Catatan

Aku dan “pacarku”

Setelah beberapa hari ga buka twitter, siang ini aku iseng-iseng buka twitter, ada satu tweet yang sangat spesial. Tweet dari “pacarku”. Dia menuliskan “Tiba-tiba kangen sama @aku”. Tweet itu ditulisanya tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 April 2013. Sama sepertinya, akhir-akhir ini aku juga mendadak kangen padanya. Namun, aku belum sempat mengatakannya, kenapa? karena setiap haripun aku selalu bertukar kabar dengannya. Walaupun hanya lewat pesan singkat, namun itu rutinitas wajib yang harus aku dan dia lakukan. Sebuah janji yang harus selalu kami jaga dan sudah berlangsung sejak aku dan dia menjalani kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa. Sekarang aku dan dia berada di semester 6, berarti sudah selama kurang lebih 2,5 tahun aku dan dia berusaha untuk tetap mengirimkan pesan singkat setiap harinya diantara setumpuk tugas, kegiatan, dan kesibukan kami lainnya. Lucu memang, namun janji itu berhasil membuatku dan dia selalu merasa dekat walaupun kami jarang bertemu.

Hari ini dia berangkat ke Semarang, kembali ke dunia “sebenarnya”. begitulah istilah kami untuk menyebutkan dunia perkuliahan. Berbeda denganku yang tidak punya waktu yang jelas untuk pulang ke rumah, dia selalu mempunyai waktu untuk pulang ke rumah. Walaupun tidak selalu seminggu sekali dia pulang ke rumah, namun jika memang mendesak dan sangat merindukan rumah, sangat mudah baginya untuk pulang. Berbeda denganku yang sangat susah mencari waktu untuk pulang. Bayangkan saja lamanya satu kali perjalananku ke rumah sama halnya dengan 4 kali perjalanan dia. Aku bisa sekali pulang, sedangkan dia bisa empat kali pulang. Dia memang sering pulang, selain sebagai seorang anak tunggal yang selalu dirindukan orang tuanya, dia juga harus pulang untuk meminta uang saku kepada orang tuanya. #hmm, mungkin ini salah satu alasan dia untuk pulang 😀 benar juga alasan orang tuanya tidak memberikannya ATM, agar dia sering pulang. Haha. Sama seperti biasaya, hari ini aku mengirimkan sms kepadanya, berencana menemani perjalanannya ke Semarang karena hari ini dia berangkat ke Semarang sendirian. Dia pun membalas smsku dan menceritakan sesuatu hal. Dia memang seprti itu sering menceritakan tentang kehidupannya disana, begitu juga aku, sering menceritakan kehidupanku disini. Bahkan aku mengenal beberapa temannya di sana, walaupun aku hanya mengenal lewat ceritanya, begitupun dia mengenal teman-temanku disini lewat ceritaku. Kami memang selalu berbagi, dan dia teman berbagi yang sangat baik. Belum ada yang bisa menyamai dia dalam hidupku. Dia begitu spesial.

Bercerita tentangnya tak akan ada habisnya. Terlalu banyaaaaaak hal yang aku lalui bersama dia. Saat ini aku ingin bercerita tentangku dengannya, baiklah aku akan memulai ketika pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, di ruang kelas X-10 adalah saat pertama kali aku bertemu dengannya. Duduk di bangku no 3 deretan sebelah kiri, aku sebangku dengan teman yang juga baru aku kenal. Bersama teman-temanku lainnya kami sedang menunggu kakak kelas yang menjadi pemandu kelasku. Seorang anak perempuan masuk ke kelas, dia bisa dibilang orang terakhir yg masuk saat itu. Hanya satu bangku yang tersisa, yaitu bangku no 2 deretan paling kiri, bangku di depanku. Tanpa pikir panjang, dia langsung duduk disitu. Saat itu dia tak mempunyai teman sebangku, hal itu baru kami sadari setelah tahu bahwa jumlah anak dikelas kami ganjil yaitu 23, karena satu orang anak memutuskan resign dari SMA ku dan memilih SMA lainnya. Itulah awal aku menjadi dekat dengannya. Pertama karena bangku kami yang berdekatan, kedua karena absen kami yang berdekatan. Aku dan dia sama-sama mempunyai nama berawalan huruf “A”, dan aku dalam hal ini lebih beruntung daripada dia karena aku berhasil menduduki absen no 1, sedangkan dia absen no 2 :P. Absen yang berdekatan ini juga yang membuatku sering bersama dia, misalnya ketika ada tugas kelompok yang pembagian kelompoknya berdasarkan absen atau saat UTS maupun UAS, dia selalu menjadi teman berbagi yang baik. Oh ya, pernah sekali saat itu sedang ada tes dan kelas kami dipasangkan dengan kelas 3 imersi. Seperti yang kami tahu, kelas 3 imersi itu kelas spesial di SMA kami. Kelas itu berisi anak-anak kelas 3 yang pinter-pinter banget. Suatu keberuntungan bagi kami bisa sebangku dengan mereka, kami berharap mereka bisa membantu kami mengerjakan soal tes. haha. saat itu aku dan dia duduk depan belakang. Aku absen satu dan dia absen dua. Walaupun di depan, kami dengan lancarnya berbagi jawaban. Bagiku dia salah satu teman yang aku percaya untuk bertanya begitupun dia padaku. Saking “blak-blakan”nya aku dan dia bertukar jawaban, sampai-sampai kakak kelas kami cengong melihatnya, mungkin dalam hati mereka berkata “Nih anak blak-blakan banget tuker-tukeran jawabannya, ga ada kompetisi blas.” Sedangkan bagiku dengan dia, tak masalah walaupun nilai kami sama, asalkan aku dan dia bisa sama-sama dapat nilai bagus dan ga remed.

Berbagi jawaban hanya permulaan bagiku dan dia untuk berbagi hal lain yang lebih banyak. Seiring berjalannya waktu aku dan dia tak hanya berbagi jawaban, kami pun mulai berbagi kamar, berbagi lemari, berbagi meja, hanger, jemuran, ember, makanan, minuman, bahkan kami juga berbagi cucian untuk dicuci bersama. Dan yang lebih penting kami selalu berbagi cerita, entah itu cerita senang maupun sedih dari dulu sampai sekarang dan semoga sampai masa depan kami akan terus berbagi. #kecuali berbagi suami loh.. itu masing-masing.. haha#

Banyak kejadian lain yang selalu menjadi kenangan bagiku, saat aku dan dia pertama kalinya pindah ke kosan baru kami, saat itu dia sakit. Hari pertama tidur di kosan dan dia langsung homesick, sungguh keterlaluan. Dia demam. Untunglah demamnya cepat turun dan dia bisa kembali beraktivitas. Selain itu ada lagi yang ga terlupakan, saat-saat mencuci. Mungkin aku dan dia satu-satunya temen sekosan yang berbagi cucian. Jadi ketika akan mencuci aku dan dia mencampurkan baju kotorku dan baju kotornya ke dalam satu ember, dan kami pun mulai mencuci bersama. Hal itu kami lakukan karena kami sama-sama kurang berpengalaman dalam hal cuci mencuci, kami sebagai anak manja dan baru pertama kali kos, maka ini pertama kali pula kami harus mencuci baju kami sendiri. Pertama kali mencuci, setelah memasukkan semua bajuku dan bajunya ke dalam ember dan menambahkannya dengan detergen, serta air secukupnya, kami pun memulai ritual mencuci kami yang super gila. Iyaaa, kami menginjak-injak cucian di dalam ember itu. Karena akan sangat cape untuk menguceknya maka kamipun menginjak-injaknya sebelum menguceknya agar nodanya sedikit berkurang. Setelah itu kami pun mulai menguceknya, karena semua cucian dicampur jadi satu maka tak jarang aku mendapatkan bajunya dan dia mendapatkan bajuku. Setiap baju yang kami dapatkan akan diperlakukan sama walaupun itu bukan baju kami, sama-sama diucek dengan asal-asalan (maklumlah pemula) hehe. Ritual mencuci itu bertahan dari awal kami mulai ngekos sampai akhir kami selesai ngekos (lulus SMA). Saking spesialnya, dia yang jago gambar, mengabadikan momen itu dalam sebuah gambar. Ini dia gambarnya..

aidaintan

Oh ya, ada satu lagi hal yang tak terlupakan diawal-awal pertemuan kami. Aku menyebutnya “Les privat memakai dasi”. Di SMA, kami mempunyai seragam wajib yang terdiri dan kemeja putih, rok abu-abu panjang, ikat pinggang hitam, dan satu lagi dasi bertuliskan “Castra Jayecwara”, semboyan SMA kami. Saat itu aku termasuk salah satu orang cupu dalam hal memakai dasi. Karena dulu di SMP ku tidak ada aturan memakai dasi maka aku sama sekali belum berpengalaman memakai dasi. Hal ini tidak bisa aku biarkan dan aku harus belajar memakai dasi dengan tanganku sendiri. Akhirnya aku pun meminta les privat memakai dasi ke beberapa temanku di kelas tak terkecuali dia. Dari les itu aku pun mendapatkan cara yang berbeda-beda dalam memakai dasi walaupun hasilnya sama. Dari hasil les privat itu entah mengapa aku lebih cocok menggunakan cara yang diajarkannya dibandingkan cara yang diajarkan teman lainnya. Caranya memang sedikit rumit namun hasil dasi yang didapatkan sepadan dengan caranya, lebih rapi dan kelihatan keren. Ada juga loh gambarnya, cekidot..
259381_245001485516397_100000196422791_1146829_4626376_o
Di foto itu selain terlihat gambar dia mengajariku memakai dasi, juga terlihat saat aku dan dia memegang tas plastik berisi jajan. Iyaaa, kami sekelas memang punya kebiasaan jajan di kantin dan membawanya di kelas. Saking banyaknya jajan yang kami beli, kami sampai harus membawa tas palstik berisi jajan-jajan itu. Aku memang sering bersama dia, untuk jajan, ke perpus, bahkan ke toilet. Selalu bersama 🙂

Itulah sedikit cerita tentang perjalanan awalku dengan “pacarku”. Sejak pertama aku bertemu dia, sejak itulah dan sampai selamanya aku ingin selalu bisa bersama dengan dia. Berbagi cerita tentang kehidupan. Satu kalimat yang pernah dia ucapkan kepadaku “Kalau saja kamu cowok, udah aku jadiin pacar deh.” Saking dekatnya kami bahkan kami lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan sepupu2 kami. Dia bukan sebatas bayangan yang hanya ada di saat aku senang, namun dia selalu ada disaat aku senang maupun sedih. Dia orang yang bisa menyemangati aku disaat terpurukku beberapa tahun silam dengan dia datang dan menemaniku di rumahku. Aku hampir selalu merindukan dia. Dia yang sangat canggung untuk berkata “Maaf” ketika kami sedikit mengalami masalah sehingga dia memberiku sepotong silverqueen sebagai sogokan untuk memaafkannya. Dia yang menemaniku terjaga ketika lampu mati dan aku tidak bisa tidur. Dia yang rela berbagi bantal kepadaku karena aku tidak bisa tidur tanpa guling sehingga aku menjadikan bantalku guling. Dia yang rela berbagi selimut denganku. Dia yang selalu mengikuti kegilaanku dan paling mengerti aku. Dia yang selalu menemaniku makan es kerim ketika salah satu diantara kami kalah taruhan (walaupun taruhannya yang kalah harus beli es krim tapi tetep aja kami makan es kerim berdua, sembunyi di kamar kosan biar ga ada yang minta 😀 ). Dia yang selalu mengantrikan mandi untukku, dan dia yang tak segan menyetrika bajuku. Semuanyaa dari dia aku menyukainya. Dia bukan hanya sekedar sahabat, dia lebih dari itu. Dia berbagi suka dan duka bersamaku, menjalani masa-masa sulit dan senang kami bersama. Dia orang yang sangaaaaat berarti bagiku, orang yang selalu aku percaya, dia tak ada duanya, dia Aida, dan aku memanggilnya ww (panggilan sayang untuknya)..
Penasaran ingin lihat wajahnya? Ini dia yang lagi-lagi foto hasil editannya yang dia berikan kepadaku..

Aku dan "pacarku"
Intan dan Aida 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Aku dan “pacarku””

  1. Totwitt… Sumpah sampe terharu aku. Dadi seolah2 flashback nek jaman2 mbien, cik. Jaman pas dewe disurati Shinta: surat TEROR. Dan sebenere aku loro mbien ora pekoro homesick, terae wae meh loro. Ahahaha *pembelaan* 😀
    Dan nek paragraf terakhir, koq ndungune aku mesakke bgt sih. Nyetrikakke, ngantrikke mandi. Jahhh… *gaji mana gaji*
    Tapi, soswit banget. Aku dd merasa sepesial sangat. Dan aku nembe sadar nek aku ternyata APIKAN bgt. Ckckck.
    Tapi, sing moco dd mikire aku homo… -_________-
    Untuk para cowok, jangan salah paham, saya TIDAK homo, pemirsahhh… 😀

    Terima kasih, kawan. Kau juga akan selalu menjadi yang TERSPESIAL…

    ww

  2. ga homo, lesbong kali cik. haha 😀
    makane cepet dong cari pasangan 🙂
    Sebenere paragraf terakhir aku arep nuliske aku juga seperti itu sih, cuma ben ketoke ue apikan bgt ddi gpp lah ue tok ae.. haha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s