Cerpenku

Tempat Hatiku Berlabuh ~ Part 2

Langkahku cepat menaiki tangga, lantai 4 itu tujuanku. Sesekali aku sedikit mengangkat rok panjangku. Ternyata memakai rok panjang ditambah dengan sepatu pantofel bisa membuat langkahku semakin pelan. Seumur-umur baru kali ini aku memakai rok panjang lengkap dengan sepatu pantofel cewek, itupun karena aturan yang tidak mungkin dilanggar. Nah, akhirnya aku menemukan satu aturan yang tak bisa dilanggar, setidaknya dalam hubungannya dengan keberadaanku disini.

Masih di ruangan yang sama, aku lihat sekitar, beberapa kelompok sedang berkumpul dengan satu laptop di depan mereka. Berdiskusi menyiapkan materi yang akan dipresentasikan hari ini. Yah, hari ini penentuan siapa kelompok terbaik diantara semua kelompok. Bola mataku melibas semua sudut ruangan, dan tak satupun orang dari kelompokku yang kutemukan. Tiba-tiba handphoneku berdering, panggilan masuk, tertulis nama Echa.

“ Hallo, assalamualaikum.”, sapaku.

“ Rana dimana? ni Echa ma temen-temen di jembatan lantai 3 ngerjain presentasi, kesini ya.”

“Di lante 4, Iyya ni ksana.”, jawabku.

Kemudian panggilan singkat itupun berakhir, aku kembali harus menuruni anak tangga, satu lantai lagi menuju tempat dimana teman-temanku berada.

Satu kursi masih kosong, langsung saja aku duduk disana. Satu, dua, tiga. . .  Semua kelompokku lengkap, hanya aku yang datang terakhir. Aku terdiam, mungkin butuh sejenak bernapas panjang setelah melakukan olahraga naik turun tangga.

“Coba liat deh. Ada yang perlu ditambahin lagi gak? Gue buat semalem baru dapet ini.”

“Aku?”, jawabku.

Dia mengangguk, menggeser laptopnya ke arahku. Aku pun membaca presentasi yang berada di depanku, sedikit mengulas apa yang aku dapatkan kemarin ketika plan tour yang mungkin bisa menambah bahan presentasi kami.

“Coba ditambahi distribusi produk, atau mungkin budaya perusahaan yang bisa kita teladani”.  Jawabanku datar, aku pun bingung mau menambah materi apa, menurutku presentasi yang dibuatnya sudah cukup lengkap, seperti makalah 20 halamannya.

“Boleh juga, bentar ya gue tulis dulu”.

“Kalau menurut gue sih gak perlu, ntar cakupannya terlalu luas, yang penting singkat tapi mengena”, sela Ado salah satu teman sekelompokku juga.

“Gak papa lah, tambahin dikit biar agak banyak materi kita”, jawab Dana yang mulai menggeser laptopnya dan menulis apa yang aku sarankan.

Waktunya masuk ruangan, kami pun naik ke lantai 4. Seketika layout ruangan terlihat berbeda dari kemarin. Satu dua bangku telah bergeser dari posisi awal, saling merapat dan mengelompok. Kami pun masuk ke ruangan, semua bangku sudah penuh, hanya tinggal beberapa di sudut kiri paling belakang ruangan. Kami menggeser beberapa bangku, merapatkannya hingga membentuk formasi yang pas untuk berdiskusi.

Beberapa menit kami terhanyut dalam diskusi ini, beberapa selingan menambah keakraban kami, dan beberapa anak merasa semakin akrab, mungkin aku bukan salah satunya. Aku  masih memilih untuk mengeluarkan suara seperlunya, mungkin aku masih merasa canggung berada di dunia baru dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan berbeda dengan teman-temanku disana, masih mengamati dan beradaptasi, itu yang kulakukan saat ini.

“Ran, ketikin ini dong”, kata Dana.

“Iyya, sini”, jawabku sambil menggeser laptop ke hadapanku.

Jariku terasa kaku di atas tuts keyboard, gerakan melambat dan satu lagi, semua menu di microsoft power point itu terasa asing bagiku. Aduh.. Apa yang terjadi? Aku terlalu kaget ketika Dana memanggilku, mungkin dia satu-satunya teman sekelompokku yang bersikap lebih baik dari yang lainnya. Semuanya baik memang, tapi dia lebih.

“Kenapa Ran? Masa anak MI ga bisa desain ppt yang bagus”, candanya.

Aku hanya membalas dengan senyuman.

“Udah ni”, jawabku.

Dana kembali menggeser laptop ke depannya,  melihat sedikit sentuhan tangan yang kuberikan pada presentasi kami. Tidak banyak memang, tapi lumayan lah, setidaknya menurutku.

Bapak pembimbing kami dan seorang ibu masuk ke ruangan. Seperti biasa dia mengawali pagi ini dengan sapaan khasnya. “Gimana masih bersemangat?” suaranya lantang mengarah kepada kami.

“Semangad pagi”, sahut kami yang tidak kalah lantang.

Bapak pembimbing kami sedikit berbicara untuk membuka acara pagi ini, entah apa yang dia ucapkan, aku tak mendengar dengan jelas  karena posisiku yang dibelakang. Beberapa menit kemudian beliau membuka presentasi pagi ini. Menawarkan bagi kelompok yang ingin maju terlebih dahulu. Beberapa kelompok terlihat antusias mengangkat tangan, tanda mereka sudah siap dengan presentasi mereka. Kami pun tak kalah, namun keberuntungan belum di pihak kami. Yah, posisi menentukan prestasi. Tapi kali ini posisi menentukan urutan maju, karena kami di belakang maka kami pun maju terakhir. Tak apalah, terakhir bukan berarti terbelakang kan? Semangad pagi..

Satu per satu kelompok maju dengan sukses, presentasi mereka bisa dibilang diatas rata-rata. Slide-slide dengan desain yang menarik serta penyampaian materi yang lancar dari perwakilan kelompok menambah nilai plus bagi mereka.

“ Eh, ntar kita majunya gimana? Semuanya maju atau satu orang saja?”, tanya Putra.

“ Jangan semuanya lah, pilih aja satu moderator .”, sahut Ado.

“Trus siapa?”, tambah Putra.

“Echa aja tuh, bisa kan? Ayolah Cha, bisa lah.”, sahut Aldi ditambah dengan ekspresi muka genitnya.

“Gimana ya?”, jawab Echa datar.

“Ya udah Echa aja”, kata Dana.

Aku hanya mengangguk mengiyakan, menambah dukungan agar Echa mau menjadi moderator di kelompok kami. Akhirnya Echapun setuju, dialah yang nantinya akan mewakili kelompok kami ke depan, sebagai moderator dan akan ada Dana yang menemani Echa sebagai pembawa materi. Oke deal, semua telah disiapkan, tinggal tunjukkan kehebatan kita dihadapan nereka.

“Ran, ntar gue ngomong gimana ya?”

“Maksudnya gimana apanya Cha?”, jawabku.

“Itu membuka presentasi, awalnya ngomong apa gitu? Aduh gue ga ngerti”.

“Ya byasa aja, kya pas presentasi di SMA, pernah kan?”

“Iyya tapi gimana? Lupa aku.”

“ Gini aja, byasa assalamualaikum, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami bla bla bla. . . Akhirnya dia berhasil memaksaku membuka mulut lebih lama, satu persatu kalimat meluncur dari mulutku, menjelaskan padanya cara membuka presentasi. Sebenarnya aku pun tak tahu pasti cara menjadi moderator yang baik, namun pengalaman belajar di SMA ku yang terbiasa presentasi mungkin cukup untuk mengajari Echa. Setelah selesai kujelaskan, kulihat dia, mengangguk – angguk tanda mengerti. Echapun kembali mengulangi kalimat yang aku ajarkan.

“Echa ngapain? Bisa kan jadi moderator?”, tanya Dana.

“Eh eh iyya bisa.”, jawab Echa.

“ Ato Rana aja yang jadi moderator, tadi keliatan lancar banget.”, Dana menambahkan ucapannya.

“Echa bisa kok. Echa aja.”, jawabku.

Satu kelompok lagi, setelah ini kelompokku yang berkesempatan untuk presentasi.

“Ada pertanyaan?”, kata pembawa materi dari kelompok itu. Dia terlihat sangat percaya diri di depan, siap melahap semua pertanyaan yang diajukan anggota kelompok lain. Sayangnya hanya beberapa pertanyaan yang meluncur, mungkin teman-teman sudah kehabisan stock pertanyaan. “Gimana ntar kelompokku maju, paling akhir lagi, apa mungkin ga ada pertanyaan? Krik krik banget dong.”, batinku.

Akhirnya seorang cowok super PD yang sejak awal pertemuan selalu unjuk gigi pun kembali ke bangkunya. Tepat di depan bangku kelompokku. Sekarang giliran kelompok kami maju.

“Bangga bener maju terakhir. Kaya apa sih hasilnya?”, ujar cowok super PD itu sebelum duduk di bangkunya.

Cletukan pedas buat kami, sedikit meremehkan, namun dia belum tahu kehebatan kami. Tak usah dipikirkan kawan, let’s fight.. Buat mereka terkesan.  *on fire

“Echa ayo maju”, kata Aldi. Sedangkan Echa masih saja tidak maju.

“Dana aja deh”, sahut Echa.

“Rana aja gantiin Echa, gimana?”, kata Dana.

“Ga ah.”, jawabku singkat.

Suatu kondisi yang tidak terprediksikan, Echa akhirnya digantikan oleh Dana. Dana perlahan tapi pasti maju ke depan dan membawakan presentasi kelompok kami. Dia terlihat begitu percaya diri  dan bisa membawa suasana dengan baik. Pembawaan yang tenang, menambah nilai plus baginya. Beberapa menit sudah akhirnya presentasi diakhiri dengan munculnya slide  terakhir bertuliskan “terima kasih”. Sesi tanya jawab pun dibuka, tak seperti yang aku bayangkan. Beberapa teman terlihat mengacungkan jari, berebut memberi pertanyaan kepada kami, mungkin mereka tertarik dengan topik yang kami sampaikan.

Di depan, Dana masih berdiri dan menunggu pertanyaan datang. Satu pertanyaan meluncur ke arah Dana. Sedangkan kami di belakang ikut membahas jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

“Sebelum saya menjawab, saya mau memberikan kesempatan bagi anggota kelompok saya jika ingin menjawab terlebih dahulu, silahkan.”, matanya mengarah kepada kami, sedang kami hanya memberi isyarat agar dia yang menjawab pertanyaan itu.

Sebuah jawaban meluncur  lancar darinya, jawaban yang mungkin tak ada orang lain yang berpikir seperti itu. Jawaban untuk hal yang belum terpikirkan orang lain, terkesan gokil namun dia membawakannya dengan yakin dan penuh pertimbangan.

“Semuanya mungkin disini, tinggal kita mau berusaha mewujudkannya atau tidak.”, kata terakhirnya menutup sesi tanya jawab dan sekaligus menutup acara presentasi ini.

Kami menyambutnya dengan applause dan dia kembali melangkahkan kaki menuju bangku belakang tempat kelompok kami berada. “Ini hanya soal urutan maju, yang belakang bukan berarti terbelakang”, batinku sebagai bentuk jawaban atas ucapan cowok super PD yang meremehkan kelompok kami.

Bapak pembimbing kami kembali menguasai acara, kini saatnya beliau menentukan kelompok mana yang berhasil merebut predikat sebagai kelompok terbaik. Dag dig dug, semua jantung di ruangan ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Semua pasti berharap kelompoknyalah yang terbaik. Namun itu hanya angan-angan, mungkin jantung mereka akan kembali berdetak dengan normal atau semakin berdetak cepat ketika bapak pembimbing kami menyebutkan “kelompok terbaik jatuh pada kelompok yang terakhir maju, selamat”.

AAAAA.. sungguh tak disangka, semua mata dengan sekejap mengarah ke belakang, bangku paling belakang di pojok kiri ruangan, ya semua mata tertuju pada kami. Sedangkan kami tak menyangka bisa mendapat predikat kelompok terbaik. Semua terjadi karena usaha kami dan jawaban yang hebat dari Dana, terima kasih Dana. Suatu akhir yang manis.

Begitulah kisah singkat pertemuanku dengan Dana, cowok bertopi hitam dengan buku yang selalu dibawanya. Setelah acara presentasi itu selesai, Dana semakin bersinar. Bapak pembimbing kami dan teman-teman selalu mengingatnya dengan jawaban gokilnya yang sangat menginspirasi. Suatu jawaban sebagai bentuk tantangan terhadap kemajuan teknologi masa depan. “Kenapa kita tidak membuat mobil terbang? Suatu solusi untuk mengantisipasi ketidakseimbangan jalan raya dengan padatnya kendaraan”, itulah jawabannya.  “Mobil terbang”,  kata itu yang membuat semua orang di ruangan itu mengenalnya. Satu lagi kata-kata yang berhasil membuatku terkesan “khairunnas anfauhum linnas”, suatu kalimat yang diucapkannya ketika mencalonkan diri sebagai ketua bagi kami semua  dan kata itulah yang  akhirnya mengantarkannya menjadi ketua bagi mahasiswa baru di ruangan ini.

“Selamat Dan, semoga berkah”, ucapan singkatku setelah ia terpilih jadi ketua.

“Ini ma bukan berkah, tapi musibah.”, candanya.

Aku pun melangkahkan kaki keluar ruangan, acara telah selesai dan kami akan kembali pulang ke rumah merayakan lebaran yang beberapa hari lagi datang. Satu minggu libur, setelah itu kami akan kembali lagi menjalani kuliah di kampus tercinta.

See you later Jakarta . .

Aku sudah mulai mengenal semuanya, mengenal kampus baruku, mengenal teman-teman baru, mengenal budaya baru, mengenal dunia baru dan mulai mengenal sosok  baru dihatiku, Dana.

Advertisements

8 thoughts on “Tempat Hatiku Berlabuh ~ Part 2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s