Pop Up Form Using Bootstrap

Aku pernah nulis tentang membuat Pop Up form seperti yang ada di postingan PHP – Pop Up form untuk edit, delete, dan add. Ternyata lumayan banyak yang comment dan minta untuk dikirimkan scriptnya. Sampai sekarang juga masih ada beberapa yang comment disana.

Nah, di postingan ini aku mau ngasih tau bagi adek-adek yang mungkin baru belajar programming, bahwa ada cara baru yang lebih mudah untuk membuat Pop Up form yaitu menggunakan Bootstrap template.

Caranya, kalian tinggal download saja Bootstrap Template dari Google, banyak kok pilihannya dan itu free. Kalau kalian udah download, disana banyak banget contoh penggunaan bootstrap mulai dari Responsive Table, yaitu tabel dengan filter dan paging otomatis  langsung bisa dipakai jadi kalian ga perlu repot-repot lagi nyari cara buat bikin paging di tabel.

Selain itu, ada juga yang namanya “Modal”, nah “Modal” ini lah yang bisa kalian gunakan untuk membuat Pop Up form. Kalian gak perlu otak-atik jquery nya atau download jquery tertentu seperti yang aku lakukan di postingan ini. Kalian cukup panggil modal-nya aja sesuai dengan yang kalian inginkan.

Ini aku kasih contoh penggunaannya :

Continue reading

Jarak – Pernyataan Cinta.

Selama satu tahun kuliah, baik aku, Aida, mapun Sari masih sama-sama menyandang status jomblo. Aku lebih memilih mempunyai banyak teman dibandingkan berpacaran.  Aku hanya akan menjalin hubungan serius jika aku sudah siap berkomitmen.   Oleh karena itu setiap kali Sari dan Aida membahas  hubunganku dengan Athar, aku lebih suka menyebutnya sebagai hubungan persahabatan.  Dengan hubungan ini aku ingin menepis ucapan kebanyakan orang bahwa tidak ada seorang perempuan yang bisa bersahabat dengan laki-laki tanpa ada salah satu yang menyimpan rasa suka. Aku pikir, ucapan itu tidak berlaku untukku dan Athar. Kami sama-sama nyaman dengan hubungan persahabatan ini.

Namun tak kusangka sampailah aku pada titik yang membuatku menyadari sesuatu. Ternyata selama kami justru terkurung dalam istilah yang kami ciptakan sendiri yaitu “Sahabat”. Istilah yang awalnya menyenangkan namun pada akhirnya juga bisa membuat kami merasa kehilangan. Istilah yang tidak mempunyai kekuatan dalam hubungan kami. Istilah yang juga digunakan sebagai alasan pihak lain untuk menciptakan istilah baru yaitu “Cinta”.

Continue reading

Jarak – Mendekat.

“Han, tau gak Athar kemana? Udah semingguan dia ga masuk kuliah.”, tanya Sari.

“Hah, serius Sar? Ga tau deh aku. Emang kenapa dia ?.”, tanyaku kaget.

“Nah itu, aku juga ga tau. Denger-denger dari Savi sih dia lagi ada masalah. Cuma ga tau apa.”, jelas Sari.

Begitulah aku mendengar kabar tentang Athar. Beberapa hari sejak Sari bercerita tentang Athar, Athar semakin menjadi topik pembicaraan rutin antara aku, Sari, dan Aida. Hampir setiap hari aku menanyakan ke Sari tentang Athar. Tapi hasilnya sama saja, Sari tak banyak tahu tentang Athar. Dia hanya sedikit menceritakan yang dia tahu, itupun tahu dari Savi dan teman-temannya.

Semakin lama aku semakin penasaran apa alasan Athar tidak masuk kuliah. Akhirnya kuberanikan diri mengirimkan pesan Whats App (WA) kepadanya. Butuh waktu yang cukup lama untuk menanyakan nomor handphone Athar ke Sari, agar Sari tidak curiga dan berpikir yang tidak-tidak. Hanya saja pada akhirnya Sari tetap tersenyum meledek penuh curiga sambil memberikan nomor Athar.

“Hai Athar, ini Hana. Apa kabar?”. Send. Pesan pertamaku ke Athar.

Continue reading

Jarak – Berteman

Siapa sangka pertemuan pertama kami di KRL, menjadi pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya. Beberapa kali aku bertemu dengan Athar ketika menunggu kereta menuju ke rumah, walaupun tak selalu kami satu kereta. Terkadang aku berlarian mengejar  kereta yang dia naiki, atau sebaliknya dia datang saat kereta yang aku naiki berangkat. Menyebalkan memang jika aku terlambat beberapa menit saja dan ketinggalan kereta. Bukan karena tak bisa pulang bersama Athar tapi lebih karena harus menunggu kereta selanjutnya yang waktunya lumayan lama.

Seperti hari ini, aku bersama dengan temanku Aida berjalan menuju stasiun kampus. Aku sudah telat beberapa menit dari jadwal kereta yang biasanya.

“Han, ada Athar gak?”, tanya Aida sesampainya kami di stasiun. Aku memang sudah menceritakan semua kepada Aida tentang Athar. Selain teman sekelas, dia juga teman satu kost-an. Kemanapun aku pergi selalu ada dia. Dan dia sudah mulai terbiasa mendengarkan ocehanku setiap harinya, termasuk ocehan terbaruku tentang Athar. Aida pendengar yang baik, cocok denganku si pendongeng yang baik juga.

“Gak tau. Mungkin dia udah naik kereta sebelumnya.”, jawabku.

Continue reading

Jarak – Menyapa.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku mulai kuliah di kampusku. Sekarang sudah satu semester perkuliahan selesai. Jangan tanya bagaimana rasanya. Sepertinya aku masih harus belajar keras untuk menyusul ketertinggalan dengan temanku. Huft. Aku memang kurang menguasai dunia per-komputeran, mungkin karena aku belum menyukainya. Dulu aku berpikir bahwa hanya orang-orang “freak” yang mampu sepanjang hari memandang dan mengulik komputer.  Sedang aku sebenarnya lebih menyukai Kimia, saat masih SMA aku sangat suka mata pelajaran Kimia, melakukan percobaan di laboratorium,  mengerjakan soal-soal persamaan reaksi, struktur atom, dan banyak hal yang kusukai. Lalu kenapa aku tidak masuk ke Kimia? Ah, sudahlah terlalu panjang jika diceritakan.  Walau begitu aku sudah sangat bersyukur bisa kuliah disini. Aku akan mulai menyukai perkuliahanku, karena gak semua orang-orang dapat kesempatan untuk kuliah disini.

Hari ini saatnya aku pulang, aku ingin berlibur sejenak setelah menghadapi UAS. Biasanya aku pulang bersama teman SMA ku, naik mobilnya. Karena beberapa teman sudah selesai UAS dan sudah pulang duluan,  maka tak ada yang bisa ku tebengi. Aku pun memutuskan pulang menggunakan KRL. Ini bukan kali pertama aku naik KRL. Sebagai warga ibukota terkadang aku memilih  bepergian menggunakan KRL, selain hemat, menggunakan KRL lebih cepat dibandingkan harus macet-macetan naik busway.

Aku duduk menunggu kereta sambil membaca novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, karya penulis kesukaanku Tere Liye. Hari ini tidak banyak mahasiwa yang menunggu kereta, hanya beberapa yang aku lihat. Itupun aku tidak mengenal mereka. Mereka asik sendiri mendengarkan musik atau saling mengobrol.

Continue reading

Jarak – Mungkinkah Dia.

Disadari atau tidak, dirasakan atau tidak, sejatinya dalam kehidupan ini selalu ada pembatas, pembatas yang terkadang mendekatkan atau sebaliknya menjauhkan. Pembatas itu, aku menyebutnya “jarak”. Kali ini aku akan bercerita tentang jarak yang mengiringi kisahku dengannya. Tentang jarak yang semula mendekatkan kami berdua, dan yang perlahan menjauhkan.

Aku mengenalnya bukan kebetulan, aku mengenalnya karena orang tua kami sudah saling kenal jauh sebelum kami lahir. Orang tua kami mulai berteman sejak sama-sama diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Perusahaan tempat ayah bekerja merupakan perusahaan besar di Jakarta, mempunyai beberapa anak perusahaan yang juga semakin berkembang. Beberapa tahun setelah ayah bekerja, ayah dipindahkan ke sebuah anak perusahaan manufaktur mobil untuk menempati posisi baru. Begitupun teman ayah, dipindahkan di anak perusahaan yang bergerak di manufaktur sepeda motor. Mereka sama-sama memulai kembali karirnya, bedanya mereka tidak ditempat yang sama. Namun, ayah dan temannya masih sering bertemu sesekali jika ada meeting di Head Office dimana semua perwakilan dari anak perusahaan berkumpul di meeting itu.

***

Namaku Hana, saat ini aku baru lulus SMA. Aku diterima di Universitas Indonesia, jurusan Teknologi Komputer. Hari ini adalah hari pertama aku datang ke kampus. Perkuliahan memang masih dimulai satu minggu lagi, namun kali ini aku datang ke kampus untuk memindahkan barang-barang ke tempat kost. Walaupun jarak Jakarta – Depok tidak terlalu jauh, tapi aku memilih untuk menempati kostan dari pada pulang pergi Jakarta – Depok. Ibu pun menyuruhku mengekost, kata ibu aku harus latihan hidup mandiri.

Continue reading

Ungkapan yang Berbeda

Memang benar, kita tidak bisa menilai baik buruk seseorang hanya dari luarnya. Perlu mengenal dulu untuk tahu bagaimana orang tsb. Tidak boleh asal menilai hanya karena tampilan luar yang mungkin tidak seperti kebanyakan orang.

It has been 8 years sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Hal yang pertama kuingat darinya adalah, kami sama-sama lahir ditanggal 26 Juni 1992. Sejak saat itu kami saling memanggil satu sama lain dengan sebutan “Sodara”.

Dibandingkan 8 tahun yang lalu, tidak ada perubahan berarti darinya. Dia masih sama. Salah satu sahabat yang setia menjadi pendengar setiap keluh kesahku. Pendengar yang baik, mendengar tanpa menghakimi. Bahkan semenjak aku menikah. Aku lebih sering berdiskusi dengan dia. Tentang menjaga hubungan dengan suami, tentang ibadah, tentang keinginan berhijrah, dan banyak hal lain. Dia selalu bisa menenangkan hati, berkata bahwa kita hamba Allah, mendekatkan diri kepada Allah akan membuat hati lebih tenang. Baca Al Quran akan membuat rumah terasa nyaman.

Suatu hari aku pernah bercerita kepadanya tentang keinginan memakai gamis dan kerudung menutup dada. Aku bilang ini hijrah kecil-kecilan. Dia langsung menyambut bahagia keinginanku itu. Hari pertama aku pergi keluar memakai gamis, aku mengirimkan foto kepadanya. Lalu selang beberapa jam aku mengirimkan pesan lagi kepadanya “Aku lho, tadi dikatain kayak emak2 gegara pakai baju gini”. Kata dia, “Padahal cantik loh. Udah biarin aja, Itu karena mereka ga kebiasa aja lihat kamu begini. Yang penting kamunya nyaman”.

Continue reading