Uncategorized

Baperjo

Dalam suatu hari akan ada orang baru datang di kehidupan kita. Silih berganti, ada yang datang dan tinggal, namun tak jarang ada yang datang  kemudian pergi. Dan setiap dari mereka datang dengan membawa suatu tujuan, membawa pesan kehidupan.

Setelah sebulan tidak bertemu mereka, kemarin akhirnya kami bertemu kembali. Sepulang kerja, aku dan suami datang berkunjung ke kampus, tempat dimana dua teman baikku bekerja. Kami satu alumni, dan di kampus inilah aku menemukan mereka, persahabatan kami dimulai. Sebut saja “Baperjo”, nama beken kami. Terdiri dari lima orang gadis (semasa itu) namun sekarang dua diantara kami sudah resmi menjadi istri orang bahkan satu diantara kami sudah ada yang mempunyai anak.

Pertemuan di kampus kemarin ternyata menjadi permulaan dari pertemuan kami selanjutnya di bulan puasa ini. Memang kami bukan tipe-tipe orang yang suka berkumpul sebulan sekali atau memiliki jadwal sendiri untuk bertemu. Kami hanya berkumpul sesekali  itupun saat benar-benar ada Moment. Terakhir kami bertemu bulan April saat perpisahan salah satu anggota kami. Rutinitas pekerjaan yang padat membuat kami tidak terlalu memaksakan untuk bertemu, kami hanya rutin menjalin komunikasi di Group Whatsapp.

Bagiku, Baperjo menjadi salah satu tempatku mendapatkan kebahagiaan disini. Disaat jenuh dengan segala pekerjaan, disaat tidak menemukan orang yang sepikiran denganku. Maka, Baperjo-lah yang menjadi penghiburku. Kami kurang lebih mempunyai prinsip yang sama. Kami “santai” dan tidak terlalu terobsesi parah terhadap sesuatu hal namun tetap mempunyai tujuan yang jelas dalam  menjalani kehidupan. Nah, menemukan orang yang sepikiran denganmu, yang bisa memahami dirimu dan apa yang terjadi kepadamu itu susah. Dan ketika kalian mendapatkannya, maka itu salah satu hadiah terbaik dari Allah. Begitupun aku, bagiku Baperjo adalah hadiah dari Allah untukku.

Dulu, aku sempat merasa kehilangan parah. Satu-satunya sahabatku dalam mengarungi kehidupan di Jakarta, akhirnya memutuskan untuk pindah ke daerah asalnya. Aku tetap merasa kesepian walaupun sudah mempunyai suami. Namun ada beberapa hal yang hanya enak dibicarakan dengan sesama wanita (you know  what I mean ).  Biasanya, setiap  bertemu dengannya aku selalu cerita dari Adininggar sampai Zaitun (A-Z), cerita kejadian di kantor, temen yang ngeselin di kantor, dan sebagainya. Sedangkan setelah tidak ada dia, jelas aku tidak mempunyai tempat lagi untuk bercerita. Cerita sama suami, tanggapannya hanya datar dan hanya sedikit komentar. Menyebalkan. Selain itu, saat berkumpul Baperjo atau dengan teman lain juga dia selalu ada, jadi aku merasa aman. Jikalau ada apa-apa, akan ada dia disampingku. Sedangkan selanjutnya, tidak ada lagi dia di sini bersamaku. Memang aku sangat bergantung dengannya karena hampir semua masalahku dia tahu, sedangkan aku jarang bercerita dengan Baperjo yang lain. Karena memang kami saat itu masih teman dekat tapi ya biasa (susah dijelaskan).

Pertemuan Baperjo kemarin, pertama kalinya tanpa dia, aku hanya bersama suamiku. Awalnya aku takut canggung, sudah lama tidak bertemu namun ternyata semua ketakutanku tak nyata. Kami bertemu, makan, dan mengobrol dengan menyenangkan. Selalu, menyengankan jika bertemu mereka. Walaupun takut krik-krik namun ternyata semuanya menyenangkan. Semenjak perpisahaan temanku, dan kita sesi curhat dari malam sampai pagi, bertukar pikiran satu dengan yang lain, saling terbuka, saat itulah aku mulai benar-benar merasa Baperjo adalah bagian yang sangat penting bagiku.

Advertisements

3 thoughts on “Baperjo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s