Catatan

Resilence & Perseverance

Resilence adalah kemampuan seseorang menanggung  atau beradaptasi dengan segala permasalahan ringan hingga berat, sesuatu yang alamaiah ada di dalam diri setiap orang, dapat dipelajari, dilatih bahkan dikembangkan. Daya tahan disertai usaha keras, ketekunan(perseverence) membuat seseorang mampu menghadapi tantangan, dan mampu bangkit dari keterpurukan.

Ada satu pengalaman yang saya hadapi yang menunjukkan resilence dan perseverance. Pengalaman itu ketika saya mengalami keterpurukan yang sangat dalam, keterpurukan yang paling terasa selama ini. Ceritanya, setelah lulus SMA, saya mempunyai cita-cita untuk melanjutkan kuliah di universitas yang menurut saya merupakan universitas terbaik, saya dan semua orang menyebut kampus itu STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Bukan hanya saya, bahkan orang tua saya, kakek nenek saya juga berharap saya bisa masuk ke perguruan tinggi yang menjadi idaman itu.

Saya terus berusaha untuk mencapai cita-cita saya tersebut, mulai dari mengerjakan soal-soal latihan dan beberapa kali mengikuti try out seleksi masuk STAN. Hasil try out yang saya ikuti selalu memuaskan, walapun tidak ranking pertama tapi setidaknya saya selalu menjadi peserta yang lolos seleksi ujian masuk. Berbekal itu semua, saya dengan percaya diri mengikuti ujian seleksi yang sebenarnya. Saat itulah saya tahu bahwa saya akan mulai menjalani hidup bukan dengan pilihan pertama saya, bukan sebagai mahasiswa STAN.

Singkat cerita, saya gagal dalam tes selesi tersebut, nilai ujian masuk saya tidak cukup untuk menjadi mahasiswa STAN. Saya sangat terpuruk. Pertama kalinya dalam hidup saya, saking sedihnya, saya sampai tidak mau makan, minum, dan hanya bisa tiduran dan terus meneteskan air mata. Sepertinya saat itu saya merasa tidak akan melanjutkan kuliah.

Namun atas dorongan keluarga, diri sendiri, dan teman-teman akhirnya saya bangkit. Sebelum tes STAN, saya memang sudah mendapatkan beasiswa di Politeknik Manufaktur Astra jurusan Manajemen Informatika. Walaupun saya sama sekali tidak tahu tentang informatika namun saya mencobanya karena memang itulah saat ini yang ada di depan saya. Saya pun menjadi mahasiswa di kampus itu.

Pertama kuliah sangat berat, bertemu dengan dunia baru yang saya sama sekali tidak pernah mengerti sebelumnya. Bertemu dengan barisan code-code, aplikasi, database, dan semuanya yang asing dan saya tidak pernah berpikir akan bertemu dengan mereka. Namun saya kembali meyakinkan diri, bahwa mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk saya. Maka disini saya berjanji kepada diri sendiri untuk mulai dan terus berjuang dengan pilihan kedua saya.

Mulai pertengahan semester 1, saya lebih rajin memperlajari mata kuliah. Saat itu saya pertama kalinya menemui bahasa pemrograman, hal yang sangat asing dan susah bagi saya. Ketika saya merasa kesulitan, saya mulai membeli bukunya kemudian mencoba setiap contoh pemrograman di buku itu. Setiap malam saya selalu belajar tentang pemorgraman tersebut. Namun ketika nilai keluar, nilai saya masih B. Kemudian ketika menemui pemrograman di semester selanjutnya saya belajar lebih giat lagi. Setiap saya tidak begitu mengerti tentang bahasa pemrograman, maka saya akan belajar sampai malam sampai saya mengerti konsepnya, saya membaca buku, browsing di internet, dan bertanya kepada teman. Bahkan tak jarang saya dan teman-teman juga begadang sampai larut malam untuk mengerjakan tugas.

Ternyata semakin lama saya semakin mengerti dan merasa suka dengan yang saya kerjakan saat ini. Walapun saya awalnya tidak bisa tapi karena saya suka maka saya semangat untuk mempelajarinya. Mulai saat itu saya dengan yakin memutuskan untuk menjadi seorang IT dan melupakan cita-cita awal saya sebagai seorang akuntan.

Akhirnya saya pun mempunyai keinginan untuk bekerja di dunia IT, saya ingin menjadi seorang sistem analis. Berkat usaha keras dan ketekunan, akhirnya saya berhasil bekerja sebagai staff IT di sebuah perusahaan swasta. Job desk saya masih sebagai seorang programmer, sistem analis, dll (masih belum spesifik). Saya dihadapkan dengan banyak hal baru mulai dari Oracle, Android yang semuanya masih asing. Sama seperti saat kuliah, saya mulai belajar satu per satu agar saya mengerti dan bisa mengerjakan dengan baik. Sekaligus sebagai bekal saya nanti untuk mewujudkan cita-cita sebagai sistem analis.

Saya sangat menikmati kehidupan saya sekarang ini. Saya juga sangat bersyukur bisa bangkit dari keterpurukan dan melanjutkan jalan saya sebagai seorang IT, bukan sebagai seorang akuntan. Akhirnya saya pun tahu bahwa kita juga bisa bahagia walapun tidak dengan pilihan pertama, kita bisa bahagia dengan pilihan kedua, ketiga, dan seterusnya selama kita bisa bangkit dan berusaha keras serta tekun dalam menjalani setiap pilihan dalam hidup kita.

Advertisements

3 thoughts on “Resilence & Perseverance”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s