Jarak – Berpisah

Bangku di taman masih sama seperti saat pertama kali aku datang ke kampus ini bersama ayah dan ibu. Bedanya, hari ini tak banyak mahasiswa mengobrol atau sekedar duduk di taman menunggu jam kuliah. Gerimis sedari pagi membuat taman kampus basah berair dan sepi.

Aku suka hujan, hujan selalu datang membawa kembali cerita-cerita lama untuk dikenang. Mengingatnya kadang membuatku rindu, rindu tentang masa lalu, juga tentang perjuangan atas apa saja yang sudah diriku lakukan hingga aku bisa melanjutkan kuliah di kampusku yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

Tak terasa perkuliahan di kampus sudah hampir selesai. Tiga setengah tahun aku menghabiskan waktu disini, bertemu dengan orang-orang baru yang kemudian menjadi sahabat, belajar banyak hal dari yang awalnya terasa berat sampai akhirnya aku benar-benar menyukai semua yang ada disini.

Aku menyelesaikan kuliah lebih cepat dari seharusnya. Bukan karena aku pintar, aku hanya cukup beruntung bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Masih ada enam bulan lagi untuk menunggu waktu wisuda bersama teman-teman seangkatanku. Sambil menunggu waktu wisuda, aku kembali mencoba memanfaatkan waktuku dengan baik. Saat masih dalam perkuliahan, aku sempat mendaftarkan diri untuk mengikuti Student Exchange Program, dan tujuanku adalah universitas di Jerman. Akupun mendapatkannya, tiga minggu lagi aku akan terbang ke Jerman dan berada di sana sekitar enam bulan lamanya. Kesempatan langka yang akan aku gunakan semaksimal mungkin untuk mencari informasi tentang universitas dan program beasiswa yang ada di sana. Aku sangat ingin melanjutkan S2 di Jerman, dan ini seperti mimpi yang akan menjadi kenyataan.

Sambil menunggu tiga minggu itu datang, setelah selesai sidang skripsi, aku menghabiskan waktu di rumah, sesekali ke kampus untuk berjalan-jalan melihat setiap sudut yang pernah aku singgahi. Berkumpul bersama teman-teman seangkatan dan seperti saat ini, jajan di kantin bersama sahabat terbaik, Aida.

“Han, inget gak dua tempat yang paling sering kita datangin di kampus?”, kata Aida.

“Hmm. Kantin dan perpus kan?”, jawabku.

“Iya bener. Gak kerasa bentar lagi kita udah selesai kuliah ya. Kamu malah udah mau ke Jerman. Aku disini sendirian dong.”

Continue reading

My December

Sebelum memulai postingan tentang flashback 2018, aku ingin menuliskan cerita tentang Desemberku. Bagi sebagian orang, akhir tahun menjadi saat-saat yang ditunggu untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Entah itu sekedar berada di rumah berkumpul dengan keluarga ataupun pergi berlibur ke tempat-tempat wisata. Apalagi untuk karyawan swasta, moment akhir tahun menjadi hal yang sangat menyenangkan dengan adanya bonus akhir tahun dan banyak cuti bersama, jadilah saat yang tepat untuk melakukan refreshing setelah setahun penuh bekerja keras mengejar target.

Hal itu berlaku untuk sebagian orang. Sedangkan sebagian lain (aku), akhir tahun menjadi moment yang lebih sibuk dibandingkan bulan-bulan biasanya. Beberapa event penting pekerjaan harus diselesaikan di akhir tahun. Seperti tahun ini, ada banyak event di penghujung 2018 yang memaksa aku dan sebagian temanku untuk berhenti membayangkan liburan seperti yang orang lain lakukan. Beberapa event penting yang aku terlibat di dalamnya yaitu :

  • Proses Gaji dan HAT
  • Closing Akhir Tahun
  • Stock Opname
  • Go Live New HRMS Application

Keempat event itu menyita sebagian banyak hari-hariku di bulan Desember 2018. Sehingga beginilah perjalanan hari-hariku :

Tanggal 24 Desember 2018, sebagian besar teman kantor cuti. Sedangkan aku tetap di kantor sampai penghujung Desember 2018 untuk memastikan Aplikasi HRMS baru,  siap Go Live di bulan Januari 2019.

Continue reading

Jarak – Menjauh

Semenjak saat itu, ya semenjak Athar resmi jadian dengan Savi, ada beberapa hal yang akhirnya berubah dari hidupku. Pertama, aku tak lagi mempunyai teman pulang naik KRL. Athar lebih sering menghabiskan waktu dengan Savi di hari libur kuliah. Kedua, aku tak ada lagi teman yang setiap saat bisa mengantarkanku kemanapun aku inginkan.  Biasanya, dengan Athar aku hanya tinggal menelponnya dan dia akan langsung datang. Sekarang, saat ingin pergi kemanapun, hanya Aida teman paling setia menemaniku menyusuri perjalanan kota Depok. Kami berdua tidak ada yang membawa kendaraan pribadi, jadilah kami berkelana dengan bantuan transportasi umum. Aku mulai terbiasa dengan kondisi ini, toh ada Aida yang senasib denganku. Sama-sama enggan menjalin hubungan dengan cowok karena bukan prioritas, begitu menurut kami.

Aku perlahan mulai menjauh dari Athar. Aku memang kuat dalam bertahan, walaupun rasanya sedih kehilangan dia, namun aku bisa menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Terkadang aku ingin sesekali kembali mengobrol dengan dia, tapi aku tahu bahwa tak mungkin akan bisa seperti dulu. Sedangkan Athar, dia masih menganggap tidak perlu ada yang berubah antara kami. Dia masih sering mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku. Tentu dia masih membutuhkanku untuk mengurusi hal-hal kecil dihidupnya, seperti membantunya mengerjakan tugas-tugas kampus yang enggan dia kerjakan. Ya begitulah Athar, selalu saja menyusahkan. Dan dari sekian pesan WhatsApp nya, tak jarang dia mengirimkan pesan yang aneh, seperti malam ini.

“Han, aku lagi keluar sama Savi sampe jam 9. Jangan kirim WA ke aku dulu ya. Nanti aku WA kamu.”  Begitulah kira-kira pesan yang sering dia kirimkan ke aku. Mungkin baginya itu biasa saja, namun bagiku tidak.

Continue reading

Pop Up Form Using Bootstrap

Aku pernah nulis tentang membuat Pop Up form seperti yang ada di postingan PHP – Pop Up form untuk edit, delete, dan add. Ternyata lumayan banyak yang comment dan minta untuk dikirimkan scriptnya. Sampai sekarang juga masih ada beberapa yang comment disana.

Nah, di postingan ini aku mau ngasih tau bagi adek-adek yang mungkin baru belajar programming, bahwa ada cara baru yang lebih mudah untuk membuat Pop Up form yaitu menggunakan Bootstrap template.

Caranya, kalian tinggal download saja Bootstrap Template dari Google, banyak kok pilihannya dan itu free. Kalau kalian udah download, disana banyak banget contoh penggunaan bootstrap mulai dari Responsive Table, yaitu tabel dengan filter dan paging otomatis  langsung bisa dipakai jadi kalian ga perlu repot-repot lagi nyari cara buat bikin paging di tabel.

Selain itu, ada juga yang namanya “Modal”, nah “Modal” ini lah yang bisa kalian gunakan untuk membuat Pop Up form. Kalian gak perlu otak-atik jquery nya atau download jquery tertentu seperti yang aku lakukan di postingan ini. Kalian cukup panggil modal-nya aja sesuai dengan yang kalian inginkan.

Ini aku kasih contoh penggunaannya :

Continue reading

Jarak – Pernyataan Cinta.

Selama satu tahun kuliah, baik aku, Aida, mapun Sari masih sama-sama menyandang status jomblo. Aku lebih memilih mempunyai banyak teman dibandingkan berpacaran.  Aku hanya akan menjalin hubungan serius jika aku sudah siap berkomitmen.   Oleh karena itu setiap kali Sari dan Aida membahas  hubunganku dengan Athar, aku lebih suka menyebutnya sebagai hubungan persahabatan.  Dengan hubungan ini aku ingin menepis ucapan kebanyakan orang bahwa tidak ada seorang perempuan yang bisa bersahabat dengan laki-laki tanpa ada salah satu yang menyimpan rasa suka. Aku pikir, ucapan itu tidak berlaku untukku dan Athar. Kami sama-sama nyaman dengan hubungan persahabatan ini.

Namun tak kusangka sampailah aku pada titik yang membuatku menyadari sesuatu. Ternyata selama kami justru terkurung dalam istilah yang kami ciptakan sendiri yaitu “Sahabat”. Istilah yang awalnya menyenangkan namun pada akhirnya juga bisa membuat kami merasa kehilangan. Istilah yang tidak mempunyai kekuatan dalam hubungan kami. Istilah yang juga digunakan sebagai alasan pihak lain untuk menciptakan istilah baru yaitu “Cinta”.

Continue reading

Jarak – Mendekat.

“Han, tau gak Athar kemana? Udah semingguan dia ga masuk kuliah.”, tanya Sari.

“Hah, serius Sar? Ga tau deh aku. Emang kenapa dia ?.”, tanyaku kaget.

“Nah itu, aku juga ga tau. Denger-denger dari Savi sih dia lagi ada masalah. Cuma ga tau apa.”, jelas Sari.

Begitulah aku mendengar kabar tentang Athar. Beberapa hari sejak Sari bercerita tentang Athar, Athar semakin menjadi topik pembicaraan rutin antara aku, Sari, dan Aida. Hampir setiap hari aku menanyakan ke Sari tentang Athar. Tapi hasilnya sama saja, Sari tak banyak tahu tentang Athar. Dia hanya sedikit menceritakan yang dia tahu, itupun tahu dari Savi dan teman-temannya.

Semakin lama aku semakin penasaran apa alasan Athar tidak masuk kuliah. Akhirnya kuberanikan diri mengirimkan pesan Whats App (WA) kepadanya. Butuh waktu yang cukup lama untuk menanyakan nomor handphone Athar ke Sari, agar Sari tidak curiga dan berpikir yang tidak-tidak. Hanya saja pada akhirnya Sari tetap tersenyum meledek penuh curiga sambil memberikan nomor Athar.

“Hai Athar, ini Hana. Apa kabar?”. Send. Pesan pertamaku ke Athar.

Continue reading