Uncategorized

Online Shop “Ontita”

“Zuu jadi nama online shop kita apa nih? Unch Unch ? ”, tanyaku kepada temanku, sebut saja Zuu.
“Seriusan pake unch unch ? Kurang menjual untuk olshop.”, jawabnya menolak usulanku.
“Apa dong? Emm.. Jigglypuff? Anabel ? “, tanyaku lagi.
“Anabel siapa? Ontita ~ Onti Onta? Gimana?”, jawabnya memberi masukan.
“Ontita aja deh. Sipp. Sekalian bikin logo nya ya.”, jawabku setuju.

Percakapan itu kami lakukan di whatsapp sekitar bulan November 2016. Saat itu kami berpikir tidak terlalu keras untuk menentukan nama online shop baru kami. Alhamdulillah, akhirnya kami merealisasikan impian mempunyai online shop. Setelah berkali-kali kami ingin mencari cara untuk mengisi waktu luang dengan berjualan, akhirnya kami memutuskan untuk berjualan baju. Sebuah hal yang tidak terduga ketika kami memutuskan untuk menjadi reseller sebuah brand baju homemade. Awalnya kami sempat mencari-cari untuk menjadi reseller novel dan sepatu. Kenapa memilih novel dan sepatu? Karena aku dan si Zuu hobi belanja novel dan sepatu, kata orang agar lebih lancar berbisnis, maka bisnislah sesuai dengan hobi. Namun rencana reseller novel dan sepatu gagal karena kami tidak menemukan vendor yang tepat.

Suatu hari, aku tidak sengaja membuka instagram seorang selebgram. Nah di IG nya, ada salah satu foto dimana si selebgram itu endorse baju. Terlihat bagus bajunya, maka akupun langsung membuka IG olshop baju tsb. Disana tertulis open reseller/agen. Aku langsung menginfokan ke temanku si Zuu. Setelah menimbang-nimbang, diskusi sana sini, kami pun memutuskan untuk menjadi agen dari olshop tersebut. Cara menjadi agen cukup mudah, kami hanya perlu membeli baju dari olshop tsb sesuai batas minimal pembelian. Selanjutnya kami secara berkala akan mendapatkan foto produk-produk dengan nama olshop kami “Ontita”.

Aku dan si Zuu pun berbagi tugas. Aku bertanggung jawab untuk mengurusi penjualan melalui Shopee dan Instagram, sedangkan si Zuu bertanggung jawab untuk mengurusi penjualan melalui Tokopedia dan Facebook. Betapa excited nya kami ketika pertama kali mendapatkan pembeli. Rasanya seperti ada angin segar berhembus ke arah kami. Kami dengan semangatnya menjawab chat pembeli dan mengirimkan produk yang mereka pesan. Target kami saat itu adalah satu hari satu baju terjual. Terlihat sederhana namun ternyata tak mudah untuk mencapai target itu. Awalnya kami begitu optimis target tercapai. Namun beberapa bulan kemudian setelah kami tahu bahwa banyak juga olshop lain yang menjadi agen/reseller vendor kami, kami pun menyadari itu menjadi salah satu alasan kenapa target kami susah dicapai. Kami pun mulai memutar otak. Harus mencari sesuatu yang menjadi pembeda antara kami dengan olshop lain walaupun produk yang kami jual sama. Akhirnya kami memutuskan untuk menurunkan harga. Harga jual kami dibawah olshop lain. Balik lagi bahwa kami melakukan ini untuk mengisi waktu luang, ada pembeli saja kami sudah bahagia jadi tak begitu masalah jika keuntungan kami berkurang.

Dari November 2016 – April 2017 terhitung sudah sekitar 5 bulan olshop kami berjalan. Jangan tanya berapa keuntungan kami. Walaupun begitu sampai sekarang pun kami masih semangat melayani chat calon-calon pembeli yang masuk ke kami. Tidak selalu bahagia, terkadang kami juga merasa kesal menghadapi pembeli yang bawel, setiap hari menanyakan tentang pengiriman pesanannya. Ketika kami berikan nomor resinya untuk dia mengecek sendiri, dia berkata resi tidak ditemukan. Sedangkan ketika kami cek, jelas terpampang nyata bahwa nomor resi itu ada dan status pengiriman masin on process. Ada juga pembeli yang melakukan tindakan paling dibenci oleh olshop, yaitu pembeli yang hit and run. Maksud hit and run disini adalah pembeli yang sudah chat panjang lebar, kita tanggapi dengan sangat baik, dia sudah pesan, hanya tinggal membayar maka kami akan segera mengirimkan bajunya. Sedangkan sampai batas akhir waktu pembayaran dia tidak melakukan pembayaran yang otomatis membuat status pemesanan kami menjadi “Cancel Order” alias “Pesanan dibatalkan karena pembeli tidak membayar”. Yah Sudahlah.

Jangan salah. Kami juga sering menemukan pembeli yang baik hati dan sangat menghargai kami. Jadi setelah kami mengirimkan pesanannya, pembeli tersebut langsung memberikan nilai dan komentar review terbaik di olshop kami. Review ternyata sangat mempengaruhi di dunia jual beli olshop karena salah satu hal yang menjadi alasan seorang pembeli memilih olshop ini dibandingkan olshop lain adalah karena adanya review dari pembeli. Dengan banyaknya review membuat pembeli lebih percaya pada olshop. Oleh karena itu, bagi para pembaca yang suka berbelanja online jangan lupa untuk memberikan review sebagai ucapan terima kasih kita kepada penjual. Dijamin akan membuat penjual senang, tentu saja review nya yang baik-baik ya.

Bagiku, aku sangat bersyukur dengan adanya Ontita. Bukan hanya karena Ontita memberikan tambahan rejeki kepada kami. Namun Ontita menjadi salah satu cara agar aku dan si Zuu tetap berkomunikasi. Ya, si Zuu, teman seperjuanganku dalam berbagai hal selama di Jakarta, memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya di Purworejo per akhir bulan Maret 2017. Yang berarti kami terpisah secara jarak. Menurut pengalamanku, jika jarak memisahkan yang berarti lama-kelamaan bisa juga mengurangi komunikasi walaupun dalam hati kami tidak terpisahkan. Oleh karena itu, dengan adanya Ontita aku berharap komunikasi diantara kami akan tetap terjalin. Seengaknya jika sudah tidak ada topik yang ingin kami bahas, Ontita membuat kami saling menghubungi ketika ada pembeli menanyakan baju. So, akhirnya aku sadar kenapa semuanya terasa mudah dan tak disangka-sangka dalam mewujudkan Ontita, karena Ontita tak hanya sebuah olshop namun lebih dari itu Ontita adalah salah satu jalan penghubung kami diantara ratusan kilometer jarak yang memisahkan. #Lebay. Jadi, bagi para pembaca tulisan ini, monggo semuanya berbelanja di Ontita ya 😀 dan semoga Ontita bisa memperlebar wolayah jajahannya di Purworejo. Happy Shopping all…

Oops, satu lagi yang ingin aku sampaikan. Melihat beberapa baju dan celana hits di IG, terkadang membuatku kalap ingin belanja. Namun berbeda hanya jika aku melihat tumpukan baju dan celana jualanku di rumah. Terlihat bagus, dan terkadang ada rasa ingin memilikinya. Namun sebagai seorang penjual tentunya akan lebih bahagia jika baju dan celana tersebut sold out oleh pembeli daripada dipakai sendiri. Dan itu menjawab pertanyaanku, Kenapa penjual ga pakai sendiri aja ya lihat produknya yang bagus-bagus? ”

Advertisements

2 thoughts on “Online Shop “Ontita””

  1. haaaaaaa… mataku berkaca-kaca baca postingan ini..
    tapi aku juga mikir hal yang sama sih…
    Ontita jadi penghubung kita, ya meskipun akhir” ini aku kurang semangat soalnya sinyal naik turun bikin beteee..
    sabar ya sisttt… ada saatnya nanti kita berada di puncak
    hahahahhahhaha
    aamiin 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s