Jarak – Menjauh

Semenjak saat itu, ya semenjak Athar resmi jadian dengan Savi, ada beberapa hal yang akhirnya berubah dari hidupku. Pertama, aku tak lagi mempunyai teman pulang naik KRL. Athar lebih sering menghabiskan waktu dengan Savi di hari libur kuliah. Kedua, aku tak ada lagi teman yang setiap saat bisa mengantarkanku kemanapun aku inginkan.  Biasanya, dengan Athar aku hanya tinggal menelponnya dan dia akan langsung datang. Sekarang, saat ingin pergi kemanapun, hanya Aida teman paling setia menemaniku menyusuri perjalanan kota Depok. Kami berdua tidak ada yang membawa kendaraan pribadi, jadilah kami berkelana dengan bantuan transportasi umum. Aku mulai terbiasa dengan kondisi ini, toh ada Aida yang senasib denganku. Sama-sama enggan menjalin hubungan dengan cowok karena bukan prioritas, begitu menurut kami.

Aku perlahan mulai menjauh dari Athar. Aku memang kuat dalam bertahan, walaupun rasanya sedih kehilangan dia, namun aku bisa menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Terkadang aku ingin sesekali kembali mengobrol dengan dia, tapi aku tahu bahwa tak mungkin akan bisa seperti dulu. Sedangkan Athar, dia masih menganggap tidak perlu ada yang berubah antara kami. Dia masih sering mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku. Tentu dia masih membutuhkanku untuk mengurusi hal-hal kecil dihidupnya, seperti membantunya mengerjakan tugas-tugas kampus yang enggan dia kerjakan. Ya begitulah Athar, selalu saja menyusahkan. Dan dari sekian pesan WhatsApp nya, tak jarang dia mengirimkan pesan yang aneh, seperti malam ini.

“Han, aku lagi keluar sama Savi sampe jam 9. Jangan kirim WA ke aku dulu ya. Nanti aku WA kamu.”  Begitulah kira-kira pesan yang sering dia kirimkan ke aku. Mungkin baginya itu biasa saja, namun bagiku tidak.

Lalu setelah lewat jam 9 malam, dia kembali mengirimkan pesan,

“Han, aku udah di kosan.”

Aku tidak menjawab pesan dari Athar karena ada satu pesan masuk ke handphone-ku yang menyita perhatianku malam ini. Pesan itu datang dari Savi. Seseorang yang aku tau bahwa suatu saat akan menghubungiku, akhirnya mengirimkan pesan itu.

“Hana, ini Savi.  Aku pengen ketemu sama kamu bisa? Besok ya jam 10 di Cafe deket kampus. Jangan bilang ke Athar ya.”

“Oke.”, jawabku singkat. Aku memang menantikan saat-saat bertemu dengan Savi. Aku tahu dia selalu mengecek handphone Athar dan dia tahu bahwa aku masih berhubungan dekat dengan Athar. Dia terkadang mengirimkan pesan kepadaku menggunakan handphone Athar, yang aku tahu bahwa itu bukan Athar yang menulis. Savi curiga dan cemburu kepadaku, itu kesimpulan singkatku.

***

“Han, kamu yakin gak mau aku temenin?”, kata Aida. Dia ngotot ingin menemaniku bertemu Savi. Takut Savi mengajak teman-temannya dan aku disana sendiri menghadapi mereka.

“Enggak”, jawabku.

“Lah, kalau kamu dikeroyok gimana?”, tanyanya yang aku jawab dengan senyuman.

Aku sampai di Cafe, memesan minuman, dan membuka laptopku sambil menunggu Savi datang. Aku mengecek email menunggu email konfirmasi program student exchange yang aku apply. Tak berapa lama, Savi pun datang. Dia duduk di depanku. Aku menutup laptopku.

“Aku mau ngomongin tentang Athar. Baru pertama kali aku cemburu sama seseorang, dan itu sama kamu. Aku harap kamu gak deket lagi sama Athar.”, mendengar kalimatnya yang langsung ke intinya, sepertinya dia ingin mempercepat pembicaraan ini.

“Aku udah lama sahabatan sama Athar. Mungkin butuh waktu untuk menjauh. Tapi akan aku coba. Tenang aja Savi, aku tau kok posisiku dimana. Aku sama Athar cuma sahabatan, dan kamu udah sama dia. Kamu gak perlu khawatir.”, jawabanku menutup pebicaraan kami pagi ini. Dia hanya berterima kasih kemudian pergi meninggalkanku. Aku tidak menyangka akan sesingkat ini pertemuanku dengan Savi. Padahal aku berniat untuk juga berteman dengan dia. Menceritakan tentang aku dan Athar agar dia juga bisa berusaha mengerti posisiku, sama seperti aku berusaha mengerti posisinya tanpa perlu saling curiga. Namun ternyata dia tak sepemikiran denganku,  dia lebih tegas, dia berbeda jauh denganku. Pantas saja dia lebih bisa mendapatkan Athar, dengan segala keberanian dan perjuangannya. Tidak sepertiku yang hanya diam menunggu. Ah, aku terlalu berpikir melantur kemana-mana. Aku memasukkan laptop ke tas bersiap ke kampus.

Aida sudah menunggu dengan cemas di kampus. Melihatku berjalan ke arahnya, dia langsung berjalan ke arahku. Menggandengku duduk ke bangku dekat taman. Menanya-nanyaiku tentang pertemuanku dengan Savi hari ini dan menyayangkan sikapku yang kurang tegas ke Savi. Seharusnya aku marah, seharusnya aku juga bisa meminta dia mengerti posisiku dengan Athar dan seharusnya-seharusnya lainnya yang tak terucap dariku yang lebih memilih diam, mengiyakan apa yang dikatakan Savi.

Aku seperti tidak tertarik untuk berurusan panjang lebar dengan Savi, pun tidak tertarik untuk merusak hubungannya dengan Athar. Saat ini yang aku rasakan hanya kecewa, kecewa terhadap diri sendiri yang terlalu berharap. Berharap Athar mengerti perasaanku dan bersikap sama sepertiku. Juga berharap Savi mengerti posisiku dan bersikap baik padaku.

Dan karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mengubah cerita ini, akhirnya aku memilih untuk bertahan.

Aku memang kuat dalam bertahan. Hanya perlu menunggu waktu berjalan, maka semuanya akan terlupakan. Tugasku, hanya tetap bertahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: