Jarak – Berteman

Siapa sangka pertemuan pertama kami di KRL, menjadi pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya. Beberapa kali aku bertemu dengan Athar ketika menunggu kereta menuju ke rumah, walaupun tak selalu kami satu kereta. Terkadang aku berlarian mengejar  kereta yang dia naiki, atau sebaliknya dia datang saat kereta yang aku naiki berangkat. Menyebalkan memang jika aku terlambat beberapa menit saja dan ketinggalan kereta. Bukan karena tak bisa pulang bersama Athar tapi lebih karena harus menunggu kereta selanjutnya yang waktunya lumayan lama.

Seperti hari ini, aku bersama dengan temanku Aida berjalan menuju stasiun kampus. Aku sudah telat beberapa menit dari jadwal kereta yang biasanya.

“Han, ada Athar gak?”, tanya Aida sesampainya kami di stasiun. Aku memang sudah menceritakan semua kepada Aida tentang Athar. Selain teman sekelas, dia juga teman satu kost-an. Kemanapun aku pergi selalu ada dia. Dan dia sudah mulai terbiasa mendengarkan ocehanku setiap harinya, termasuk ocehan terbaruku tentang Athar. Aida pendengar yang baik, cocok denganku si pendongeng yang baik juga.

“Gak tau. Mungkin dia udah naik kereta sebelumnya.”, jawabku.

Continue reading

Advertisements

Jarak – Menyapa.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku mulai kuliah di kampusku. Sekarang sudah satu semester perkuliahan selesai. Jangan tanya bagaimana rasanya. Sepertinya aku masih harus belajar keras untuk menyusul ketertinggalan dengan temanku. Huft. Aku memang kurang menguasai dunia per-komputeran, mungkin karena aku belum menyukainya. Dulu aku berpikir bahwa hanya orang-orang “freak” yang mampu sepanjang hari memandang dan mengulik komputer.  Sedang aku sebenarnya lebih menyukai Kimia, saat masih SMA aku sangat suka mata pelajaran Kimia, melakukan percobaan di laboratorium,  mengerjakan soal-soal persamaan reaksi, struktur atom, dan banyak hal yang kusukai. Lalu kenapa aku tidak masuk ke Kimia? Ah, sudahlah terlalu panjang jika diceritakan.  Walau begitu aku sudah sangat bersyukur bisa kuliah disini. Aku akan mulai menyukai perkuliahanku, karena gak semua orang-orang dapat kesempatan untuk kuliah disini.

Hari ini saatnya aku pulang, aku ingin berlibur sejenak setelah menghadapi UAS. Biasanya aku pulang bersama teman SMA ku, naik mobilnya. Karena beberapa teman sudah selesai UAS dan sudah pulang duluan,  maka tak ada yang bisa ku tebengi. Aku pun memutuskan pulang menggunakan KRL. Ini bukan kali pertama aku naik KRL. Sebagai warga ibukota terkadang aku memilih  bepergian menggunakan KRL, selain hemat, menggunakan KRL lebih cepat dibandingkan harus macet-macetan naik busway.

Aku duduk menunggu kereta sambil membaca novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, karya penulis kesukaanku Tere Liye. Hari ini tidak banyak mahasiwa yang menunggu kereta, hanya beberapa yang aku lihat. Itupun aku tidak mengenal mereka. Mereka asik sendiri mendengarkan musik atau saling mengobrol.

Continue reading

Jarak – Mungkinkah Dia.

Disadari atau tidak, dirasakan atau tidak, sejatinya dalam kehidupan ini selalu ada pembatas, pembatas yang terkadang mendekatkan atau sebaliknya menjauhkan. Pembatas itu, aku menyebutnya “jarak”. Kali ini aku akan bercerita tentang jarak yang mengiringi kisahku dengannya. Tentang jarak yang semula mendekatkan kami berdua, dan yang perlahan menjauhkan.

Aku mengenalnya bukan kebetulan, aku mengenalnya karena orang tua kami sudah saling kenal jauh sebelum kami lahir. Orang tua kami mulai berteman sejak sama-sama diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Perusahaan tempat ayah bekerja merupakan perusahaan besar di Jakarta, mempunyai beberapa anak perusahaan yang juga semakin berkembang. Beberapa tahun setelah ayah bekerja, ayah dipindahkan ke sebuah anak perusahaan manufaktur mobil untuk menempati posisi baru. Begitupun teman ayah, dipindahkan di anak perusahaan yang bergerak di manufaktur sepeda motor. Mereka sama-sama memulai kembali karirnya, bedanya mereka tidak ditempat yang sama. Namun, ayah dan temannya masih sering bertemu sesekali jika ada meeting di Head Office dimana semua perwakilan dari anak perusahaan berkumpul di meeting itu.

***

Namaku Hana, saat ini aku baru lulus SMA. Aku diterima di Universitas Indonesia, jurusan Teknologi Komputer. Hari ini adalah hari pertama aku datang ke kampus. Perkuliahan memang masih dimulai satu minggu lagi, namun kali ini aku datang ke kampus untuk memindahkan barang-barang ke tempat kost. Walaupun jarak Jakarta – Depok tidak terlalu jauh, tapi aku memilih untuk menempati kostan dari pada pulang pergi Jakarta – Depok. Ibu pun menyuruhku mengekost, kata ibu aku harus latihan hidup mandiri.

Continue reading

Ungkapan yang Berbeda

Memang benar, kita tidak bisa menilai baik buruk seseorang hanya dari luarnya. Perlu mengenal dulu untuk tahu bagaimana orang tsb. Tidak boleh asal menilai hanya karena tampilan luar yang mungkin tidak seperti kebanyakan orang.

It has been 8 years sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Hal yang pertama kuingat darinya adalah, kami sama-sama lahir ditanggal 26 Juni 1992. Sejak saat itu kami saling memanggil satu sama lain dengan sebutan “Sodara”.

Dibandingkan 8 tahun yang lalu, tidak ada perubahan berarti darinya. Dia masih sama. Salah satu sahabat yang setia menjadi pendengar setiap keluh kesahku. Pendengar yang baik, mendengar tanpa menghakimi. Bahkan semenjak aku menikah. Aku lebih sering berdiskusi dengan dia. Tentang menjaga hubungan dengan suami, tentang ibadah, tentang keinginan berhijrah, dan banyak hal lain. Dia selalu bisa menenangkan hati, berkata bahwa kita hamba Allah, mendekatkan diri kepada Allah akan membuat hati lebih tenang. Baca Al Quran akan membuat rumah terasa nyaman.

Suatu hari aku pernah bercerita kepadanya tentang keinginan memakai gamis dan kerudung menutup dada. Aku bilang ini hijrah kecil-kecilan. Dia langsung menyambut bahagia keinginanku itu. Hari pertama aku pergi keluar memakai gamis, aku mengirimkan foto kepadanya. Lalu selang beberapa jam aku mengirimkan pesan lagi kepadanya “Aku lho, tadi dikatain kayak emak2 gegara pakai baju gini”. Kata dia, “Padahal cantik loh. Udah biarin aja, Itu karena mereka ga kebiasa aja lihat kamu begini. Yang penting kamunya nyaman”.

Continue reading

Piala Dunia dan Kakek

Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat pertandingan sepak bola. Kakekku semasa hidupnya menjadi ketua persatuan sepak bola di desa kami. Kakek sebagai pelatih, menyiapkan segala kebutuhan untuk pertandingan dengan dibantu anggota tim-nya. Setiap akan bertanding, semua pemain sepak bola berkumpul di rumahku, ganti baju, dan mengambil perlengkapan yang dibutuhkan yang semua perlengkapannya disimpan di rumahku. Kakek sangat totalitas dengan sepak bola. Dan aku sering diajak kakek melihat pertandingan sepak bola.

Setiap piala dunia, kami selalu menonton bersama jika ada tim kami yang bertanding. Kakek menjagokan Brazil. Aku? Karena tidak tau sejarahnya dan belum ada negara favorit dan karena di film Tsubasa sukanya sama Brazil. Maka aku ikut-ikutan menjagokan Brazil, sama seperti kakek.

Pernah saat Piala Dunia pas jaman aku SMA, aku dan kakek bersama menonton pertandingan Belanda vs Negara mana aku lupa. Nah disitu aku menjagokan Belanda, aku sampai memakai kaos orange untuk mendukung Belanda. Sedangkan kakek memakai kaos yang sama dengan lawan Belanda. Seru menonton bersama kakek.

Itu dulu. Sebelum semuanya berubah.

Continue reading

Cerita Rumah – 1

Sedari pertama merencanakan pernikahan, banyak hal yang harus kita pikirkan. Salah satunya adalah tempat tinggal. Sering kali kami mengobrol dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengambil rumah dengan sistem kredit seperti kebanyakan orang lakukan. “Lebih baik kita mengontrak”, kataku dengan tegas kepada suami. Diapun sependapat. “Riba”, mungkin kebanyakan orang akan berpikiran seperti itu ketika melihat keputusan kami untuk tidak kredit rumah. Namun sepertinya saya belum terlalu cukup ilmu untuk membahas tentang hukum riba. Bukan menyangkal, memang itu salah satu alasan kami kenapa memutuskan untuk tidak kredit rumah.  Namun alasan lain adalah, ketidak-biasa-an kami berdua dalam hal hutang. Apalagi jika kredit rumah hutangnya tidak hanya satu dua tahun melainkan belasan atau bahkan bisa sampai 25 tahun.  Aku tipe orang yang tidak tenang kalau ada hutang, aku selalu mencatat hutang-hutangku ke orang lain dan membayarnya walaupun telat dan kadang orang yang aku hutangi sudah terlanjur lupa. (jangan dicontoh ya teman-teman)

Nah juga, orang tuaku dan orang tua suamiku juga tidak setuju jika kita mengambil kredit rumah. Itu membuatku dan suami semakin yakin untuk hidup mengontrak setelah menikah. Kami saat itu yakin semua akan ada jalannya.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik. (HR Ahmad).”

Continue reading

Ensensi Bekerja

Bagiku, bekerja itu bukan hanya rutinitas sehari-hari. Bukan pula hanya untuk mendapatkan gaji rutin tiap bulan. Lebih dari itu, bekerja kujadikan salah satu tempat untuk memanfaatkan ilmu membantu orang lain. Aku bekerja sebagai staff IT di perusahaan swasta. Sehari-hari aku bertugas membuat aplikasi online untuk memudahkan orang-orang mengerjakan pekerjaan mereka. Walaupun tujuan akhirnya adalah penghematan biaya agar bisa menambah laba perusahaan, namun aku tidak memikirkan itu. Aku hanya berpikir untuk memanfaatkan ilmuku dengan baik.

Lalu apa semua orang sependapat denganku? Tentu saja TIDAK. Setiap orang akan punya tujuan masing-masing dalam bekerja. Dan itu terlihat dari bagaimana cara dia bekerja sehari-hari. Ada yang datang, duduk, langsung sibuk bekerja. Bahkan saking banyaknya pekerjaan, dia harus lembur setiap hari. Ada juga yang datang, duduk, bekerja seperlunya. Malah mungkin kebanyakan mengobrol dengan teman sekantor.

Rajin atau tidaknya seseorang bekerja, mungkin juga dipengaruhi oleh banyaknya tugas yang dia kerjakan. Nah, ada satu orang yang bertugas membagi-bagi pekerjaan, yaitu atasan. Sebagai atasan yang baik, sewajarnya membagi pekerjaan anak buahnya dengan adil. Bukan berat sebelah atau ringan sebelah. Sedangkan pada kenyataannya, ada beberapa atasan yang berat sebelah. Mungkin karena si A mempunyai kemampuan lebih, maka si A mempunyai beban yang lebih besar daripada si B. Mungkin juga karena hal-hal lain yang hanya atasan yang bersangkutan yang paham.

Continue reading