Iseng-iseng

Pesan Ibu untuk Anaknya

My first essay..

Pesan Ibu untuk Anaknya

                Enam pulun enam tahun sudah usia Ibu Pertiwi.  Tahun ini, usianya pun bertambah lagi. Begitupun tahun-tahun selanjutnya, akan selalu bertambah satu setiap tahunnya. Usia menandakan tingkat kematangan. Enam puluh enam  tahun bukan usia yang muda, bukan juga usia yang tua. Enam puluh enam tahun menunjukkan betapa banyak hal yang telah dilewati. Deretan peristiwa dan kejadian yang telah ibu pertiwi alami, Berjuta perasaan yang mengikuti setiap kejadian tersebut.  Perasaan sedih melihat jerit tangis  anak bangsa, kecewa melihat derita anak bangsa.  Namun, perasaan lain juga muncul, perasaan senang ketika melihat canda tawa anak bangsa, rasa bangga melihat keberhasilan anak bangsa, dan rasa haru melihat anak bangsa mengibarkan merah putih di negeri lain.

Terlalu banyak cerita dalam  kehidupan ibu pertiwi. Berawal dari keberadaan ibu pertiwi sebagai salah satu  negara kepulauan terbesar di dunia. Ketika orang-orang barat menemukannya, hingga mereka yang berlomba-lomba datang untuk mencari hasil bumi yang begitu melimpah. Berlanjut ketika mereka mulai memindah tangankan ibu pertiwi, Mereka yang merasa memiliki hingga berhak memindah tangankan ibu pertiwi. Padahal sama sekali tidak. Ibu pertiwi bukan milik mereka, ibu pertiwi milik kita dan  anak cucu kita kelak.   Mungkin itulah satu kalimat yang membangunkan  kembali semangat anak bangsa untuk kembali memiliki ibu pertiwi seutuhnya, secara dejure maupun de facto. Akhirnya perjuangan pun berlangsung, ribuan nyawa dipertaruhkan, darah  mengalir disana sini. Hasil yang sepadan pun didapatkan, ketika dengan suara lantang salah satu anak bangsa mengumandangkan pernyataan kemerdekaan ibu pertiwi. Peristiwa itu yang sampai saat ini dan seterusnya akan dikenang sebagai hari lahirnya ibu pertiwi, pertama kalinya terlahir sebagai negara kesatuan. Ditandai dengan bersatunya semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, satunya cita-cita demi ibu pertiwi.

Ibu pertiwi pun senang, melihat anak bangsa satu tekad, satu tujuan untuk membangunnya.  Perasaan gembira ketika diperhatikan, apalagi semua perhatian tercurah kepadanya. Ibu pertiwi pun bangkit dengan cepat. Bahkan melesat cepat oleh prestasi anak bangsa. Namanya melambung di dunia oleh prestasi anak-anaknya. Hari-hari yang indah bagi ibu pertiwi. Hari yang mungkin sekarang sudah mulai hilang darinya dan membuatnya rindu.

Tutup sejenak masa lalu, biarkan masa lalu menjadi pengingat dan bahan pembelajaran. Belajarlah dari sejarah maka kesalahan masa lalu tidak akan terulang dimasa depan. Pertanyaannya, lalu bagaimana wajah  ibu pertiwi saat ini? Masihkah dia bahagia seperti dulu? Merasa tersanjung dengan perhatian anak bangsa yang begitu besar ? Merasa senang melihat anak bangsa yang bahu  membahu  memberikan yang terbaik untuknya? Atau justru ibu pertiwi merasa sedih? Merasa kecewa bahkan dikecewakan oleh anak-anak yang seharusnya dibanggakannya?

Setiap hari sorot kamera mengintai disetiap jengkal kehidupan ibu pertiwi. Tentang peristiwa-peristiwa yang dihadapi ibu pertiwi. Bukan suatu masalah yang besar jika ketika kamera itu merekam suatu kejadian yang membanggakan, misalnya keberhasilan anak bangsa merebut medali dalam olimpiade tingkat internasional. Namun berbeda jika yang disebarluaskan adalah berita tentang masalah-masalah ibu pertiwi saat ini. Bahkan ketika berita itu sampai ke belahan bumi lainnya akan membuat citra ibu pertiwi semakin buruk.

Tentulah semua orang akan tahu apa yang terjadi dalam kehidupan ibu pertiwi. Masalah utama yang menjadi momok adalah kesenjangan sosial yang begitu tinggi. Masalah ini menjadi akar dari segala bentuk masalah  lainnya. Kesenjangan sosial berarti terdapat suatu perbedaan yang begitu dalam antara satu pihak dengan pihak lain, hal ini mengakibatkan pihak yang berkuasa akan semakin berkuasa, dan pihak yang tertindas, selamanya akan tetap tertindas. Adalah suatu keadaan nyata ketika mendengar cerita bahwa ada seseorang yang terlalu kaya sehingga orang mengatakan bahwa hartanya tak kan habis sampai tujuh turunan. Sedangkan disisi lain terdapat puluhan keluarga yang hidup terlunta-lunta, tinggal beralaskan bumi dan beratapkan langit. Sungguh ironi bukan?

Melihat perbedaan kehidupan yang dialami anak-anaknya tentu membuat ibu pertiwi bersedih. Tidak kah mereka yang merasa lebih berkeinginan untuk membantu saudara mereka yang tak seberuntung mereka? Seharusnya itu bukan hanya sekedar keinginan, namun sebuah kewajiban yang harus mereka lakukan untuk saudara mereka. Namun, hal itu tidak berlaku untuk anak-anak ibu pertiwi. Mereka yang  beruntung mempunyai kehidupan yang lebih dari saudaranya justru mereka lah yang selalu merasa kurang. Merasa apa yang dimilikinya masih belum seberapa. Sehingga mereka berusaha sekuat tenaga, menghalalkan segala cara untuk memperbanyak isi kantongnya. Tidak kah mereka merasa malu jika mereka melihat senyum penuh harap seorang penjual keliling yang hanya bergantung pada nasib atas berapa banyak pundi-pundi yang ia dapatkan hari ini?

Beginilah keadaannya, setiap hari satu persatu anak bangsa tertangkap basah mencuri uang yang bukan haknya, uang milik ibu pertiwi, milik saudara-saudara mereka. Disaat saudara mereka hampir mati kelaparan mereka justru berdendang riang. Disaat saudara mereka memberikan kepercayaan  kepada mereka. Mereka justru menyalahgunakan kepercayaan itu. Mereka yang sedang berada di singgasana, berada di atas kekuasaan memang susah untuk dimengerti. Mereka seakan-akan menutup telinga dari segala suara saudara mereka.

Harta, kekuasaan, kejayaan memang sering membuat seseorang lalai. Seseorang yang awalnya baik pun bisa berubah menjadi tak terbayangkan. Memang susah menjaga suatu amanah disaat godaan selalu mengiringi setiap jalan. Namun bukan berarti menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan. Banyak orang yang berkeinginan untuk dapat berada di kursi atas, sebagai anak bangsa yang bisa memimpin ibu pertiwi. Semua orang berkesempatan. Namun hanya orang terpilihlah yang bisa mendapatkannya. Dan kepada orang-orang terpilih itulah kami, anak bangsa menggantungkan nasib kami dan nasib ibu pertiwi. Kami bangga menjadi anak ibu pertiwi, sangat bangga. Namun ibu pertiwi juga harus kita banggakan sebagaimana mestinya. Bukan malah menurunkan citranya dihadapan dunia.

Biarlah saat ini ibu pertiwi merasakan kesedihan. Hidup itu seperti roda, berputar, atas bawah. Sekarang mungkin belum saatnya ibu pertiwi berjaya. Namun suatu saat anak bangsa yang terpilih akan membuatnya bahagia. Seperti saat ini, disaat ibu pertiwi bergejolak dengan segala masalah yang ada. Masih ada anak bangsa yang berjuang, bekerja keras untuk membanggakan ibu pertiwi. Anak bangsa mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk suatu perlombaan atau yang sepele yaitu anak-anak kecil yang besemangat belajar karena yang mereka tau kewajiban mereka saat ini adalah belajar.

Ditengah keterpurukan ibu pertiwi, sebenarnya masih banyak anak bangsa yang bisa diandalkan. Mereka yang membanggakan ibu pertiwi. Mereka yang saat ini berada jauh dari tanah air dengan berbagai profesi bergengsi yang mengharumkan nama ibu pertiwi di dunia. Mereka meniti karir di negeri orang dan berhasil disana.  Bukankah mereka itu orang yang hebat? Mereka memang hebat. Sangat hebat. Namun, mungkin ada satu hal yang mereka lupakan, satu kata “ibu pertiwi”.

Apapun itu, bagaimanapun juga, ibu pertiwi akan tetap menyerahkan kepercayaan kepada anak bangsa untuk memajukan negeri ini. Akan tetap bangga dengan anak bangsa yang sudah berjuang mempertahankan dan memajukan ibu pertiwi. Mungkin, jika ibu pertiwi bisa, dia hanya ingin menitipkan sebuah pesan untuk anak cucunya kelak,

“Gapailah cita-cita setinggi-tingginya, jadikan masa muda sebagai ajang menambah pengalaman, jelajahi dunia anakku. Kibarkan merah putih dimanapun kau berada. Namun satu pesanku, Ingatlah ibu, ingatlah saudara-saudaramu.”

Pesan yang begitu sederhana dari seorang ibu kepada anaknya. Dari ibu pertiwi kepada anak bangsa. Namun begitu berarti, melihat kondisi ibu pertiwi yang masih perlu perbaikan diberbagai aspek, maka kontribusi anak bangsa tentu sangat diperlukan. Mari mulai saat ini, mulai dari diri sendiri berjuang untuk ibu pertiwi. Buat ibu pertiwi menangis, namun kali ini bukan tangis kesedihan melainkan sebuah tangisan bahagia, karena kita semua cinta, cinta Indonesia.

***

“ Ini adalah essai pertamaku yang aku ikutsertakan dalam lomba menulis essai. Lombanya itu lomba menulis essai mahasiswa Politeknik se-Indonesia dengan tema “Wajah Ibu Pertiwi”. Menjelang deadline pengiriman essai, aku terserang virus galau, karena minggu-minggu itu aku disibukkan dengan kegiatan kampus dan tugas kuliah yang begitu merajalela. Dan akhirnya, malam itu dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk menulis essai ini. Berjuang bersama teman sekamarku yang berhasil aku pengaruhi untuk menulis essai. Pengiriman essai ditutup jam 12 malam itu, sedangkan aku dan temanku mengirimkannya sekitar pukul 11. Sebenarnya sangat mendadak sih, dan mungkin tulisanku ini masih butuh dipoles. ( Kayak apa aja ya dipoles ?? ) Namun aku tetap berharap Sang juri-juri itu tersepona dengan tulisanku . . .

Dan akhirnya ketika saat pengumuman pun tiba.. ( saat itu aku dag dug dig banget ). Dan hasilnyaa… bukan hanya juara 3, juara 1 dan 2 pun tidak aku dapatkan.. ( sediihh) “ Tak apa lah, wajar kan baru pertama ngirim, buat pengalaman aja”. Kataku dalam hati. “OK, No problemo”. Setelah saat itu aku berkompromi dengan diriku sendiri untuk mencoba mengirim tuisan lagi dan menjadi juara.. Doakan yaaa ..

Karena ini blog baruku dan masih sepi maka untuk pertama kalinya aku bagikan essai pertamaku untuk kalian, kawan yang mungkin tidak sengaja mampir di blogku ini.. Just enjoy it.. Semoga bermanfaat, amin ..”

Advertisements

10 thoughts on “Pesan Ibu untuk Anaknya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s