Jarak – Mendekat.

“Han, tau gak Athar kemana? Udah semingguan dia ga masuk kuliah.”, tanya Sari.

“Hah, serius Sar? Ga tau deh aku. Emang kenapa dia ?.”, tanyaku kaget.

“Nah itu, aku juga ga tau. Denger-denger dari Savi sih dia lagi ada masalah. Cuma ga tau apa.”, jelas Sari.

Begitulah aku mendengar kabar tentang Athar. Beberapa hari sejak Sari bercerita tentang Athar, Athar semakin menjadi topik pembicaraan rutin antara aku, Sari, dan Aida. Hampir setiap hari aku menanyakan ke Sari tentang Athar. Tapi hasilnya sama saja, Sari tak banyak tahu tentang Athar. Dia hanya sedikit menceritakan yang dia tahu, itupun tahu dari Savi dan teman-temannya.

Semakin lama aku semakin penasaran apa alasan Athar tidak masuk kuliah. Akhirnya kuberanikan diri mengirimkan pesan Whats App (WA) kepadanya. Butuh waktu yang cukup lama untuk menanyakan nomor handphone Athar ke Sari, agar Sari tidak curiga dan berpikir yang tidak-tidak. Hanya saja pada akhirnya Sari tetap tersenyum meledek penuh curiga sambil memberikan nomor Athar.

“Hai Athar, ini Hana. Apa kabar?”. Send. Pesan pertamaku ke Athar.

Aku sempat merasa canggung mengirimkan pesan ke dia. Namun kupikir tidak masalah, bukankah dia dan aku sudah berteman? Sudah sewajarnya seseorang menanyakan kondisi temannya. Beberapa hari berlalu, pesanku tak juga dibalas olehnya.

“Aku dengar dari Sari kamu gak masuk kuliah. Sakit kah?” Send. Pesan keduaku untuk Athar.

“Minggu depan ada pameran seni di kampus. Datang yuk. Mau?” Send. Pesan ketigaku pun terkirim.

Sampai akhirnya pesan ketiga terkirim, dia tak juga menjawabnya. Mungkin dia sedang tidak sempat membalas pesanku, atau mungkin pesanku bukanlah hal penting yang harus dibalas oleh dia. Aku cukupkan sampai sini mengirimkan pesan ke Athar. Aku berharap semoga dia baik-baik saja.

***

Setelah terakhir kali mengirimkan pesan ke Athar, aku sudah tidak pernah mengecek chat-ku dengannya. Sudah jauh tertutup chat-chat yang lain. Maklumlah, semenjak lulus SMA, group chat di WA semakin bertambah. Ada group kelas, sekolah, kosan, SMP, ekskul yang memenuhi chat di WA-ku.

Malam ini aku, Sari, dan Aida di kosan. Kami bingung mau makan malam apa. Setelah beberapa kali mengecek Go Food, akhirnya kami memutuskan untuk memesan ayam geprek Bensu. Sambil menunggu abang Go Food datang, kami menonton drama Korea. Beruntungnya aku bertemu teman satu kos yang sama-sama suka nonton drama Korea. Sepele mungkin. Tapi hal sepele seperti ini terkadang bisa membuat hubungan pertemanan kami semakin dekat.

Setengah jam menunggu, akhirnya abang Go Food nya datang mengantarkan pesanan kami. Sari keluar mengambil makanan yang diantarkan abang Go Food. Aida ke toilet. Aku duduk bengong menunggu mereka kembali, tak bisa melanjutkan menonton drama Korea karena harus pause dan akan di play lagi ketika kami bertiga ada disini.

Tak berapa lama Sari pun datang, juga Aida. Kita bertiga bergegas makan. Sari makan ayam geprek level 4, sedangkan aku dan Aida cukup level 2. Aku memang tidak terlalu suka masakan pedas, begitu pula Aida.

Sambil makan sambil menonton drama Korea. Momen-momen seperti ini sangat menyenangkan, bisa santai sejenak ditengah tugas yang menumpuk dan keharusan belajar mendalami mata kuliah tertentu. Maklumlah sebagai seorang mahasiswa yang masih di awal perkuliahan, kami masih rajin belajar. Apalagi punya teman se-kostan seperti Aida dan Sari, “Study Hard Play Hard” begitulah motto hidup kami.

“Hai Han. Kabarku baik. Oh iya, sorry ga bisa dateng acara pameran seni.”

Tiba-tiba handphoneku bergetar, ada pesan masuk. Aku langsung mengeceknya dan ternyata pesan dari Athar. Aku senyum-senyum sendiri melihat nama Athar muncul disana. Lansung aku buka dan balas pesan dari Athar.

“Han, ngapain balas WA sambil senyum-senyum?”, tanya Aida.

“Biasalah lah, tau sendiri Hana kan banyak temen WA-an. Cuma tetep aja masih jomblo”, sahut Sari.

“Ah kayak elu enga aja Sar”, balasku ketus.

Aku tidak mempedulikan Aida dan Sari, mereka kembali sibuk mengomentari drama Korea yang sedang kami tonton. Sedang aku, sudah tidak fokus melihat drama Korea. Aku malah sibuk berbalas pesan dengan Athar. Merangkai kata untuk mengirim jawaban dan berharap dia kembali membalas.  Begitu seterusnya sampai drama Korea yang kami tonton selesai.

Selama berbalas pesan dengan Athar, tidak banyak yang dia ceritakan. Aku hanya membahas hal-hal umum saja, dan aku masih belum tahu alasan dia tidak masuk kuliah. Tak apa, sepertinya dia masih butuh ruang untuk sendiri. Aku hanya mencoba mengajaknya untuk masuk kuliah. Entah bagaimanapun ada banyak hal yang harus kita kerjakan diantara banyak hal yang menjadi masalah kita, salah satunya kuliah. Begitu yang aku katakan padanya. Dia pun berjanji padaku untuk mulai masuk kuliah minggu depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: