Senyawa – 1

Usiaku sudah lebih dari seperempat abad tahun ini. Namun aku masih belum tahu benar bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Dibandingkan orang lain, terkadang aku merasa kurang beruntung, tatkala mereka diusia yang mungkin dibawahku sudah bisa merasakan apa itu cinta. Bahkan banyak dari mereka yang sudah menemukan cinta sejatinya, memutuskan untuk mengikat cinta mereka dalam suatuContinue reading “Senyawa – 1”

Jarak – Mungkinkah Dia.

Disadari atau tidak, dirasakan atau tidak, sejatinya dalam kehidupan ini selalu ada pembatas, pembatas yang terkadang mendekatkan atau sebaliknya menjauhkan. Pembatas itu, aku menyebutnya “jarak”. Kali ini aku akan bercerita tentang jarak yang mengiringi kisahku dengannya. Tentang jarak yang semula mendekatkan kami berdua, dan yang perlahan menjauhkan. Aku mengenalnya bukan kebetulan, aku mengenalnya karena orangContinue reading “Jarak – Mungkinkah Dia.”

Mengingatkanmu

“Bukan kewajiban kita untuk membuat orang lain berubah menjadi baik. Tentu bukan! Karena sejatinya perubahan yang kekal bukan berasal dari orang lain melainkan dari diri sendiri. Perubahan yang kekal membutuhkan kesungguhan dan kesungguhan hanya bisa diciptakan dari diri sendiri untuk diri sendiri. Namun, bukan berarti kita hanya bisa diam, kita tidak harus menjadi diam, kitaContinue reading “Mengingatkanmu”

Mendunia

“Aku ingin mendunia”, katanya. “Mendunia?”, aku balas menimpali. Dia dengan cepat menoleh ke arahku. Sepertinya dia kaget melihatku tiba-tiba berdiri disampingnya. Yap, aku baru beberapa detik lalu masuk ke ruangan, barulah aku berjalan mendatangi dia yang sedang asyik melihat-lihat globe yang aku letakkan di atas mejaku. Saat itu masih jam istirahat, demi untuk mengetahui apaContinue reading “Mendunia”

Lihatlah Aku

Hei, lihatlah aku. Mungkin, jika diberi kesempatan, dia akan berteriak seperti itu. Sekencang-kencangnya. Ini bukan tentang apa yang dia terima, hadiah apa yang akan diberikan kepadanya. Namun ini mengenai penghargaan. Bukankah suatu yang wajar jika seseorang menginginkan penghargaan atas apa yang dia kerjakan, atas perjuangan yang dilakukannya. Bukannya dia menginginkan pujian yang membawanya melayang lupaContinue reading “Lihatlah Aku”

Klise (Tiruan) – 2

Tepat di depan sebuah pintu kayu besar, Ciwit berhenti. Dia memandangku. Selang beberapa detik, pintu itu kemudian tersbuka. Aku berada di sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku. Buku-buku itu terletak di sebuah lemari besar namun ada juga yang berada di lantai. Namun semua buku-buku itu tertata rapi. Kesan pertama melihat ruangan ini, aku berpikir bahwaContinue reading “Klise (Tiruan) – 2”

Klise (tiruan)

Beberapa detik, aku merasa terhisap ke dalam sebuah ruangan. Cepat dan gelap, hanya itu yang aku rasakan. Seperti ditarik ke mesin penyedot debu, itu hal terakhir yang bisa aku rasakan. Setelah itu hanya gelap. Pipiku terasa dingin, aku pun perlahan membuka mataku. Aku  usap pipiku dan kurasakan dinginnya air yang menetes dari ujung daun yangContinue reading “Klise (tiruan)”

Cinta ~ Part 4

Teruntuk kang Riyanto, di Jakarta Sudah lama Inah menantikan kabar dari akang, syukurlah akang baik-baik saja. Inah senang mendengarnya. Inah merasa bahagia mendengar akang bisa mencapai cita-cita akang, bekerja di perusahaan motor, pergi ke Jepang. Tentunya setelah ini Inah berharap akan lebih banyak cita-cita akang yang tercapai. Inah tau akang akan bekerja keras untuk mendapatkannya.Continue reading “Cinta ~ Part 4”

Berpindah

Gadis kecil itu aku. Dulu aku sangat membenci perpisahan, namun sekarang justru aku yang menjadi pelaku utama dalam kisah perpisahan ini. Bukan, bukan perpisahan, aku lebih suka menyebutnya perpindahan tempat. Selain selalu mengingat pesan ibuku, aku selalu mengingat pesan yang berkata bahwa dimanapun kita berada, kita pasti mendapatkan keluarga baru. Itulah pegangan dalam menjalani hidupkuContinue reading “Berpindah”

Cinta ~ Part 3

Seperti biasa, walaupun aku mencoba bangun lebih pagi namun ibu selalu bangun lebih awal dariku. Saat aku bangun, ibu sudah ada di dapur, sedang memasak sarapan untuk kami. Aku bergegas mengambil sapu yang digantungkan di dekat pintu dapur kemudian mulai menyapu rumah. Sejak lantai rumahku beralaskan tegel, aku lebih muda menyapu dibandingkan saat masih beralaskanContinue reading “Cinta ~ Part 3”