Catatan

Sabtu – Bebek Kaleyo

Sabtu, hari yang sangat aku tunggu-tunggu untuk mengistirahatkan diri sejenak dari setumpuk tugas dan kegiatan kampus. Kalau dulu setiap sabtu bener-bener free tanpa kegiatan kampus sekarang jarang-jarang sabtu bisa free karena ada tes masuk kerja di perusahaan-perusahaan. Mumpung lagi free, sabtu kali ini aku memutuskan untuk pergi ke Bekasi bersama dengan seseorang bernama Buncit. Sebenernya ga ada rencana khusus kami ke Bekasi sedikit alasan yang membuat kami memutuskan untuk pergi ke Bekasi adalah untuk membeli bebek kaleyo yang tersohor itu dan mengganti sim car X* milik temanku yang tiba-tiba rusak. Menurut salah satu temanku, ada gerai X* di MM (Mall Metropolitan) Bekasi. Jadi rencana sabtu ini adalah beli Bebek Kaleyo dan nuker sim card X*.

Kami berangkat jam setengah 12 siang. Bukan tanpa alasan kami memilih untuk berangkat jam segitu mengingat cuaca yang sedang panas-panasnya, tak mungkin aku seiseng itu untuk berangkat di siang bolong di bawah terik matahari yang begitu menyengat. Satu-satunya asalan yang membuat kami berangkat jam segitu adalah keterlambatan Buncit, seperti biasa dia sering terlambat untuk menjemputku, rencananya jam 11 bisa ngaret sampai jam setengah 12. Sering juga aku sebel sama Buncit karena keterlambatannya itu, namun kali ini aku tidak sebel padanya mungkin karena sudah terbiasa. Buncit pun membela diri dengan berkata bahwa dia ketiduran sehingga telat mandi dan lain sebagainya. Aku hanya menjawab singkat “Iya” dan memintanya untuk segera meluncurkan motor menuju Bekasi.

Sampai di Bekasi, cuaca tak jauh beda dengan di Jakarta, sama-sama panas. Sekitar satu jam menempuh perjalanan yang macet dengan cuaca yang panas berhasil membuat tubuhku sedikit lemas karena dehidrasi. Tempat singgah pertama kami yaitu masjid. Sebuah bangunan masjid besar dengan lapangan luas menjadi tempat kami sholat dhuhur. Akupun mengambil air wudhu dan membasuhnya ke wajahku, hawa segar sedikit terasa dari basuhan air wudhu itu. Aku berjalan menuju tempat shoat khusus wanita, di sana ada 3 orang ibu-ibu. Dua ibu-ibu sedang membaca Al Quran dan satu ibu-ibu sholat disampingku. Aku selesai sholat, melipat mukena hijauku dan merapikan kerudung. Sedangkan ibu-ibu yang tadi sholat disampingku, masih saja sholat, beliau sholat sunnah juga, setelah itu beliau berdiri, mengambil Al Quran dan membacanya. Aku terharu melihatnya. Jarang-jarang aku melihat sekelompok ibu-ibu yang tadarus Al Quran di masjid pada waktu dhuhur, jangankan tadarus, untuk mengikuti sholat di masjid pas dhuhur aja jarang. Aku keluar masjid, terlihat Buncit sudah menungguku di depan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Bebek Kaleyo, tempat singgah kedua. Udah lumayan lama aku dan Buncit pengen makan bebek kaleyo, tepatnya Buncit yang ngajakin aku makan bebek kaleyo, kata Buncit sih enak (padahal Buncit juga belum pernah makan). Pas aku tanya darimana dia tau padahal dia belum pernah makan, kata Buncit dia tau dari cerita temen. ckckck.. Aku dan Buncit udah di jalan menuju bebek kaleyo, tadi sempet lewat juga pas kami mau sholat di masjid. Tempatnya rame banget. Banyak mobil dan motor berjejer di depannya. Aku sempet ragu tuh mau kesana. Pertama, aku sebenernya lagi pengen mengurangi makan daging (udah bosen, karena makan siang hampir setiap hari makan daging), kedua ramai banget dan aku belum tau gimana cara pesennya, jadi pasti keliatan newbie banget deh, begitu juga Buncit. Tapi semua itu tak menjadi halangan aku dan Buncit untuk makan bebek kaleyo, dengan segenap kekuatan dan rasa percaya diri ( yang penting dompet ada uang cukup ) aku dan Buncit pun masuk ke tempat bebek kaleyo itu.

Pertama kali masuk. Ada mas-mas karyawan yang menawari kami unuk duduk di luar apa di dalam, karena kami juga tidak tahu mana yang dimaksud luar dan dalam akhirnya kami memilih duduk di dalam. Mas-mas itu pun mengantarkan kami, di depan kami ada tempat cuci tangan sedangkan samping kami pemandangan halaman bebek kaleyo.ย  Mas-mas itupun memberikan daftar makanan yang bisa kami pesan. Yang pertama kami lihat adalah kata “Bebek” dan yang kedua “Harga”. Setelah sempat melihat-lihat dan meneliti semua daftar makanan di sana, akhirnya kami menyerah karena tidak ada yang harganya murah. Akhirnya kami pun memesan 2 bebek goreng, 2 nasi putih, 1 jus jeruk dan 1 jus strawberry. Pesanan yang simpel. Tak lama setelah itu mbak-mbak karyawan datang memberikan list menu yang kami pesan dan menempelkannya di meja kami. Beberapa menit kemudian, giliran mas-mas yang datang mengantarkan pesanan kami. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan seporsi bebek muda kaleyo itu, bebek goreng kremes+nasi putih+lalapan+jus+sambel yang pedesnya pake banget itu hanya bertahan beberapa menit di meja sebelum semuanya masuk ke perut kami. Semua makanan sudah habis, dan Buncit pun bertanya kepadaku “Kamu kenyang ga?”. Walaupun aku tak tahu maksud dibalik pertanyaannya itu, akupun menjawab “Kenyang. Kalo kamu?” Dia pun menjawab “kenyang banget”. Aku sedikit tidak percaya mendengar jawaban Buncit. Salah satu alasan aku memanggilnya Buncit karena dia suka makan, jadi pasti dia masih kurang kenyang deh makan bebek tadi. Iyya kan Ciit? Jujur deh ๐Ÿ˜›

Seprosi bebek kaleyo - with Buncit :)
Seprosi bebek kaleyo – with Buncit ๐Ÿ™‚

Selesai makan, aku dan Buncit tidak langsung meninggalkan meja kami. Ada satu hal yang harus kami pastikan sebelum pergi, yaitu cara membayar. Umumnya sih cara bayarnya jelas setelah makan kita bayar di kasir, tapi entah kenapa saat itu aku dan Buncit sedikit bingung. Jroji lebih tepatnya.ย  Meja belakang dan samping kami menunjukkan tanda-tanda selesai makan. Orang-orang di meja samping kami langsung saja meinggalkan tempat. Mungkin mereka menuju kasir. Namun kami tak langsung mengikuti, memilih untuk menunggu meja belakang kami. Dua orangย  mba-mba duduk di meja belakang kami. Aku dengan hati-hati mengintai setiap gerak gerik mba-mba itu. Setelah mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, salah satu mba-mba itu berdiri dan bertanya kepada mas-mas karyawan “Bayarnya di kasir yah?”. Mas-mas itupun menjawab “Iya”. Dalam hatiku “Oalah, ternyata mbanya juga newbie toh, sama kaya aku berarti. ternyata ada temennya juga”. Aku pun memberitahu kepada Buncit bahwa bayarnya di kasir. Namun Buncit tetep aja enggan beranjak. Dan akhirnya dia pun menguatkan bahwa kami benar-benar newbie dengan bertanya hal yang sama ke mas-mas karyawan seperti yang mba-mba tadi tanyakan. Dan jawaban mas-masnya pun sama. Aku tepok jidat “Plaaak”, Buncit ga ada cool2nya emang. ckck harusnya sok-sokan pengalaman makan disini kek yah, biar keren gitu. Tapi tak apalah yang penting bisa cepet bayar.

Kami pun berjalan menuju kasir, seperti biasa aku dan Buncit “eyel-eyelan” menyuruh salah satu diantara kami untuk membayar. Hal yang sangat kekanak-kanakan memang dan itu berlangsung cukup lama dalam keseharian kami. Akhirnya Buncit mengalah, aku menemaninya membayar. Buncit mengeluarkan uang sesuai jumlah harga makanan kami. Harganya lumayan lah, lumayan menguras habis kantong dompet Buncit. Haha. Ada sedikit yang menggelitik, setelah mba-mba petugas kasir memberikan uang kembalian kepada Buncit lengkap dengan struk pembayaran, ada satu kalimat yang membuat menggelitik kami. Kalimat itu letaknya di paling bawah struk pembelian, tepatnya di bawah total harga yang harus kami bayar, kalimatnya berbunyi “Murah kan?”. Aku dan Buncit, “Iya murah kok”. wkwkwk ๐Ÿ˜›

Sabtu, 13 April 2013

Jalan-jalan ke Bekasi bersama Buncit ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Sabtu – Bebek Kaleyo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s