Menyerah atau Bertahan?

Banyak hal di dunia ini yang un-controllable oleh kita. Terkadang hal itu membuat diri kita merasa lelah, ingin menyerah tapi harus bertahan. Mungkin banyak orang pernah berada di situasi seperti ini. Misalnya, ingin berhenti bekerja karena hectic-nya pekerjaan yang semakin lama semakin mengganggu tatanan kehidupan pribadi. Tapi kalau berhenti bingung dengan cicilan-cicilan yang ada di depan mata, atau mungkin bingung untuk mengisi waktu sehari-hari karena belum punya anak. Bisa juga pengen berhenti dari pekerjaan yang gak sesuai dengan harapan diri sendiri, tapi kalau berhenti kerja lalu apa kabar kebutuhan sehari-hari, biasa makan di restoran, travelling around the world, skin care, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka pada akhirnya mereka memilih untuk bertahan.

Tak jarang pula yang berani mengambil resiko. Menyerah lalu pasrah sepasrah pasrahnya sambil terus berusaha membuka jalan lain dan yakin akan indah pada waktunya. Maka pada akhirnya mereka berhasil dengan pilihannya.

Un-controllable things itu merupakan suatu tantangan dalam hidup ini. Makin lama kita bertahan, makin mungkin juga semua itu berlalu. Atau bisa jadi sebagai pembuka jalan kita untuk mau bergerak mencari sesuatu yang baru yang lebih sesuai. Sesuatu hal yang aku pelajari dan aku buktikan adalah

“Menyerah atau bertahan, adalah suatu pilihan. Jika kita bergerak, semesta pun ikut bergerak”.

 

 

Senyawa – 1

Usiaku sudah lebih dari seperempat abad tahun ini. Namun aku masih belum tahu benar bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Dibandingkan orang lain, terkadang aku merasa kurang beruntung, tatkala mereka diusia yang mungkin dibawahku sudah bisa merasakan apa itu cinta. Bahkan banyak dari mereka yang sudah menemukan cinta sejatinya, memutuskan untuk mengikat cinta mereka dalam suatu ikatan suci, pernikahan.

Semenjak jaman mulai berubah, banyak orang yang memutuskan untuk “menikah muda”. Bagus memang, namun bagi orang-orang yang senasib denganku, fenomena ini mungkin tidak begitu menyenangkan, karena semakin banyak anak muda menikah, maka akan semakin banyak orang yang menanyakan tentang “keterlambatan”-ku menikah, walaupun bagiku tak pernah ada kata terlambat untuk menikah.

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Tidak semua orang beruntung bisa menyatukannya. Ada yang menikah tanpa saling mencintai. Namun ada pula yang mencintai tapi tak bisa bersatu dalam pernikahan. Sedangkan aku, tetap berharap mendapatkan keduanya. Menikah dengan orang yang memang aku cintai. Itu doaku yang selalu kuucapkan. Mungkin keterlambatan-ku menikah ini adalah salah satu cara Allah untuk menyimpan sebaik-baik laki-laki untukku kelak.

Dibalik keadaanku ini, aku masih bersyukur karena lahir di keluarga yang memiliki pemahaman yang selalu sama walaupun jaman sudah berubah. Bahwa, akan ada saatnya kita menikah tanpa perlu membandingkan dengan orang lain yang sudah lebih dahulu menikah. Juga mempunyai teman-teman yang satu nasib dan satu pandangan. Jadi, pada akhirnya aku berusaha untuk tidak menganggap kondisiku ini sebagai suatu ketidakberuntungan, melainkan memang semestinya seperti ini.

Aku pun mulai mengisi waktu-waktuku dengan kegiatan positif, mungkin banyak hal yang Allah titipkan kepadaku untuk aku selesaikan sebelum aku menikah.

***

Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku janjian bertemu di Kedai Kopi Tuli.  Salah satu sahabatku, Nisa mengundang kami. Aku sengaja berangkat lebih awal agar bisa bertemu dan mengobrol dengan temanku Diana yang bekerja di sana. Sesampainya di Kedai Kopi, aku duduk di bangku pojok dekat dengan jendela, tak lama kemudian Diana datang menghampiriku. Dia tersenyum menyapaku seperti biasanya yang dia lakukan ketika kami bertemu.

“Hai Ai-sha, la-ma tak ber-te-mu”, katanya.

Continue reading “Senyawa – 1”

Kembali

Beberapa minggu ini aku merasa aneh. Berawal dari hadirnya tamu yang sangat amat tidak kuharapkan. Saat itu aku mood-ku mulai berubah. Mendadak suka marah dan sedih. Meratapi nasib, dan terlalu sering pertanyaan “Kenapa” datang mengganggu pikiranku.

Aku menyerah, mulai menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Akhirnya aku pun mulai malas makan. Aku memaksakan diri pulang kampung hari Sabtu pagi dan Minggu sore kembali lagi ke Jakarta, tanpa suamiku ikut. Hari Senin, aku sampai di rumah sebelum subuh. Entah kenapa mendadak badanku terasa lemas. Aku enggan bangun untuk berangkat kerja. Tapi tetap kupaksakan, aku pun sengaja telat berangkat karena badanku terlalu lemas.

Hari Senin – Rabu aku bekerja dengan kondisi badan yang masih kurang fit. Aku memutuskan untuk minum obat Paracetamol dan Demacolin, berharap badanku semakin membaik. Beberapa saat memang membaik, tapi ternyata perkiraanku salah. Hari Rabu malam badanku kembali demam tinggi. Aku menyerah. Hari Kamis pagi aku diantar suami datang ke Klinik dekat rumah untuk periksa ke dokter. Badanku demam, tenggorokan sakit parah, batuk-batuk, juga semua badanku terasa capek.

Tidak seperti biasanya, hari ini dokternya telat datang. Sudah lebih dari 1 jam aku menunggu dokter yang tak kunjung datang. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Klinik lain. Alhamdulillah, hanya menunggu sekitar 10 menit aku pun sudah keluar dari ruang dokter. “Radang Tenggorokan”, begitulah kata dokter menjelaskan sakitku.

Hari Kamis – Jumat aku tidak masuk kerja. Sakit ini terus berlanjut kurang lebih 1 minggu baru aku benar-benar merasakan diriku yang dulu akhirnya kembali. Sebelumnya aku merasa seperti lemas dan tidak ada semangat. Pikiran kosong, enggan melakukan apapun, bahkan aku jarang mengobrol dengan suami. Aku hanya ingin tiduran di kasur dan diam tidak melakukan apapun.

Aku menyadari mungkin sakitku karena aku terlalu keras pada diri sendiri. Terlalu dalam merasakan kesedihan yang sebenarnya tidak perlu disedihkan.

Ketika badanku sudah agak mendingan, aku memutuskan untuk kembali bekerja. Berbeda dari sebelumnya,aku tetap masih kehilangan semangat. Aku tidak segiat biasanya. Aku seperti sedang marah dengan diriku, orang disekitarku, dan dengan keadaanku. Aku rasanya ingin menjauh. Toh buat apa aku dekat kalau tetap saja keadaan tidak berubah, pikirku.

Tetapi apa yang aku pikirkan itu benar-benar salah. Semakin aku menjauh, semakin pula  aku tak merasa tenang. Lalu, aku pun memutuskan untuk kembali. Memulai lagi.  Sejatinya untuk apa sih hidup ini jika bukan untuk beribadah. Dan jika  memang ini jalanku untuk mendapatkan pahala lebih dari orang lain, maka aku ikhlas.

***

Tulisan di atas ditulis saat Minggu pertama bulan Ramadhan. Selama bulan ramadhan aku merasa ibadahku kurang maksimal, karena semua itu. Sedangkan tulisan ini aku tulis di bulan Juli, dimana aku sudah benar-benar memutuskan untuk kembali. Kembali menjalani kehidupan dengan biasanya. Aku sadar, semakin aku marah dan menyalahkan keadaan, justru membuatku semakin tidak tenang. Sedangkan ketika aku kembali ikhlas menerima keadaan, aku akan merasa tenang karena Allah ada didekatku. Seberat apapun, aku yakin Allah akan selalu menguatkanku.

Ada satu permasalahan, namun ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Aku pernah menempuh satu jalan, dan mungkin aku harus mencoba jalan lain yang lebih baik.

“Aku baik-baik saja”, yang selalu aku katakan pada diri sendiri dan yang selalu aku perlihatkan ke orang lain tentangku. Namun, dibalik itu semua, aku memang selalu berusaha untuk itu.

Makan

Faktor utama yang menentukan enak tidaknya makanan bukanlah seberapa mahal/mewahnya makanan, tapi dengan siapa kita makan. Makanan sederhana murah meriah terasa begitu nikmat saat kita makan bersama keluarga, orang yang kita sayang, yang selalu kita harapkan kedatangannya. Sebaliknya, makanan restoran mahal bisa saja terasa biasa saja kalau makannya bersama orang yang juga biasa saja.

Maka tak heran orang Jawa berpedoman, makan gak makan yang penting kumpul. Karena kumpul bersama keluarga adalah hal yang paling berharga buat mereka. Itu dulu.Ya, sekarang kebanyakan orang Jawa sudah meninggalkan prinsip itu. Karena keadaan mereka pun memilih merantau ke berbagai tempat dengan berbagai alasan. Berpisah sementara dengan keluarga mereka di Jawa dan pulang hanya saat” tertentu. Itulah yang dinamakan jalan hidup, terkadang bisa sesuai keinginan kita terkadang tidak. Seperti aku, menjadi salah satu anak Jawa perantauan yang sudah tinggal lama di Jakarta. Walaupun sudah menikah dan tinggal bersama suami, tetap saja ada rasa rindu kampung halaman. Rindu daerah asal dengan segala yang ada di sana.

Terkadang merasa ingin kembali ke kampung halaman, sederhana saja, hanya ingin makan bareng keluarga, bercerita kejadian dikerjaan setiap harinya, bercanda, mengobrol, membantu orang tua, dan kegiatan lainnya yang bisa dilakukan seorang anak yang tinggal dekat dengan orang tuanya. Ingin pindah ke kampung halaman. Namun, lagi” ku ingat, setiap orang punya jalan hidupnya masing”, punya takdir kehidupan masing” yang harus dijalani oleh semua keluarga dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.

Continue reading “Makan”

Tamu dari Jepang

Sudah menjadi agenda rutin di kantorku jika ada beberapa orang dari Company Group yang datang berkunjung. Biasanya mereka berkunjung untuk melihat perkembangan proses manufaktur di pabrik kami. Semenjak satu tahun terakhir, semakin sering mereka berkunjung berkaitan dengan issue implementasi IoT di pabrik.

Perusahaan kami memang bukan yang pertama, namun kami mencoba mengimplementasikan IoT semaksimal mungkin. Berkat hasil kerja keras teman-teman di tahun 2017, perusahaan kami terkenal dengan IoT-nya di Company Group. Menjadi terkenal, bisa mendatangkan sesuatu yang positif dan negatif (aku melihatnya demikian). Sisi positifnya, nama baik perusahaan semakin dikenal di Company Group dan yang terpenting di Customer, sehingga meningkatkan kepercayaan customer untuk bekerjasama dengan perusahaan. Sedangkan sisi negatifnya, harus mempertahankan nama baik itu. Mempertahankan terkadang lebih susah karena di luar sana, banyak perusahaan-perusahaan di Company Group yang akan mencoba membuat IoT lebih bagus dari pada kita. Dan sebagai yang bisa dibilang lebih dulu mengimplementasikan IoT, perusahaan kita harus selalu melakukan improvement-improvement terbaru.

Continue reading “Tamu dari Jepang”

Jarak – Berpisah

Bangku di taman masih sama seperti saat pertama kali aku datang ke kampus ini bersama ayah dan ibu. Bedanya, hari ini tak banyak mahasiswa mengobrol atau sekedar duduk di taman menunggu jam kuliah. Gerimis sedari pagi membuat taman kampus basah berair dan sepi.

Aku suka hujan, hujan selalu datang membawa kembali cerita-cerita lama untuk dikenang. Mengingatnya kadang membuatku rindu, rindu tentang masa lalu, juga tentang perjuangan atas apa saja yang sudah diriku lakukan hingga aku bisa melanjutkan kuliah di kampusku yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

Tak terasa perkuliahan di kampus sudah hampir selesai. Tiga setengah tahun aku menghabiskan waktu disini, bertemu dengan orang-orang baru yang kemudian menjadi sahabat, belajar banyak hal dari yang awalnya terasa berat sampai akhirnya aku benar-benar menyukai semua yang ada disini.

Aku menyelesaikan kuliah lebih cepat dari seharusnya. Bukan karena aku pintar, aku hanya cukup beruntung bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Masih ada enam bulan lagi untuk menunggu waktu wisuda bersama teman-teman seangkatanku. Sambil menunggu waktu wisuda, aku kembali mencoba memanfaatkan waktuku dengan baik. Saat masih dalam perkuliahan, aku sempat mendaftarkan diri untuk mengikuti Student Exchange Program, dan tujuanku adalah universitas di Jerman. Akupun mendapatkannya, tiga minggu lagi aku akan terbang ke Jerman dan berada di sana sekitar enam bulan lamanya. Kesempatan langka yang akan aku gunakan semaksimal mungkin untuk mencari informasi tentang universitas dan program beasiswa yang ada di sana. Aku sangat ingin melanjutkan S2 di Jerman, dan ini seperti mimpi yang akan menjadi kenyataan.

Sambil menunggu tiga minggu itu datang, setelah selesai sidang skripsi, aku menghabiskan waktu di rumah, sesekali ke kampus untuk berjalan-jalan melihat setiap sudut yang pernah aku singgahi. Berkumpul bersama teman-teman seangkatan dan seperti saat ini, jajan di kantin bersama sahabat terbaik, Aida.

“Han, inget gak dua tempat yang paling sering kita datangin di kampus?”, kata Aida.

“Hmm. Kantin dan perpus kan?”, jawabku.

“Iya bener. Gak kerasa bentar lagi kita udah selesai kuliah ya. Kamu malah udah mau ke Jerman. Aku disini sendirian dong.”

Continue reading “Jarak – Berpisah”

My December

Sebelum memulai postingan tentang flashback 2018, aku ingin menuliskan cerita tentang Desemberku. Bagi sebagian orang, akhir tahun menjadi saat-saat yang ditunggu untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Entah itu sekedar berada di rumah berkumpul dengan keluarga ataupun pergi berlibur ke tempat-tempat wisata. Apalagi untuk karyawan swasta, moment akhir tahun menjadi hal yang sangat menyenangkan dengan adanya bonus akhir tahun dan banyak cuti bersama, jadilah saat yang tepat untuk melakukan refreshing setelah setahun penuh bekerja keras mengejar target.

Hal itu berlaku untuk sebagian orang. Sedangkan sebagian lain (aku), akhir tahun menjadi moment yang lebih sibuk dibandingkan bulan-bulan biasanya. Beberapa event penting pekerjaan harus diselesaikan di akhir tahun. Seperti tahun ini, ada banyak event di penghujung 2018 yang memaksa aku dan sebagian temanku untuk berhenti membayangkan liburan seperti yang orang lain lakukan. Beberapa event penting yang aku terlibat di dalamnya yaitu :

  • Proses Gaji dan HAT
  • Closing Akhir Tahun
  • Stock Opname
  • Go Live New HRMS Application

Keempat event itu menyita sebagian banyak hari-hariku di bulan Desember 2018. Sehingga beginilah perjalanan hari-hariku :

Tanggal 24 Desember 2018, sebagian besar teman kantor cuti. Sedangkan aku tetap di kantor sampai penghujung Desember 2018 untuk memastikan Aplikasi HRMS baru,  siap Go Live di bulan Januari 2019.

Continue reading “My December”

Jarak – Menjauh

Semenjak saat itu, ya semenjak Athar resmi jadian dengan Savi, ada beberapa hal yang akhirnya berubah dari hidupku. Pertama, aku tak lagi mempunyai teman pulang naik KRL. Athar lebih sering menghabiskan waktu dengan Savi di hari libur kuliah. Kedua, aku tak ada lagi teman yang setiap saat bisa mengantarkanku kemanapun aku inginkan.  Biasanya, dengan Athar aku hanya tinggal menelponnya dan dia akan langsung datang. Sekarang, saat ingin pergi kemanapun, hanya Aida teman paling setia menemaniku menyusuri perjalanan kota Depok. Kami berdua tidak ada yang membawa kendaraan pribadi, jadilah kami berkelana dengan bantuan transportasi umum. Aku mulai terbiasa dengan kondisi ini, toh ada Aida yang senasib denganku. Sama-sama enggan menjalin hubungan dengan cowok karena bukan prioritas, begitu menurut kami.

Aku perlahan mulai menjauh dari Athar. Aku memang kuat dalam bertahan, walaupun rasanya sedih kehilangan dia, namun aku bisa menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Terkadang aku ingin sesekali kembali mengobrol dengan dia, tapi aku tahu bahwa tak mungkin akan bisa seperti dulu. Sedangkan Athar, dia masih menganggap tidak perlu ada yang berubah antara kami. Dia masih sering mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku. Tentu dia masih membutuhkanku untuk mengurusi hal-hal kecil dihidupnya, seperti membantunya mengerjakan tugas-tugas kampus yang enggan dia kerjakan. Ya begitulah Athar, selalu saja menyusahkan. Dan dari sekian pesan WhatsApp nya, tak jarang dia mengirimkan pesan yang aneh, seperti malam ini.

“Han, aku lagi keluar sama Savi sampe jam 9. Jangan kirim WA ke aku dulu ya. Nanti aku WA kamu.”  Begitulah kira-kira pesan yang sering dia kirimkan ke aku. Mungkin baginya itu biasa saja, namun bagiku tidak.

Continue reading “Jarak – Menjauh”

Pop Up Form Using Bootstrap

Aku pernah nulis tentang membuat Pop Up form seperti yang ada di postingan PHP – Pop Up form untuk edit, delete, dan add. Ternyata lumayan banyak yang comment dan minta untuk dikirimkan scriptnya. Sampai sekarang juga masih ada beberapa yang comment disana.

Nah, di postingan ini aku mau ngasih tau bagi adek-adek yang mungkin baru belajar programming, bahwa ada cara baru yang lebih mudah untuk membuat Pop Up form yaitu menggunakan Bootstrap template.

Caranya, kalian tinggal download saja Bootstrap Template dari Google, banyak kok pilihannya dan itu free. Kalau kalian udah download, disana banyak banget contoh penggunaan bootstrap mulai dari Responsive Table, yaitu tabel dengan filter dan paging otomatis  langsung bisa dipakai jadi kalian ga perlu repot-repot lagi nyari cara buat bikin paging di tabel.

Selain itu, ada juga yang namanya “Modal”, nah “Modal” ini lah yang bisa kalian gunakan untuk membuat Pop Up form. Kalian gak perlu otak-atik jquery nya atau download jquery tertentu seperti yang aku lakukan di postingan ini. Kalian cukup panggil modal-nya aja sesuai dengan yang kalian inginkan.

Ini aku kasih contoh penggunaannya :

Continue reading “Pop Up Form Using Bootstrap”