Uncategorized

Cita-Cita Bersama

A man should never neglect his family for business.

Seorang laki-laki seharusnya tidak pernah mengabaikan keluarganya untuk urusan pekerjaan.”  (Walt Disney)

Usia memang bukan jaminan seseorang untuk menjadi lebih dewasa. Seseorang akan dewasa dan berubah pola pikirnya seiring dengan kondisi hidup yang dialaminya. Seperti apa yang dialami oleh salah satu temanku. Aku mengenalnya tujuh tahun lalu, semenjak kami sama-sama masuk di perguruan tinggi di Jakarta. Kami satu jurusan, satu kelas, dan senasib (sama-sama anak beasiswa). Bedanya aku  berasal dari daerah sedangkan dia berasal dari Bekasi.  Selebihnya kami sama, suka melucu, ceplas-ceplos, berprinsip, dan sedikit berisik.

Setelah lulus kuliah, kami bekerja di perusahaan yang berbeda. Dia bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT sedangkan aku bekerja di perusahaan manufaktur juga sebagai seorang programmer. Setahun bekerja di perusahaan masing-masing, dia pun memutuskan resign dari perusahaan lamanya dan pindah ke kantorku. Tanggal  2 September 2014 dia masuk di kantorku dan tepat juga aku setahun bekerja di sini. Saat itulah kami kembali berada dalam satu atap perusahaan.

Kedatangannya memberikan angin segar di kantor, dengan ilmu programming yang dia dapatkan di perusahaan lama dan kemampuan programming-nya yang tak diragukan lagi, dia memberikan sesuatu yang baru dalam dunia coding meng-coding di kantor kami. Dialah yang memulai menggunakan jquery untuk coding, dia juga yang memulai membuat aplikasi dashboard report. Dia rekan yang sangat cocok untuk berdiskusi tentang pekerjaan. Semenjak kedatangannya, aku merasa ada satu patokan yang harus aku kejar dalam ilmu programming ,yaitu dia. Jadi aku juga harus selalu belajar, karena pasti akan selalu ada ilmu baru yang dia punya.

Mungkin aku salah satu orang yang sangat bersyukur dengan adanya dia di kantor. Aku merasa mempunyai seseorang yang cocok denganku. Apalagi setelah kita sama-sama mendapatkan project pembuatan aplikasi untuk  pencatatan hasil produksi di pabrik, dia bertanggung jawab untuk aplikasi pencatatan total produksi OK, sedangkan aku aplikasi pencatatan total produksi NG (Not Good). Aplikasi kami tak jauh beda dan saling berhubungan, itu membuat kami lebih sering berdiskusi tentang project ini, Lebih tepatnya aku yang selalu bertanya padanya tentang permasalahan atau cara-cara praktis efektif dalam pembuatan report. Dalam pengerjaan aplikasi ini, aku harus sering berinteraksi dengan orang baru. Jalan ke pabrik untuk men-training user atau sekedar troubleshooting jika terjadi permasalahan. Karena aplikasi dia go live duluan dan sama-sama digunakan di pabrik jadi pas awal-awal aplikasiku go live, dia sesekali mengantarku untuk ke pabrik menemui user. Maklumlah begitu luasnya pabrik membuatku tak hapal dimana user berada. Dan lagi-lagi, dia sangat membantu.

Beberapa tahun bekerja, karirnya semakin bersinar. Dia menjadi programmer andalan kantor. Project apapun yang diberikan kepadanya, akan diselesaikan dengan cepat dan tepat. Tahun ini, tepatnya bulan ini dia mendapatkan kejutan, yaitu dia akan dipromosikan kenaikan jabatan. Beberapa orang tentu akan merasa senang jika mendapatkan promosi dalam pekerjaan.  Tak semua orang pun mendapatkan kesempatan ini. Bahkan aku yang sudah lulus S1 pun tak mendapatkan kesempatan yang dia dapatkan. Haha. Aku pun turut bahagia dengan kabar ini, bagiku ini sepadan dengan pekerjaan yang dia lakukan.

Berbeda dengan aku yang bahagia mendengar kabar ini, dia malah sebaiknya. Katanya dia bingung tentang apa yang harus dia lakukan. Apakah akan menerima promosi atau tidak. Ada sesuatu hal yang mengharuskannya tidak bisa menerima promosi ini walaupun dia senang mendapatkan kesempatan promosi. Dan akhirnya dia tetap tidak bisa menerima promosi kenaikan jabatan. Dia kecewa, manager ku pun kecewa dengan keputusannya. Sekuat tenaga dia menjelaskan dan bertahan untuk keputusannya. Dan dia berkata bahwa keputusannya adalah untuk keluarga,

Berbicara tentang keluarga, beberapa kali dia berkata kepadaku bahwa dia ingin mencari suasana baru. Bekerja dengan banyak project dan permintaan yang serba cepat membuat dia dan juga aku terkadang merasa jenuh dan ingin suasana baru. Namun kembali lagi dia harus mengesampingkan keinginannya untuk keluarga. Bagi dia sekarang keluarga lebih penting dibandingkan diri sendiri. Mungkin bagi setiap orang yang sudah menikah tentu akan berpikir sama dengan dia.

Sesaat aku membayangkan, masa dimana dia dan aku dan juga teman-teman kami sibuk belajar dan bercanda di sebuah ruangan kelas. Dimana di masa itu yang ada adalah kita para single dengan cita-cita masing-masing entah mau jadi apa, mau kerja dimana, mau berapa kali pindah kerja. Dan sekarang sepertinya waktu berjalan begitu cepat, tidak ada lagi kami para single. Melainkan kami yang sudah berkeluarga dan bedanya kami tak lagi memikirkan cita-cita masing-masing. Kami memikirkan cita-cita bersama, cita-cita keluarga.

Dari dia aku belajar betapa seseorang bisa tumbuh mendewasa karena keluarga. Betapa besar juga perjuangan para suami, para bapak demi kebahagiaan keluarganya. Dia masih orang yang sama, namun  dia sudah banyak berubah dibandingkan yang dulu. Dia menjadi sosok yang berbeda, semakin hari selalu berusaha menjadi lebih baik. Dan aku kembali lagi merasa bersyukur bisa duduk sebelahan meja kerja, karena sepertinya cuma kami berdua yang sepikiran diantara beberapa orang disini.  Terkadang kami bisa serius membahas sesuatu, terkadang kami bisa sharing persoalan tertentu, saling memberi semangat diantara orang lain yang merobohkan semangat, saling mendukung diantara orang lain yang menyerang, bahkan terkadang kami bisa saling gotong royong jahilin user.

Dia, salah satu teman dari jaman bocah sampai sekarang yang selalu menginspirasi dan selalu tak segan untuk membantu.

Advertisements

5 thoughts on “Cita-Cita Bersama”

  1. Tadinya aku mikir, ini lagi nyeritain Acit. Tapi pas baca “Selebihnya kami sama, suka melucu, ceplas-ceplos, berprinsip, dan sedikit berisik.”
    kok kayaknya bukaaann… hahahaha

    jadi, dia menolak untuk dipromosikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s