PART II

PRA SIDANG….

“Apa Selasa sidang? Sherinaa ? ” , suaraku berteriak dengan nada sedikit kaget. Selama ini aku dan teman-temanku berharap sidang mata kuliah ini ditiadakan. Walaupun harapan itu sangat kecil. Dan akhirnya harapan kecil itupun berbanding lurus dengan kenyataan. Sang dosen akhirnya mengumumkan pelaksanaan sidang yang telah kami nantikan kepastiannya. Sudah beberapa hari aku dan teman-temanku menahan diri tetap berada di kampus hanya untuk menantikan sidang mata kuliah ini. Sidang kali ini adalah sidang terakhir dalam pengambilan nilai UAS. Artinya, dengan selesainya sidang, maka aku dan teman-temanku akan segera menikmati masa-masa menjadi mahasiswa nganggur sambil menunggu pengumuman yudisium dari institusi.

Sore itu aku dan teman-temanku sedang berkumpul di bawah pohon ‘Sakura’ untuk bersiap-siap hunting makanan di Cikini. Dari seorang teman cewek yang mendapatkan info langsung dari dosen yang bersangkutan, salah satu temanku mendapatkan sms  yang berisi pemberitahuan bahwa sidang akan dilaksanakan dalam dua hari, Selasa (17/8) dan Jumat (20/8) dimulai pukul 8.00 WIB. Urutan maju berdasarkan urutan NIM. Dengan cepat temanku yang mendapat julukan ‘sie jarkom’ melakukan perannya, menyebarkan berita bahagia kepada teman sekelas. Dengan mendapat berita itu maka penantian kami selama ini menjadi tidak sia-sia, walaupun sidang memang selalu menimbulkan ketegangan yang keterlaluan, namun jika ditunda terus akan semakin menyebalkan. Selain itu dengan selesainya sidang ini berarti kami akan sepenuhnya bebas dari tanggungan UAS.

Dalam project ini kami bekerja secara berkelompok, satu kelompok ada dua orang, maka waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan sidang pun singkat. Pastas saja dosenku hanya menyediakan dua hari untuk menyelesaikan sidang. Dalam penentuan hari sidang, aku merasa menjadi salah satu orang yang beruntung, dan aku sangat bersyukur  dengan nama pemberian orang tuaku. Adininggar Khintana Dewi, nama itu menjadi sangat menolongku. Kenapa? Karena dengan nama itu aku mendapatkan urutan maju sidang yang ketiga. Berarti akan semakin cepat waktuku untuk bebas. Yey..!! Begitu juga teman sekamarku, walaupun dia bernama Zaitun, namun dia bisa lebih dulu maju daripada aku. Nampaknya dia juga harus berterima kasih kepada orang tua teman seprojectnya karena memberi nama anaknya dengan nama Ade. Dengan begitu dia maju urutan kedua. Tepat sebelum aku. Kami menjadi sangat senang karena bisa segera membeli tiket untuk pulang kampung. Dan karena ini perjuangan terakhir, maka kamipun akan bersungguh-sungguh. Yeah.. Fighting..!!

Continue reading “PART II”

PART I Berburu Obat Pengurang Kejenuhan

“Packing selesai.” Aku dan teman sekamarku selesai meletakkan semua perlengkapan ke dalam tas kami. Malam ini benar-benar malam yang telah kami nantikan. Setelah bertahan sekuat tenaga menghadapi kondisi kejenuhan yang hamper mencapai status akut, akhirnya kami sampai juga pada malam ini. Malam ini sangat spesial. Selain merupakan malam di bulan Ramadhan, malam ini juga akan menjadi malam terakhir kami di kosan. Huhuhu.. Kenapa? Karena besok pagi, aku dan temanku akan meluncur ke rumah masing-masing. Perjalanan khusus yang sangat menyenangkan bagi anak perantauan macam kami ini.

Unni, teman sekamarku sekaligus menjadi satu-satunya orang yang merasa senasib denganku. Bersama-sama menjalani kejenuhan di kosan. Jika kalian ingin tau, baiklah akan aku jelaskan secara singkat siklus kehidupan kami beberapa minggu terakhir ini. Karena semua urusan di kampus bias dikatakan selesai, maka kami hanya beberapa kali ke kampus. Itu pun jika ada urusan penting. Dan jika tidak, hal yang kami lakukan seperti ini, silahkan menyimak. Dimulai dari malam hari, kami hidup bak ratu kalong, begadang hingga larut malam, begadang hanya untuk menonton film dan facebookan. Aku memilih drama Korea sebagai pengisi waktuku, sedangkan Unni memilih anime.Sekitar jam 12 atau lebih kami mulai berHOAM.. HOAM.. ZZZ.. Tak berapa lama, setelah berhoam yang terakhir kalinya, kami memutuskan untuk beristirahat. TIDUR. Ketika adzan subuh berkumandang, barulah kami bangun, melaksanakan kewajiban sebagai umat beragama. Dan setelah semua ritual selesai kami kembali tidur. TIDUR. TIDUR. TIDUR. Tiktoktiktok. Sekitar pukul 9-10 barulah kami bangun. Kalau dihitung-hitung lama banget yah kami tidur.Tapi sebenernya ga lama kok. Kami bangun tapi masih enggan beranjak dari kasur. Kemudian mandi dan beli makan. Siklus hidup ini berlaku sebelumpuasa. Setelah mengisi perut, kami seperti biasa kembali menatap layar laptop, atau layar televisi. Bertahan beberapa jam dan kami akan tertidur lagi tanpa sadar. Begitu seterusnya.. Jangan heran kawan, mungkin menurut kalian hal yang kami lakukan benar-benar hal yang gakbermanfaat. Kalau orang-orang bilang wasting time banget. Bagaimanapun itu, itulah siklus hidup kami yang berhasilnmembuat kami berada dalam titik kejenuhan yang akut.

Continue reading “PART I Berburu Obat Pengurang Kejenuhan”

Sempat Merasa Sendiri

Lagi-lagi rasa sepi itu menghinggap. Seperti nyamuk nakal yang datang dan menanti untuk dibasmi. Masalahnya saat ini yang stock obat nyamuk di dekatku sangat sedikit jadi harus mengerahkan segenap kemampuan untuk membasminya dengan tanganku sendiri.

Satu, dua, mungkin beberapa kali aku merasa sendiri disini. Perasaan itu kadang muncul dan kadang tenggelam. Aku menyadari banyak orang disini yang menyayangiku, mereka yang meyempatkan waktunya untuk memberikan hadiah spesial di hari spesialku, 26 Juni 2012. Aku sangat terharu dan bersyukur memiliki mereka. Saat itu aku merasa bahwa “ Kamu disini tidak sendiri, ada mereka yang menyayangimu”.

Dan akhirnya aku meyimpulkan bahwa, merasa sendiri memang suatu hal yang tidak bisa dihilangkan. Pasti seseorang akan dihadapkan dengan keadaan dimana dia hanya ditemani dirinya sendiri. Namun, persaan merasa sendiri itu tidak boleh berlarut-larut. Karena sejatinya dimanapun kita berada  “Alloh akan memberikan keluarga bagi kita”.

NB:

Kalau lagi kaya gini jadi kangen sama ‘orienka’. Miss u all T-T

Di depan tana  IM-K4

11 Juli 2012 / 9.37 PM

Kalkulator Hidup

Jika dalam kalkulator hitung  1+1 = 2. Maka dalam kalkulator hidup 1+1 = 3 ataupun 1+1=0.  Jadi apapun bisa saja terjadi dalam hidup ini. Satu kebaikan yang kita berikan ditambah satu kebaikan lainnya akan membuat kita menerima kebaikan lain, bahkan jumlahnya bisa lebih dari yang kita berikan. Namun, terkadang satu kebaikan yang kita berikan ditambah satu kebaikan lainnya akan menghasilkan nol kebaikan. Tapi tenanglah, bukan berarti memberikan kebaikan itu sia-sia. Setiap kebaikan yang kita tanam akan menjadikan kebaikan lain yang kelak kita tuai. Mungkin dari orang yang berbeda dan mungkin dalam waktu yang tak sama juga. Percayalah, kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Jadi  + (+) + = +.

Di depan tana  IM-K4

11 Juli 2012 / 9.01 PM

Peringatan ! Pengertian yang salah dapat menimbulkan salah pengertian !

Mengerti orang lain itu susah, sama susahnya ketika  mengharapkan orang lain mengerti kita. Dan aku selalu mencoba mengerti orang lain, membayangkan posisiku sebagai mereka ketika akan melakukan suatu hal yang menyangkut dirinya. Dengan begitu aku berharap tidak ada yang salah dalam tindakanku dan orang lain juga bisa mengertiku.

Nah sekarang masalahnya, sesuatu memang tidak bisa dipaksakan dan terkadang tidak menghasilkan sesuai yang kita harapkan. Aku sekarang ini berada di posisi tengah, samping kanan kiriku ada orang-orang yang harus aku jaga perasaannya. Aku mencoba mengerti mereka, menempatkan posisiku sesuai yang aku anggap benar, belajar dari pengalaman dengan harapan tidak akan menyebabkan ketidaknyamanan. Namun, mungkin penempatan posisiku saat ini masih belum benar yang membuatku serba salah.

Sebenarnya aku berharap mereka pun bisa mengerti keadaan ini dan mengatur posisi yang tepat. Namun entahlah, orang itu berbeda. Tidak semua orang jalan pikirannya sama sepertiku. Dan satu hal yang harus aku tekankan pada diriku adalah tetap berusaha memberikan pengertian kepada mereka, pengertian yang benar tentunya. Aku tahu aku pasti bisa !

Hanya waktu yang bisa menjelaskan semuanya. Karena waktu juga yang akan membuat suatu hal yang baru menjadi biasa ketika sering dilakukan.

Di depan tana  IM-K4

11 Juli 2012 / 9.53 PM

Menunda

“ Anda bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan. Tapi hidup tidak pernah menunda urusannya untuk menunggu Anda berubah. Sebuah rencana yang hebat dapat gagal hanya karena kurangnya kesabaran. “

Jika bisa memilih maka aku memilih tidak menunda, namun jika memang harus menunda semoga saja aku bisa memanfaatkan waktu-waktu penundaan tersebut menjadi lebih bermanfaat. Menunda, menjadi suatu hal yang sering dilakukan. Jika saja menunda yang dimaksudkan adalah menunda pekerjaan sia-sia untuk melakukan hal lebih berarti maka hal itu akan sangat baik. Semoga saja seperti itu dan tidak berlaku hukum yang sebaliknya.

Pagi ini, aku mendapatkan kabar penundaan untuk kedua kalinya. Penundaan sidang project tepatnya, sidang yang rencananya minggu depan akan ditunda menjadi minggu depannya lagi. Akan lebih banyak waktu yang tersisa untuk mempercantiknya. Selain itu ada kabar bagus lain yang mengiringi penundaan sidang, aku bisa mengikuti Seminar Motivasi Rohis yang sebelumnya terancam gagal ikut gara-gara sidang dan aku bisa mulai menyicil mengerjakan project-project yang lain. Memang untuk niat yang baik, Allah selalu memberikan jalan keluar yang baik pula. Jika Allah telah memberikan kesempatan yang panjang, maka sekarang saatnya aku untuk menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin dengan tidak menunda segala urusan. Karena hidup tidak akan menunda urusannya untuk kita. Hwaiting ^^

Kampus tercinta

14 Juni 2012

11.26 AM

Cinta Itu untuk Belajar

Dicintai atau mencintai ? Enakan mana ya ? Pertanyaan yang kadang terlintas dipikiran anak-anak muda, seumuran anak SMA lah. Mungkin pertanyaan itu muncul ketika dihadapkan dengan kegalauan. Karena aku pernah SMA, maka pertanyaan itupun pernah terpikirkan olehku. Namun karena saat itu juga aku masih muda jadi terasa seperti angin lalu. Cepat terlupakan.

Oke, kali ini aku tidak akan membahas tentang apa yang aku katakan di paragraf pertama. Namun tentang judul tulisanku kali ini “Cinta itu untuk belajar”. Maksudnya apa ya? Malam ini, disela-sela istirahatku setelah mencuci baju, kalimat itu tiba-tiba muncul saja di pikiranku. Mungkin karena terlalu bersemangat ingin kembali mengisi blog baru maka muncul ide secara tiba-tiba.  Hehe

Dimulai dari kalimat  “ Di dunia ini tidak ada yang sempurna “  yang berarti sangat tidak mungkin jika kita mencari kesempurnaan di dunia ini. Apapun itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Lalu apa hubungannya dengan cinta ? Sebenarnya tak hanya cinta kata yang tepat untuk membuat kita mengerti arti dari ketidaksempurnaan. Banyak hal lain yang akan mengajarkan kita arti kata tersebut. Namun cinta mungkin bisa menjadi satu hal yang paling bisa mengajarkan keduanya.

Kita tak harus mencintai ketika kita terpilih menjadi orang yang dicintai. Namun alangkah baiknya jika kita bisa dicintai dan mencintai. Ketika kita mencintai maka saat itulah kita harus mengenal kata “ketidaksempurnaan”. Jika menuntut kesempurnaan maka jangan harap bisa mencintai. Karena, Cinta itu tulus, menerima dengan apa adanya. Dengan begitu cinta juga akan merima segala bentuk ketidaksempurnaan.

Maka mulailah dengan cinta, karena cinta itu belajar. Belajar tentang keikhlasan.

Willkommen

                Berhubung tadi pas jam kuliah pak dosenku memberi surprise dengan mendatangkan mba1 bule dari Jerman maka sebagai ucapan syukur atas terbentuknya blog baruku dan sebagai ucapan selamat datang untuk teman-teman, kali ini aku ingin menyapa kalian dengan bahasa Jerman juga.

“ Willkommen freund, herzlich willkommen auf meiner Lebensgeschichte. Wir sehen uns in Deutchland “ 2

Anggaplah tulisan ini bebagai ucapan tulisan selamat datang, walaupun bukan postingan pertama. Aku ketika sedang menulis ini merasa sangat bersemangat untuk menulis, kenapa? Karena aku begitu antusias untuk mengisi blog ini, seperti yang aku katakan, ini blog baruku. Sebelumnya aku sudah mempunyai blog yang lumayan banyak menerima curahan hatiku, bukan aku berpaling darinya namun aku ingin suasana baru, dan menjadikan blog ini sebagai catatan perjalanan hidupku mulai ketika aku menuliskannya sampai nanti, karena sudah saatnya mulai melupakan masa kegalauan dan keremajaan dan mulai melirik masa ketenangan dan kedewasaan.

Pertama kali aku mengatakan kepada seseorang yang akhirnya membuat blog ini untukku adalah “aku ingin membuat blog yang dewasa”. “Dewasa”? Mungkin dia sedikit kurang mengerti kata-kataku. Mungkin karena usiaku yang mendekati kepala dua, maka kata dewasa mulai cocok denganku. Namun apapun itu, membuat blog baru adalah sesuatu yang ingin aku lakukan. Tentang hubungannya dengan kata dewasa, bukan berarti semua tulisan di blog ini akan aku isi dengan tulisan yang penuh kedewasaan, bukan, karena itu bukan aku. Namun aku akan berusaha mengisinya dengan sesuatu yang berbeda dibandingkan tulisan di blogku sebelumnya.

Sedikit sharing, tadi ketika sesi  tanya jawab bersama mba bule, salah satu temanku menanyakan perbedaan kultur antara Indonesia-Jerman yang harus kami antisipasi jika kami ingin melanjutkan belajar di Jerman. Dengan terbata-bata mba bule itu menjawab pertanyaan itu. Dan dengan sigap pak dosenku segera menjelaskan kembali jawaban mba bule kepada kami. Satu hal yang sangat penting harus kami persiapkan adalah kedisiplinan. Kata pak dosenku,

 “Alam mendidik mereka untuk disiplin, dan mereka pun melakukannya“

Menurut penjelasan pak dosenku, ketika musim dingin, maka disitulah alam mendidik mereka. Mereka harus tepat waktu jika akan berpergian atau melakukan sesuatu di luar, menyesuaikan suhu yang dengan seketika bisa berubah. Mungkin kedewasaan juga seperti itu. Alam akan mendidikku untuk menjadi dewasa, perlahan namun itu pasti akan terjadi dan aku akan melakukannya.

Saat di kelas bersama mba bule, teman-temanku terlihat begitu antusias, mungkin  beberapa dari mereka berkeinginan melanjutkan belajar ke negara itu. Sedangkan aku, sampai saat ini belum terpikir apakah aku benar-benar ingin melanjutkan belajar di luar negeri atau tidak. Walaupun sedikit, pasti keinginan itu ada. Sedangkan negara yang aku pilih, bisa jadi Jerman bisa juga negara lain. Dan ketika aku ingin memutuskan untuk melanjutkan belajar di Jerman, maka aku harap bisa berjumpa dengan mimpiku di sana.

Catatan kaki :

1 “mba” panggilan sapaan teman-temanku ke bule itu

2  Dalam bahasa Inggris berarti  “ Welcome friend, Welcome to my life story.. See you in Germany “ atau dalam bahasa Indonesia “ Selamat datang teman, selamat datang diperjalanan hidupku. Sampai berjumpa di Jerman “.

Pesan Ibu untuk Anaknya

My first essay..

Pesan Ibu untuk Anaknya

                Enam pulun enam tahun sudah usia Ibu Pertiwi.  Tahun ini, usianya pun bertambah lagi. Begitupun tahun-tahun selanjutnya, akan selalu bertambah satu setiap tahunnya. Usia menandakan tingkat kematangan. Enam puluh enam  tahun bukan usia yang muda, bukan juga usia yang tua. Enam puluh enam tahun menunjukkan betapa banyak hal yang telah dilewati. Deretan peristiwa dan kejadian yang telah ibu pertiwi alami, Berjuta perasaan yang mengikuti setiap kejadian tersebut.  Perasaan sedih melihat jerit tangis  anak bangsa, kecewa melihat derita anak bangsa.  Namun, perasaan lain juga muncul, perasaan senang ketika melihat canda tawa anak bangsa, rasa bangga melihat keberhasilan anak bangsa, dan rasa haru melihat anak bangsa mengibarkan merah putih di negeri lain.

Terlalu banyak cerita dalam  kehidupan ibu pertiwi. Berawal dari keberadaan ibu pertiwi sebagai salah satu  negara kepulauan terbesar di dunia. Ketika orang-orang barat menemukannya, hingga mereka yang berlomba-lomba datang untuk mencari hasil bumi yang begitu melimpah. Berlanjut ketika mereka mulai memindah tangankan ibu pertiwi, Mereka yang merasa memiliki hingga berhak memindah tangankan ibu pertiwi. Padahal sama sekali tidak. Ibu pertiwi bukan milik mereka, ibu pertiwi milik kita dan  anak cucu kita kelak.   Mungkin itulah satu kalimat yang membangunkan  kembali semangat anak bangsa untuk kembali memiliki ibu pertiwi seutuhnya, secara dejure maupun de facto. Akhirnya perjuangan pun berlangsung, ribuan nyawa dipertaruhkan, darah  mengalir disana sini. Hasil yang sepadan pun didapatkan, ketika dengan suara lantang salah satu anak bangsa mengumandangkan pernyataan kemerdekaan ibu pertiwi. Peristiwa itu yang sampai saat ini dan seterusnya akan dikenang sebagai hari lahirnya ibu pertiwi, pertama kalinya terlahir sebagai negara kesatuan. Ditandai dengan bersatunya semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, satunya cita-cita demi ibu pertiwi.Continue reading “Pesan Ibu untuk Anaknya”