Senyawa – 1

Usiaku sudah lebih dari seperempat abad tahun ini. Namun aku masih belum tahu benar bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Dibandingkan orang lain, terkadang aku merasa kurang beruntung, tatkala mereka diusia yang mungkin dibawahku sudah bisa merasakan apa itu cinta. Bahkan banyak dari mereka yang sudah menemukan cinta sejatinya, memutuskan untuk mengikat cinta mereka dalam suatu ikatan suci, pernikahan.

Semenjak jaman mulai berubah, banyak orang yang memutuskan untuk “menikah muda”. Bagus memang, namun bagi orang-orang yang senasib denganku, fenomena ini mungkin tidak begitu menyenangkan, karena semakin banyak anak muda menikah, maka akan semakin banyak orang yang menanyakan tentang “keterlambatan”-ku menikah, walaupun bagiku tak pernah ada kata terlambat untuk menikah.

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Tidak semua orang beruntung bisa menyatukannya. Ada yang menikah tanpa saling mencintai. Namun ada pula yang mencintai tapi tak bisa bersatu dalam pernikahan. Sedangkan aku, tetap berharap mendapatkan keduanya. Menikah dengan orang yang memang aku cintai. Itu doaku yang selalu kuucapkan. Mungkin keterlambatan-ku menikah ini adalah salah satu cara Allah untuk menyimpan sebaik-baik laki-laki untukku kelak.

Dibalik keadaanku ini, aku masih bersyukur karena lahir di keluarga yang memiliki pemahaman yang selalu sama walaupun jaman sudah berubah. Bahwa, akan ada saatnya kita menikah tanpa perlu membandingkan dengan orang lain yang sudah lebih dahulu menikah. Juga mempunyai teman-teman yang satu nasib dan satu pandangan. Jadi, pada akhirnya aku berusaha untuk tidak menganggap kondisiku ini sebagai suatu ketidakberuntungan, melainkan memang semestinya seperti ini.

Aku pun mulai mengisi waktu-waktuku dengan kegiatan positif, mungkin banyak hal yang Allah titipkan kepadaku untuk aku selesaikan sebelum aku menikah.

***

Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku janjian bertemu di Kedai Kopi Tuli.  Salah satu sahabatku, Nisa mengundang kami. Aku sengaja berangkat lebih awal agar bisa bertemu dan mengobrol dengan temanku Diana yang bekerja di sana. Sesampainya di Kedai Kopi, aku duduk di bangku pojok dekat dengan jendela, tak lama kemudian Diana datang menghampiriku. Dia tersenyum menyapaku seperti biasanya yang dia lakukan ketika kami bertemu.

“Hai Ai-sha, la-ma tak ber-te-mu”, katanya.

“Hai Diana. Iya belakangan ini sibuk. Apa kabar?”, jawabku. Kemudian kami melanjutkan mengobrol. Ternyata banyak hal yang terlewatkan olehku setelah beberapa lama tidak berkunjung ke sini. Salah satunya adalah Diana yang semakin lancar berbicara. Aku sangat senang melihat perkembangannya. Sudah sangat lebih lancar dibandingkan saat pertama kali kami bertemu.

Aku pertama kali bertemu dengan Diana di Kedai Kopi ini beberapa bulan yang lalu saat Kedai Kopi baru saja dibuka. Saat itu masih sepi pengunjung, hanya ada beberapa orang yang singgah, mungkin sama sepertiku mereka tak sengaja singgah untuk mencari tempat berteduh. Hari itu hujan, bajuku sedikit basah. Aku duduk di bangku pojokan sambil membersihkan baju. Kemudian Diana datang menghampiriku dan menyerahkan handuk kecil.

“Terima kasih”, kataku sambil mengelap tangan dan wajahku yang basah karena hujan.

“Sama-sama”, jawabnya sambil menggunakan bahasa isyarat. Aku lihat sekelilingku dan aku baru sadar kalau ini Kedai Kopi Tuli, dimana semua yang bekerja disini adalah tuna rungu.

“Mau kopi ?”, kata Diana setelah aku selesai mengelap tanganku dengan handuk darinya. Dia berbicara dengan percaya diri dan sangat sopan sambil menyerahkan menu kopi yang disediakan disini.

“Mochacino”, aku memesan.

Diana mengantarkan langsung pesananku. Kami mengobrol banyak. Aku pun tahu bahwa dia seorang tuna rungu semenjak lahir. Selama hidupnya dia berjuang untuk bisa seperti kebanyakan orang, bisa berinteraksi dengan yang lain. Dia pun memutuskan untuk membuka bisnis Kedai Kopi Tuli ini, sebagai sarana belajar untuk berinteraksi antara teman tuli dan teman dengar. Mendengar itu, aku pun berkeinginan untuk sering berkunjung ke sini dan mengobrol dengan Diana serta teman yang lain. Kata Diana, mereka membutuhkan banyak teman dengar  untuk belajar berkomunikasi dan mereka senang jika kami berkunjung.

***

Sekitar setengah jam Diana menemaniku sambil menunggu teman-temanku datang. Tak berapa lama aku dan teman-temanku berkumpul. Inilah moment yang sangat jarang terjadi walaupun persahabatan kami begitu erat. Kesibukan dan lokasi tempat tinggal yang berjauhan membuat kami harus sangat-sangat meluangkan waktu untuk bisa berkumpul. Seperti saat ini, ketika ada moment spesial barulah kami semua berkumpul. Dan setelah semuanya berkumpul, saatnya temanku menyampaikan kabar bahagia itu kepada kami.

“Menjadi yang pertama menikah, bukan berarti aku meninggalkan kalian ya. Aku hanya lebih beruntung di satu hal, dan kalian juga akan beruntung di hal lain. Yakinlah, segala sesuatu pasti akan ada saatnya yang tepat. Aku tahu kalian tidak akan buru-buru menikah karena aku kan? “, canda temanku saat dia mengatakan pada kami bahwa dia akan menikah. Kami seketika membalasnya dengan candaan. Kami sudah begitu kebal dengan pertanyaan “kapan” dari orang-orang dan ketika salah satu diantara kami sudah menemukan jawaban atas pertanyaan itu, semuanya merasakan bahagia. Benar-benar bahagia tanpa ada rasa iri satu dengan yang lain.

Mendengar cerita temanku yang akan menikah, rasanya sangat senang. Seperti WOW, sebentar lagi kamu akan naik level dan menjalani kehidupan yang baru.  Diantara kami, selain dia, ada satu orang lagi yang sudah menunjukkan tanda-tanda menuju pernikahan. Sedangkan yang lainnya, sepertinya masih jauh dari tanda-tanda itu. Memiliki teman yang satu pandangan dan satu nasib inilah yang membuatku sangat santai menjalani hidup dan masih bisa tersenyum lebar saat pertanyaan “Kapan” datang silih berganti.

Bicara tentang cinta dan pernikahan membuatku ingin bercerita. Aku bukan tidak pernah merasakan jatuh cinta, tentu aku pernah tapi sangat jarang. Semenjak duduk di bangku SMA aku sempat dekat dengan beberapa teman cowok, namun lagi-lagi kami terjebak dalam istilah friendzone. Kenapa? Karena aku tidak mau berkomitmen untuk pacaran, aku merasa hanya akan menjalin hubungan dengan orang yang benar-benar aku yakini untuk menjadi pasanganku kelak. Disaat teman-temanku begitu bangga dengan jumlah mantan yang mereka punya. Aku justru bangga karena  tidak punya mantan. Itu berarti aku bisa mempertahankan prinsipku.

Prinsip yang selama ini aku pegang teguh itu tak selamanya mudah dijalankan. Di semester pertama kuliah, aku pun mulai goyah. Kala itu aku bertemu dengan seseorang. Layaknya orang yang jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku sangat sangat mengaguminya. Entah bagaimana aku menjelaskan perasaanku saat itu. Hatiku berdegup kencang ketika melihatnya. Aku salah tingkah saat di dekatnya, dan gugup saat berbicara dengannya. Pertemuan pertama kami memang tak begitu lama, namun dari waktu yang singkat itu justru menghadirkan perasaan mendalam padaku. Bahkan sampai saat ini aku masih susah melupakan sosoknya.

Saat itu sedang ada acara bazar di kampus. Mahasiswa yang terkumpul dalam Rohis  mengadakan bazar untuk mendukung saudara kita yang di Palestina. Aku datang bersma Nisa,  temanku, dia mengajakku ke bazar demi memenuhi keinginanya membeli French Khimar. Entah apalah itu aku tidak tahu. Tanpa banyak bertanya, jadilah aku mengantarnya ke bazar.

Sampai di bazar, kami bertemu seseorang. Kak Rayyan, begitulah Nisa memanggilnya.
“Assalamualaikum Kak Rayyan. Maaf Nisa baru datang, tadi ada jam tambahan. Nisa bantu jaga dimana kak? “, sapa Nisa ke cowok itu.
“Waalaikumsalam Nisa. Wah iya gak apa apa. Di stand sana saja ya Nis bareng sama Dita. Makasih ya.”, jawab cowok tersebut sambil menunjuk salah satu stand kerudung.
“Baik kak. Aku kesana ya.”, kata Nisa sambil menggandeng tanganku berjalan ke stand tadi.

Sesampainya di stand, Nisa pun menghampiri Dita. Mereka kemudian sibuk melayani pengunjung.
“Nis, lo ngajak gue kesini buat jaga stand?”, tanyaku.
“Awalnya enggak sih. Cuma pas banget tadi ketemu kak Rayyan kan gak enak ya kalau gue gak bantu. Udah lo sini aja. Apa mau balik duluan?”, jawab Nisa cengengesan.
“Emm. Gue sini dulu deh. Santai aja. Eh, ngomong-ngomong soal kak Rayyan, perasaan gue pernah denger deh. Dimana ya?”, kataku.
“Dia kan kakak angkatan kita, dulu pas ospek dia yang jadi panitia juga. Lupa ya?”, jawab Nisa.
“Oh iya iya. Perasaan dulu gak begitu. Kok berubah ya”, kataku.
“Berubah gimana? Sama aja ah.”, jawab Nisa.

Hari ini bazar ramai. Banyak pengunjung berdatangan, salah satu stand yang ramai yaitu stand kerudung. French Khimar yang sejak tadi disebut-sebut Nisa itu menarik perhatian pengunjung. Modelnya yang simple dan syari membuat khimar ini menjadi favorit.

Saking banyaknya pengunjung bazar, panitia sempat kewalahan. Untunglah banyak teman-teman lain membantu. Walaupun bazar ini diadakan oleh anak Rohis, tapi mereka sangat terbuka jika ada anak selain Rohis yang ikut bergabung. Seperti aku ini, aku yang awalnya hanya mengantar Nisa pada akhirnya ikut berjualan bersama Nisa dan Dita. Lihatlah hanya tinggal beberapa khimar yang tersisa di meja kami. Barang jualan kami laris manis.

Bazar selesai tepat jam 5 sore. Kami kemudian membereskan perlengkapan dan menatanya untuk kembali dipakai di bazar esok hari. Tepat sebelum adzan magrib tiba, semuanya sudah selesai dirapikan.

“Abis ini ngapain Nis?”, tanyaku ke Nisa. Ini kali pertamaku mengikuti kegiatan anak Rohis. Nisa memang sahabatku, kami satu kelas, juga satu kosan namun kami punya kegiatan yang berbeda. Jika Nisa aktif di Rohis, aku lebih suka aktif di Jurnalistik kampus.
“Biasanya sih, sholat magrib berjamaah dulu Cha. Abis itu makan terus pulang deh. Lo ikut aja yuk.”, ajak Nisa.
“Eh gak enak tapinya gue Nis. Kan gue bukan anak Rohis”, jawabku.
“Udah santai aja. Yuklah ke masjid wudhu siap-siap sholat”, ajaknya.

Selesai sholat masjid, aku, Nisa dan teman-teman Rohis berkumpul. Beberapa dari mereka menyiapkan makan malam. Nasi kotak dan sebotol air mineral berhenti tepat di depanku yang sudah menahan lapar semenjak tadi siang. Tanpa menunggu lama, aku langsung menyantap makananku, begitu juga yang lainnya. Tak berapa lama makanan kami habis tak tersisa. Aku dan Nisa bersiap untuk pulang ke kosan. Nisa berjalan ke arah kak Rayyan dan beberapa kakak tingkat yang berkumpul.

“Kak, Nisa pulang dulu ya.”, pamit Nisa.
“Oh iya Nisa. Terima kasih ya.”, jawab kak Shabrina.
“Makasih Nisa. Oh iya makasih juga buat temennya Nisa. “, katanya menunjukku.
“Aisha kak.”, kata Nisa.
“Makasih Aisha udah bantu kami ya. Jangan kapok.”, kata kak Rayyan.
“Oh tentu kak. Tentu gak kapok”, jawabku setengah gugup.

Oh, dia menyapaku duluan dan berterima kasih. Sebelum benar-benar gugupku terlihat, aku mengajak Nisa beranjak dan pulang. Apakah ini? Kenapa rasanya berbeda saat kak Rayyan menyapaku. Pembawaannya yang menyenangkan dan hangat membuatku mulai kagum kepadanya. Mungkin tanpa kusengaja tapi memang kusadari, saat itulah pertama kalinya tumbuh benih cinta di hatiku. “Rayyan”, nama itu mulai sering berjalan-jalan di pikiranku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: