Cerpenku

Cinta ~ Part 3

Seperti biasa, walaupun aku mencoba bangun lebih pagi namun ibu selalu bangun lebih awal dariku. Saat aku bangun, ibu sudah ada di dapur, sedang memasak sarapan untuk kami. Aku bergegas mengambil sapu yang digantungkan di dekat pintu dapur kemudian mulai menyapu rumah. Sejak lantai rumahku beralaskan tegel, aku lebih muda menyapu dibandingkan saat masih beralaskan tanah. Setengah jam kemudian aku selesai membersihkan rumah. Setelah ini kami akan sarapan bersama. Mungkin saat inilah saat yang tepat untukku membicarakan tentang kang Riyanto, saat bapak, ibu, dan aku berkumpul.

Belum aku memulai pembicaraan, ibu sudah membuka pagi itu dengan topik pernikahanku. Ibu meminta ijin kepada bapak untuk mulai membuat makanan yang akan diberikan sebagai undangan ke tetangga dan kerabat-kerabat, kami biasa menyebutnya “uleman”. Selain itu, menurut ibu, kami juga harus mulai membuat jajanan kering yang nantinya akan dijadikan sebagai hidangan dalam acara pernikahanku. Sesuai adat desaku, pernikahan akan dilakukan di rumah mempelai wanita maka dari itu akan banyak tamu yang datang ke rumah kami.

Ibu sudah selesai menjelaskan tentang kegiatan seminggu ini yang akan dilakukan menjelang pernikahanku dan bapak sejak tadi hanya mengiyakan ibu walaupun sesekali sempat memberi masukan atas rencana ibu. Waktu yang tepat untukku berbicara. Aku merogoh saku dasterku, mencari amplop putih di dalamnya. Aku memegang amplop itu dengan tangan gemetaran. Aku  menyembunyikan tanganku di bawah meja.  Beberapa detik lagi aku akan menunjukkan amplop itu ke bapak dan ibu. Ya, aku harus menunjukkannya. Perlahan aku mulai menggerakkan tanganku, namun sebelum aku menunjukkannya, ibu menghentikanku.

“Nah, kau sudah selesai? Bantu ibu membereskan piring setelah itu segera ganti baju. Kita akan mencoba baju pengantinmu dan baju ibu. Calon mertuamu sudah menunggku kita”. Itu yang ibu katakan, sesaat kemudian ibu berdiri membawa tumpukan piring kotor ke dapur. Diikuti bapak yang kemudian berpamitan untuk pergi ke rumah tetangga membicaraan penyewaan tenda untuk pernikahanku. Tinggal aku di meja makan, sendirian dengan surat yang masih aku genggam erat. Kesempatan untuk aku mengatakan kepada bapak ibuku tidak bisa aku lakukan, aku gagal. “Maafkan aku kang Riyanto”, satu butir air mataku menetes.

Aku mengikuti ibu, berjalan menuju penjahit yang rumahnya tak begitu jauh dari rumah kami. Ibu kang Arif sudah sampai di sana sebelum kami. Ibu menyapanya, mereka mengobrol panjang, tentu saja membicarakan acara pernikahanku dengan kang Riyanto. Mereka tampak bahagia. Rasanya aku tak tega melihat kebahagiaan itu hilang dari wajah ibu. Namun aku juga akan merasa bersalah jika tidak menunjukkan surat ini kepada ibu. Setidaknya ibu harus tau bahwa kang Riyanto tidak pernah mencampakanku, seperti yang disangkakan selama ini.

Secara bergantian, aku, ibu, dan ibu kang Arif mencoba baju yang kami. Aku mencoba baju lebih banyak dari mereka. Selain baju dari ibu, aku mendapatkan dua baju baru dari ibu kang Arif. “Hari itu adalah hari istimewa untukmu dan Arif Nah, kalian juga harus istimewa, kau cantik memakai baju itu”, itu yang dikatakan ibu kang Arif ketika aku mencoba salah satu baju darinya. Selesai mencoba semua baju dan sedikit mengobrol, aku dan ibu berpamitan pulang, begitu juga ibu kang Arif.

“Ibu bahagia Nah, bahagia sekali. Akhirnya kau akan menikah juga. Sudah lama ibu menahan omongan tetangga yang tak enak tentangmu”, kata ibu mengawali pembicaraan.

“Inah juga bahagia jika ibu bahagia”.

“Tentu saja. Kau harus bersyukur Nah, Arif anak yang baik. Begitupun keluarganya. Mereka telah menerimamu dengan baik.”, kata ibu.

Aku hanya tersenyum mendengar kalimat terakhir dari ibu.  Saat makan malam, akhirnya aku memberanikan diri menunjukkan surat itu kepada bapak dan ibuku.  Aku ingin semuanya jelas, aku ingin bapak dan ibu tau alasan sebenarnya kang Riyanto tidak memberi kabar setaun belakangan. Ketika aku menunjukkannya, seperti yang aku duga. Tak satupun dari mereka yang menyambut surat itu sebaik sambutanku. Bahkan bapak langsung meninggalkan aku setelah aku menceritakan semuanya. Bagi bapak tak ada yang beda dengan atau tanpa surat itu. Tinggal aku yang menangis di kamarku ditemani ibu.

“Kau akan lebih memilih seorang laki-laki yang telah menolongmu dari laki-laki lain yang mencampakkanmu ataukah laki-laki yang dulu kau cintai namun dia meninggalkanmu dan sekarang dia kembali di hidupmu ?” Setidaknya pikirkan apa yang aku katakan kepadamu sebelum kau memutuskannya. Sungguh, aku tidak ingin kau menyesal anakku. Orang tua ini hanya ingin yang terbaik untukmu.

“Dia tidak mencampakkan Inah bu, dia pergi untuk masa depan kami”, kataku.

“Ibu percaya Nah, jika memang itu yang kau katakan. Tapi Nah, seperti yang bapakmu bilang sekarang kondisinya berbeda. kau harus ingat itu”, kata ibu.

“Inah tau, tapi tak bisakah ibu dan bapak mengerti perasaan Inah? Ini tidak mudah bagi Inah bu.”

“Mudah atau tidak, kau harus memutuskan Nah, ini hidupmu. Apapun pilihanmu, bapak dan ibu akan selalu bersamamu. Kau anak kami satu-satunya. Tak mungkin kami membencimu hanya karena ini. Pertimbangkanlah semuanya dengan baik juga tentang Arif dan keluarganya. Satu hal yang perlu kau ingat Nah bahwa, kebahagiaan tidak hanya ketika kau mendapatkan apa yang kau cintai. Namun, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya kepada hati yang bersyukur atas yang dia dapatkan.

Aku semakin mengenggam erat surat dari kang Riyanto. Aku masih sesenggukkan ketika ibu meninggalkanku sendiran di kamar. Aku harus mengambil keputusan. Aku mengambil selembar kertas putih dan mulai menulis.

Teruntuk kang Riyanto, 

di Jakarta

Di surat itu, aku menitipkan jawabanku disana.

Waktu, hanya dia yang bisa menumbuhkan cinta baru atau menghapuskan cinta lama. Dan waktu hanya akan melakukannya jika hati menyuruhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s