe”

Kalimat Lisa begitu dalam. Mungkin dia tahu aku telah membaca catatan pentingnya. Dia tidak marah, sama sekali tidak marah. Malah dia memberikan penjelasan bagiku. Sangat jelas. Mungkin benar, aku saat ini tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan.

Baiklah teman, jika kalian berada diantara teman kalian yang merasa seperti yang Lisa rasakan, atau kalian mempunyai teman yang menjadi perhatian guru, bukan karena pintar namun karena kekurangannya dibangdingkan kalian, perlu kalian tahu bahwa mereka seperti itu bukan karena mereka tidak berusaha. Aku percaya mereka pasti berusaha, semua orang pasti ingin mencapai hasil terbaik dalam hidupnya. Melakukan pembuktian diri bahwa dia bisa. Sedangkan bagi kalian yang diberikan anugerah diatas orang lain, maka bersyukurlah karena kalian tidak perlu merasakan seperti yang Lisa rasakan. Namun jangan berbesar hati dan memandang remeh orang lain. Semua orang pasti punya kelebihan masing-masing.

Orang sukses itu bukan hanya orang yang pintar. Semua orang bisa sukses, aku, Lisa, kalian, ataupun teman kalian. Tergantung usaha kita masing-masing. Seperti Lisa saat ini, aku melihatnya berusaha mati-matian mengerjakan soal fisika di depan setelah beberapa saat tadi guru fisikaku masuk dan menuliskan soal di papan tulis. Dan Lisa menjadi sasaran guruku hari ini.

“Kau beruntung Lis, bahkan bisa lebih beruntung dari siapapun. Semangat dan kerja kerasmu itu akan membawamu pada kesuksesan. Mungkin tidak disini, tidak saat ini, namun di masa depan, di tempat kau kelak berada. Kau pasti bisa.”

IM-K4

29/10/2012

7.07 PM Waktu Tana

Advertisements

12 thoughts on “Kau, berjanjilah untuk bisa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s