Tamu dari Jepang

Sudah menjadi agenda rutin di kantorku jika ada beberapa orang dari Company Group yang datang berkunjung. Biasanya mereka berkunjung untuk melihat perkembangan proses manufaktur di pabrik kami. Semenjak satu tahun terakhir, semakin sering mereka berkunjung berkaitan dengan issue implementasi IoT di pabrik.

Perusahaan kami memang bukan yang pertama, namun kami mencoba mengimplementasikan IoT semaksimal mungkin. Berkat hasil kerja keras teman-teman di tahun 2017, perusahaan kami terkenal dengan IoT-nya di Company Group. Menjadi terkenal, bisa mendatangkan sesuatu yang positif dan negatif (aku melihatnya demikian). Sisi positifnya, nama baik perusahaan semakin dikenal di Company Group dan yang terpenting di Customer, sehingga meningkatkan kepercayaan customer untuk bekerjasama dengan perusahaan. Sedangkan sisi negatifnya, harus mempertahankan nama baik itu. Mempertahankan terkadang lebih susah karena di luar sana, banyak perusahaan-perusahaan di Company Group yang akan mencoba membuat IoT lebih bagus dari pada kita. Dan sebagai yang bisa dibilang lebih dulu mengimplementasikan IoT, perusahaan kita harus selalu melakukan improvement-improvement terbaru.

Seperti kali ini, minggu terakhir bulan Januari 2019 perusahaan kedatangan tamu dari Jepang, seseorang yang terkenal nomor 1 di Mother Company kami di Jepang. Bukan kali pertama bapaknya datang ke sini. Dan karena bukan kali pertama, maka setiap kali si bapak ini datang, maka harus ada sesuatu yang baru yang sudah kami implementasikan dibandingkan pada saat kedatangan beliau sebelumnya. Itu hal yang wajar memang dan pasti setiap orang akan melakukan hal yang sama agar tidak mengecewakan tamu yang sudah jauh-jauh berkunjung.

Sebagai persiapan menyambut bapak itu datang, semua orang kantor bekerja keras mengerjakan IoT baru di pabrik. Bahkan beberapa teman se-departemenku (IT) bekerja hingga overtime untuk menyelesaikannya tepat waktu. Disitu kadang aku merasa tidak ‘berguna’, dalam artian, mau membantu mereka tapi aku juga tidak terlalu paham karena semua implementasi IoT di handle oleh teman-temanku laki-laki. Sedangkan aku dan temanku perempuan di IT hanya meng-handle pekerjaan yang berkaitan dengan Office, bukan pabrik. Di saat mereka harus pulang malam bekerja, aku pulang sore. Yasudahlah aku tidak mau terlalu memikirkannya, ku bantu sebisaku dan yang terpenting aku selesaikan pekerjaanku dengan baik.

Seperti pagi ini, beberapa teman IT belum juga datang ke kantor. Mereka kemungkinan ijin datang siang karena semalam sudah pulang larut untuk mengecek implementasi IoT. Kebanyakan dari mereka bapak-bapak dan sudah berkeluarga, punya anak dan istri yang menunggu mereka di rumah.

Satu hal yang membuatku bersyukur adalah tentang pekerjaan suamiku. Suamiku hampir tidak pernah pulang larut selama bekerja. Hanya saat ada hal-hal yang mendesak dia dan teman-temannya baru pulang malam, itupun tidak sampai larut malam. Sewajarnya. Dulu sebelum menikah, suamiku sempat bekerja di perusahaan yang hampir setiap hari harus pulang larut, bahkan pernah tidak pulang alias nginep di kantor. Itu membuatku sedikit khawatir bagaimana nanti setelah kami menikah. Alhamdulillah menjelang kami menikah, suami mendapatkan pekerjaan baru yang jam kerjanya lebih teratur.

Hal simple yang lagi-lagi tetap harus disyukuri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: