Ungkapan yang Berbeda

Memang benar, kita tidak bisa menilai baik buruk seseorang hanya dari luarnya. Perlu mengenal dulu untuk tahu bagaimana orang tsb. Tidak boleh asal menilai hanya karena tampilan luar yang mungkin tidak seperti kebanyakan orang.

It has been 8 years sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Hal yang pertama kuingat darinya adalah, kami sama-sama lahir ditanggal 26 Juni 1992. Sejak saat itu kami saling memanggil satu sama lain dengan sebutan “Sodara”.

Dibandingkan 8 tahun yang lalu, tidak ada perubahan berarti darinya. Dia masih sama. Salah satu sahabat yang setia menjadi pendengar setiap keluh kesahku. Pendengar yang baik, mendengar tanpa menghakimi. Bahkan semenjak aku menikah. Aku lebih sering berdiskusi dengan dia. Tentang menjaga hubungan dengan suami, tentang ibadah, tentang keinginan berhijrah, dan banyak hal lain. Dia selalu bisa menenangkan hati, berkata bahwa kita hamba Allah, mendekatkan diri kepada Allah akan membuat hati lebih tenang. Baca Al Quran akan membuat rumah terasa nyaman.

Suatu hari aku pernah bercerita kepadanya tentang keinginan memakai gamis dan kerudung menutup dada. Aku bilang ini hijrah kecil-kecilan. Dia langsung menyambut bahagia keinginanku itu. Hari pertama aku pergi keluar memakai gamis, aku mengirimkan foto kepadanya. Lalu selang beberapa jam aku mengirimkan pesan lagi kepadanya “Aku lho, tadi dikatain kayak emak2 gegara pakai baju gini”. Kata dia, “Padahal cantik loh. Udah biarin aja, Itu karena mereka ga kebiasa aja lihat kamu begini. Yang penting kamunya nyaman”.

“Kok aku belum nemu model kerudung yang pas ya”

“Kok kerudungnya belum pas dimuka. Belum merasa cocok nih”

Dan masih banyak lagi hal yang aku keluhkan ke dia sejak aku memutuskan mengubah penampilan. Dia dengan sabar selalu memberikan energi positif dan meyakinkanku bahwa pilihanku untuk mengubah penampilan adalah hal yang tepat.

Oh iya, selain penampilan. Dia juga menjadi sumber inspirasiku untuk selalu hidup dengan sederhana dan bersyukur. Kadang ketika aku merasa ingin berlebih, maka ketika kembali ingat tentang cara dia menjalani hidup, aku pun sadar dah kembali ke jalan yang benar. Hahaha. Dia juga tempat sharing saat renovasi rumah, karena kita sama-sama melakukan renovasi rumah di waktu yang sama.

Ketika aku berencana untuk hijrah kecil-kecilan, ternyata dia juga berencana untuk berhijrah. Hijrah besar, aku menyebutnya demikian.Tentu bukan suatu hal yang mengagetkan karena jauh sebelumnya dia sudah sering menceritakan tentang keinginan suaminya agar dia hijrah dengan memulai memakai cadar. Dulu dia bercerita bahwa dia belum yakin dan belum ada keinginan untuk bercadar. Namun beberapa bulan terakhir dia mulai merasakan keinginan untuk bercadar. Dengan segala alasan. Aku pun medukung apapun yang dia putuskan.

Di tanggal 8-9 Juli 2018, tepat di hari pernikahan sahabat kami, aku dan dia bertemu untuk pertama kalinya setelah kami sama-sama berhijrah penampilan. Aku dengan gamis dan khimarku. Dan dia dengan cadarnya. Rasanya biasa saja melihatnya seperti itu, pun dia biasa saja melihatku. Mungkin karena sebelumnya kita sudah bertukar foto dan sering cerita kali ya.

Setelah selesai menghadiri acara pernikahan, kami dan tiga orang temanku sama-sama pergi ke Jogja. Suamiku yang menyetir mobil, dia, suaminya, dan anaknya duduk di bangku tengah, tiga orang temanku di bangku belakang. Sempat aku ragu, apakah akan mengganggunya dan suaminya jika aku dan teman-teman menyetel musik di mobil? Karena setahuku bagi sebagian orang musik itu haram. Namun melihat ekspresinya dan suami yang asik-asik aja, tetep mengobrol santai, dan gak menunjukkan tanda-tanda muka bete. Maka alhamdulillah semuanya menikmati perjalanan ini.

Sampai di Jogja kami singgah ke Taman Pintar. Seperti biasa, di tempat baru biasanya orang suka berfoto. Aku awalnya juga merasa ragu untuk mengajaknya berfoto. Aku hanya berswafoto sesekali bersama suamiku. Sampai pada akhirnya dia pun berfoto dan kami berfoto bersama-sama. Karena ini moment lagka dan amat menyenangkan bagiku, aku pun ingin sekali meng-upload foto di instagram. Dan lagi-lagi aku ragu, apakah dia berkenan aku mengupload fotonya? Bukannya kenapa. Aku hanya berusaha menghormatinya, maka aku pun meminta ijin terlebih dahulu untuk mengupload foto kami. Dan dia pun oke, tidak masalah. Alhamdulillah.

Perjalanan beberapa hari di Jogja itu sangat berkesan. Namun, ada sedikit hal yang menggelitik setelah aku mengupload foto kebersamaan kami. Beberapa teman kantorku pun berkomentar :

“Ntan, itu siapa temen kamu yang bercadar?”

“Ntan, ati-ati loh, temen kamu teroris.”

Daaaan, masih beberapa lagi komentar tentang foto kami.

What’s wrong? Apa yang terjadi dengan kita umat muslim? Jika kita umat muslim sendiri memandang orang bercadar dengan pandangan negatif, bagaimana dengan umat non muslim memandang mereka? Sangat heran, segampang itu kita menilai seseorang hanya karena penampilannya.

Padahal sejatinya mereka sama, sama seperti kita. Hanya saja setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengekspresikan rasa cintanya, rasa taatnya kepada Allah. Selama tidak melanggar apa yang diperintahkan Allah, menurutku sah-sah saja mereka berpenampilan seperti itu.

Mungkin sebagian dari kita masih kurang terbuka, atau masih termakan doktrin mengkaitkan antara teroris dengan cadar. Padahal sebenernya pemikiran tsb bener-bener salah. Bilamana, seseorang yang berpenampilan tertentu kemudian melakukan kejahatan, itu bukan berarti setiap orang yang berpakaian seperti itu juga melakukan kejahatan yang sama. It’s can not be generalize.

Sejujurnya semenjak mempunyai sahabat yang bercadar, pandanganku pada orang yang bercadar pun berubah. Dulu aku sempat berpikir  bahwa mereka adalah orang-orang yang taat banget, yang akan dengan lantang menolak hal-hal tertentu seperti berfoto ditempat umum, menyetel musik, dll. Jadi aku sempat merasa sungkan untuk melakukan hal-hal tsb di depan mereka. Tapi tenyata pemikiranku pun salah.

Semenjak mempunyai sahabat yang bercadar dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tentang sahabatku, justru pemikiranku berubah. Mereka masih sama, masih sahabat kita yang masih bisa menerima apa yang kita lakukan, dan ini membuat aku semakin bangga mempunyai teman seperti dia. Semakin merasa masih jauh tertinggal darinya dalam beribadah kepada Allah. Untuk kalian, orang-orang yang masih susah menerima keberadaan orang bercadar, maka cobalah mengenal mereka. Hati mereka masih sama.

Jika aku memilih memberikan coklat, sedang kamu memberinya bunga. Tak masalah karena dia, suka keduanya.

2 thoughts on “Ungkapan yang Berbeda

Leave a Reply to Faizal Amir Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: