Piala Dunia dan Kakek

Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat pertandingan sepak bola. Kakekku semasa hidupnya menjadi ketua persatuan sepak bola di desa kami. Kakek sebagai pelatih, menyiapkan segala kebutuhan untuk pertandingan dengan dibantu anggota tim-nya. Setiap akan bertanding, semua pemain sepak bola berkumpul di rumahku, ganti baju, dan mengambil perlengkapan yang dibutuhkan yang semua perlengkapannya disimpan di rumahku. Kakek sangat totalitas dengan sepak bola. Dan aku sering diajak kakek melihat pertandingan sepak bola.

Setiap piala dunia, kami selalu menonton bersama jika ada tim kami yang bertanding. Kakek menjagokan Brazil. Aku? Karena tidak tau sejarahnya dan belum ada negara favorit dan karena di film Tsubasa sukanya sama Brazil. Maka aku ikut-ikutan menjagokan Brazil, sama seperti kakek.

Pernah saat Piala Dunia pas jaman aku SMA, aku dan kakek bersama menonton pertandingan Belanda vs Negara mana aku lupa. Nah disitu aku menjagokan Belanda, aku sampai memakai kaos orange untuk mendukung Belanda. Sedangkan kakek memakai kaos yang sama dengan lawan Belanda. Seru menonton bersama kakek.

Itu dulu. Sebelum semuanya berubah.

Sekarang, di Piala Dunia tahun ini, sudah tidak ada lagi kakek. Kakek sudah dengan tenang menghadap Allah. Setiap moment Piala Dunia pasti akan mengingatkanku tentang kakek. Rasanya gak Cuma Piala Dunia yang mengingatkanku kepada kakek. Semua hal akan membuatku ingat kepadanya. Dan setiap kali ingat rasanya seperti ada yang menusuk di hatiku. Sesak. Sesak menahan rindu yang sudah tidak bisa aku ungkapkan lagi kepadanya.

Sudah beberapa bulan sejak kepergian kakek, tapi rasanya masih sama. Masih sedih tiap kali mengingatnya. Masih tidak bisa menahan air mata setiap kali menjenguknya di tempat peristirahatannya. Walaupun sekuat tenaga aku menahannya, tapi rasa sesak itu tetap datang.

Setiap pulang kampung, rasanya tetap berbeda. Masih sedih. Namun sekuat tenaga harus terlihat tegar. Kenapa? Karena masih ada nenek. Aku memang sangat kehilangan. Namun mungkin nenek lebih merasakan beratnya ditinggal kakek daripada aku. Oleh karenanya, aku harus selalu berusaha terlihat baik-baik saja, sebisa mungkin tersenyum. Agar bisa menjadi penghilang rasa sedih nenek.

Dulu aku sempat berpikir, apakah bisa tersenyum setelah kehilangan? Maka jawabannya BISA. Karena Allah ada untuk membantu menguatkan hati kita. Entah seperti tiba-tiba dibuatlah kita kuat, dibuatlah kita tegar. Namun kadang Allah juga membuat kita teringat, untuk kita selalu mendoakan yang sudah pergi. Karena hanya doa lah yang satu-satunya menjadi ungkapan rasa rindu yang bisa tersampaikan untuknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: