Cerpenku

Hati yang singgah

Aku masih saja di rumah, enggan beranjak dari tempat tidurku. Hari ini aku merasa sangat tidak enak, tak seperti yang aku harapkan. Semua rencana indahku gagal total. Harusnya sekarang aku sedang asyik bermain di dufan bersamanya. Namun, itu hanya sebatas rencana. Rencana gagal yang tak sepatutnya aku ingat lagi. Sekarang semuanya berbeda. Aku tahu aku harus menerimanya dan kembali menata hatiku yang sejak lima bulan lalu menjadi tak karuan.

Aku bersahabat baik dengannya sejak dulu, sekarangpun kami masih bersahabat. Dia menganggapku seperti itu. Aku pun harus mulai mencoba menganggapnya sahabat. Walaupun banyak orang yang tidak mengerti persahabatan kami. Bagusnya aku tak pernah mempedulikan orang lain. Bagiku yang terpenting adalah aku merasa senang dan nyaman bersamanya.

Dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengenalnya. Dia menjadi sosok teman baru yang menyenangkan diantara teman-teman baru lainnya yang masih asing bagiku. Dia menawarkanku sebuah persabatan. Aku dengan senang hati menyambutnya karena saat itu pun aku merasa ada yang berbeda darinya. Sambutan itulah yang menandai awal persahabatan kami. “Akan menjadi persahabatan yang indah.” Itu harapanku saat itu tanpa berpikir semua ini justru akan berbalik.

Kami mulai sering bersama, sesekali bercanda dan mengobrol. Saat itu begitu menyenangkan. Mungkin kami terlihat sangat berlebihan karena hampir setiap saat dimana ada aku disitu ada dia. Namun saat itu aku sama sekali tak mengaggap apa yang dipikirkan orang tentang kami. Ya, teman-temanku pun tak terlalu ingin tahu urusan kami. Jadi tak masalah jika aku sering bersamanya. Toh dia sahabatku. Jika ada waktu, dia sering menghampiriku. Dia pun mulai bercerita tentang dirinya. Aku pun begitu, mulai berbagi cerita dengannya. Cerita-cerita itu membuatku lebih mengenalnya, selain itu juga membuatku tahu satu hal yang mengejutkanku. “Zhyta”, nama itu yang paling menarik perhatianku dari semua cerita yang pernah dia bagikan kepadaku. Nama itu pula yang mungkin akan menyita sebagian memori otakku untuk selalu mengingatnya. Zhyta, Zhyta, dan Zhyta. Sejak saat itu namanya selalu membayangiku.

Dari ceritanya, aku tahu saat ini hubungannya dengan Zhyta sedang tidak baik. Baginya, keputusan Zhyta untuk melanjutkan kuliah ke Bogor membuat hatinya sedih. Semua cara sudah dia lakukan untuk membujuk Zhyta agar tetap di Bandung bersamanya. Namun semua itu sama sekali tidak bisa menggoyahkan keinginan Zhyta menimba ilmu di universitas idamannya. Zhyta tetap kekeh dengan pendiriannya. Itu membuat dia tidak bisa melakukan apapun selain dengan ikhlas menerima keputusan Zhyta. Dia meyakinkan hati bahwa dia akan tetap bisa menjaga hubungannya dengan Zhyta walaupun saat ini jarak memisahkan mereka. Awalnya dia merasa semuanya sangat berat, kepergian Zhyta sedikit demi sedikit mulai mengubah hidupnya. Jika dulu hampir setiap hari dia bersama Zhyta, sekarang dia harus menunggu beberapa waktu untuk bisa bertemu Zhyta. Itupun jika Zhyta tidak menunda jadwal pulangnya ke Bandung atau ketika dia sudah teramat rindu dan memutuskan mengunjungi Zhyta ke Bogor.

Aku selalu mendengarkan apapun yang dia ceritakan. Termasuk ceritanya tentang Zhyta. Seringnya aku mendengar nama Zhyta disebutnya, membuatku tahu bahwa ada sesuatu yang aku rasakan dalam hatiku. Aku masih belum bisa mendefinisikan sesuatu seperti apa yang aku rasakan. Hanya saja aku merasa sedikit tidak enak ketika dia selalu membahas Zhyta. Walaupun aku tahu, aku tidak akan mengatakan itu kepadanya. Itulah yang membuatku memilih untuk diam mendengarkan ceritanya.

Persahabatan bagi kami adalah sebuah keterbukaan dan kebersamaan. Berarti tidak boleh ada rahasia apapun diantara kami, itu yang dia katakan kepadaku. Bagiku dia sahabat yang menyenangkan, dia selalu bisa membuatku senang atas perhatiannya kepadaku. Sedangkan baginya aku adalah sahabat yang membuatnya nyaman dengan kedewasaan dan keceriaanku. Aku memang selalu bersikap ceria dan sedikit dewasa kepadanya. Hal itu aku lakukan untuk membuatnya tak berlama-lama larut dalam kesedihan. Selain itu juga untuk menutupi sesuatu yang semakin terasa di hatiku.

Hari itu aku terpaksa membuatnya melihatku sebagai sosok yang berbeda. Sudah beberapa kali aku mengirimkan pesan singkat namun tak satupun dari pesanku dibalasnya. Beberapa hari yang lalu aku sempat membaca pesan singkat di handphonenya, dari situlah aku tahu ternyata dia masih berhubungan dengan Zhyta. Aku tak tahu mengapa aku merasa tidak enak setelah membaca isi pesan singkatnya itu. Aku mulai bingung atas sesuatu dalam hatiku itu. Aku terus saja memandangi handphoneku, menunggu balasan pesan singkat darinya. Pesan yang tak kunjung datang itu membuatku mulai memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi. Perasaanku mulai tidak enak. Ada yang ingin aku sampaikan kepadanya sedangkan dia tak mempedulikanku. Akhirnya saat itupun aku memutuskan untuk menelponnya. Hanya beberapa detik yang aku butuhkan untuk mengakhiri teleponku itu karena aku tahu ada orang lain yang sedang bersamanya. Dia sedang bersama Zhyta, itu kata hatiku. Walapun aku hanya menebak namun aku yakin tebakanku benar. Hanya Zhyta yang bisa membuatnya tidak membalas sms maupun menanggapi teleponku.

Keesokan harinya, sudah aku putuskan untuk tidak mendatangi mejanya seperti yang kadang aku lakukan dan aku juga tidak akan berharap dia mendatangi mejaku seperti yang biasanya dia lakukan. Sebagai gantinya, aku akan menghabiskan waktu dengan teman-temanku yang lain tanpa sedikitpun mempedulikannya. Itu aku lakukan sebagai bentuk protesku kepadanya atas kejadian kemarin. Protes seorang sahabat, begitu aku menyebutnya. Aku sedang duduk sendirian di kursiku. Rencanaku untuk bermain dengan teman-teman mendadak urung aku lakukan. Aku sempat terkejut, setengah hatiku merasakan senang dan setengah yang lain merasakan lega ketika melihatnya menghampiriku. Dia seperti biasa membuka percakapan diantara kami dengan candaan yang membuatku seketika melupakan kejadian kemarin. Dia dengan perhatiannya kembali membuatku merasa nyaman bersamanya.

Aku merasa semakin dekat dengannya. Begitu juga teman-teman yang mulai merasakan kedekatan diantara kami berdua. Beberapa diantara mereka yang juga teman dekatku sering mengingatkanku akan keberadaan Zhyta diantara kami. Aku tahu dengan jelas tentang itu namun saat itu aku sama sekali tidak mempedulikannya. Aku hanya bersahabat dengannya dan dia masih tetap bersama dengan Zhyta, jadi tidak ada yang salah atas kedekatanku dengannya. Sampai suatu hari ketika dia datang kepadaku dengan tidak biasa. Dia yang biasanya selalu memberiku candaan kali ini datang dengan muka kusut. Tanpa banyak bertanya, aku tahu bahwa keputusan besar telah diambil olehnya. Keputusan untuk berpisah dengan Zhyta. Mungkin dia memang sudah tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan Zhyta dan mungkin ini keputusan terbaik untuk mereka berdua mungkin juga keputusan terbaik untukku karena tak lama setelah itu aku dan dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi sahabat. Tidak menjadi sahabat dan tidak menjadi pengganti Zhyta itulah aku saat itu. Aku tidak ingin hanya menjadi seorang pengganti karena aku akan menjadi seseorang yang lebih baik untuknya. Aku akan selalu membuatnya senang dan mulai sekarang kami akan selalu bersama.

Hari-hari aku lalui dengan menyenangkan bersamanya. Aku sekarang tidak perlu susah payah naik busway untuk pergi ke kampus karena dia dengan siap menjemput dan mengantarkanku kemanapun aku ingin pergi. Kehadirannya membuat hari-hariku semakin berwarna. Setiap waktuku dipenuhi dengan dia. Jadwal kuliah yang padat dari pagi sampe sore, atau bahkan malam tak masalah bagi kami karena kami satu kelas dalam kuliah. Bahkan dengan kondisi seperti itu aku menjadi tenang, begitupun orang tuaku karena selalu ada yang menjagaku sepanjang hari. Aku tahu telah memberikan sesuatu yang tidak dia dapatkan dari Zhyta, yaitu kebersamaan. Aku yakin kebersamaan ini akan membuat dia dan aku bahagia.

Mulai hari itu sampai sekitar dua tahun ke depan merupakan saat-saat terindah dalam hubungan kami. Namun semuanya seakan berubah sejak beberapa bulan terakhir. Sesorang yang dulunya telah menjauh darinya dan memberikanku kesempatan untuk bersama dengannya, sekarang kembali ke kehidupan kami. Zhyta datang memasuki kehidupan kami. Kalau dulu aku yang datang sebagai sahabatnya sekarang Zhyta lah yang datang sebagai seorang sahabat untuknya. Walaupun aku tahu ada alasan yang membuatnya dan Zhyta mengakhiri hubungan mereka namun aku tahu bahwa alasan itu tak membuat mereka saling membenci. Zhyta datang dan membuatku merasa posisiku terancam. Aku takut Zhyta mengambil dia dariku. Kini aku baru mengerti perasaan Zhyta saat  itu, saat aku datang dalam kehidupan mereka, dua tahun silam.

Zhyta dan dia kembali menjalin komunikasi. Walaupun dia tidak pernah menceritakannya kepadaku namun aku tahu bahwa dia dan Zhyta kembali berteman. Aku sangat terganggu. Aku semakin merasa Zhyta akan membalasku dengan mengambilnya dariku. Aku yang biasanya dewasa dan ceria seketika berubah. Aku menjadi sering curiga kepadanya. Hal-hal sepele bisa menjadi besar olehku dan itu membuat kami semakin sering bertengkar. Tak jarang aku dengan tegas marah kepadanya dan menyuruhnya untuk menjauh dari Zhyta. Sedangkan dia hanya mengiyakan namun sama sekali tidak pernah dia menjauh dari Zhyta. Menurutnya dia dan Zhyta hanya berteman. Aku semakin geram ketika tahu bahwa orang tuanya ternyata sering menanyakan Zhyta kepadanya. Orang tuanya jelas lebih menyukai Zhyta daripada aku, itu terlihat dengan sikap mereka ketika aku berkunjung ke rumahnya. Aku  memakluminya, mungkin hubungannya dengan Zhyta yang sudah berlangsung empat tahun membuat orang tuanya sudah terbiasa dengan Zhyta.

Hari itu pertengkaran hebat tak bisa kami hindari. Aku marah kepadanya ketika tahu bahwa beberapa hari yang lalu dia mengajak Zhyta ke rumahnya. Dia mengatakan bahwa orang tuanya yang megundang Zhyta ke rumah. Menurutku tak bisakah dia menolak dan menjelaskan apapun yang penting Zhyta tidak datang ke rumahnya, bukan malah mengajak Zhyta ke rumahnya dan tidak menghargai perasaanku. Aku sudah tidak bisa bersabar. Mungkin mulai saat itu dia melihatku sedikit berbeda dengan aku yang selama ini dia kenal. Mungkin juga dia mulai tidak suka dengan semua sifatku belakangan ini.

Beberapa kali kami sempat putus dan beberapa hari kemudian kami memutuskan untuk baikan lagi. Aku memang marah tapi aku tak bisa kehilangan dia. Sebisa mungkin aku mempertahankan hubungan ini. Seringkali aku menangis di depannya mengatakan perasaanku yang tak nyaman sejak kedatangan Zhyta. Dia dengan sabarnya menjelaskan dan mencoba meyakinkanku bahwa dia menyanyangiku sedangkan Zhyta hanya teman baginya. Itu membuatku sedikit tenang sehingga kami bisa memulai kembali hubungan kami. Dia kemudian mengajakku berlibur ke dufan akhir minggu ini.

Hari ini aku kembali bertengkar dengannya dengan sebab yang sama yaitu Zhyta. Sosok Zhyta yang selalu membayangiku berhasil membuatku mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya bukan suatu masalah besar. Sedangkan dia, jika dia mau menurutiku untuk sama sekali tidak menjalin hubungan dengan Zhyta, apapun  itu tak terkecuali pertemanan mungkin juga masalah ini tidak akan datang. Namun antara aku dan dia sama-sama tidak bisa melakukannya. Kami pun bertengkar. Mungkin ini pertengkaran terakhir bagi kami. Tak hanya membuat kami gagal untuk berlibur di dufan, pertengkaran ini juga membuat kami harus melakukan instrospeksi dan mulai memikirkan nasib hubungan kami. Kami memutuskan untuk tidak saling bertemu beberapa waktu.

Pertemuan setelah pertengkaran itu menjadi pertemuan terakhir kami dengan status kami saat ini. Setelah itu kami sama-sama memutuskan untuk berpisah. Aku tahu aku masih sangat menyanyanginya namun aku akan semakin merasa tersiksa jika aku terus memaksakan bersamanya karena bayang-bayang Zhyta selalu datang kepadaku.  Aku seperti itu bukan tanpa alasan. Alasan kuat yang mendorongku untuk memilih menjauh darinya karena aku merasa dia dan Zhyta masih saling menyukai. Aku sadar posisiku saat itu hanya sebagai “tempat singgahnya”. Ketika dia merasakan permasalahan dengan Zhyta dan dia menemukanku yang bisa membuatnya nyaman maka dia datang kepadaku. Aku yang saat itu juga merasakan nyaman bersamanya pun menyambut kedatangannya tanpa memikirkan perasaan Zhyta. Aku hanya memikirkan perasaanku dan aku tahu bahwa itulah kesalahanku. Aku seharusnya mendukungnya untuk tetap mempertahankan Zhyta, itulah yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang sahabat namun tidak aku lakukan.

Setelah berpisah denganku, aku tahu bahwa cepat atau lambat dia akan kembali bersama Zhyta. Mereka masih saling menyayangi dan orang tua meraka sudah saling mendukung hubungan mereka. Jika kemarin posisiku sebagai pengahalang mereka, sekarang setelah aku berpisah dengan dia maka tak ada alasan lain untuk mereka tidak bersama. Dia akan bahagia bersama Zhyta. Dia telah dengan benar menjemput kebahagiaannya bersama Zhyta.

Aku mulai hidup dengan dunia baru, duniaku tanpa dia. Sekarang aku tidak akan terlarut dalam kesedihan yang aku buat sendiri. Dibandingkan membuat kesedihan, aku lebih memilih untuk membuat kebahagiaan. Aku akan menciptakan kebahagiaanku, kali ini bukan bersamanya namun bersama seseorang lain yang kelak akan menemaniku. Aku berjanji ketika seseorang itu datang kepadaku aku tak akan menjadikannya “tempat singgahku”, namun aku akan dengan tulus menyanyanginya. Aku harap ketika seseorang itu datang kepadaku, kehadirannya akan mengubah segalanya dan membuat hidupku lebih indah. Aku saat ini dalam penantian cinta yang baru.

Diselesaikan  tanggal 2 Juni 2013

5.04 PM Waktu Tana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s